lady  anggrek
lady anggrek Wiraswasta

Suka menulis, Jakarta, Blog: amaliacinnamon.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Jangan Ambil Suaraku

13 Januari 2019   05:10 Diperbarui: 13 Januari 2019   05:21 244 4 4
Cerpen | Jangan Ambil Suaraku
https://pixabay.com

Langkah kakinya tergopoh-gopoh, kedua tangannya membawa barang yang dipesan oleh Leo, Gerry dan Keenan. Snack dan beberapa minuman kaleng. Kacamatanya mulai berembun oleh keringat membasahi wajahnya. Ia berusaha mengejar waktu yang semakin sempit. Namun sepertinya lorong menuju kelas terasa sangat panjang dan jauh untuk dilewati. Seperti tak ada ujungnya. Bahkan kedua kaki  sudah sangat letih karena naik tangga. Kelas II-5 berada di lantai 2. Sungguh melelahkan harus melewati dua lantai dengan membawa barang begitu banyak.

Tanpa disadarinya ada seorang gadis yang parasnya ayu melihatnya dari jauh. Rambut hitam panjang sebahu dengan poni samping dan tingginya sepantaran cowok itu. Namanya Nabila. Kedua bola mata menatap lekat cowok itu, Richard Oh. Dia agak berbeda  Bahkan saat ia berjalan kurang manly. Culun terlihat dengan jelas! Setiap hari dia diperlakukan seperti itu. Hatinya terasa pilu. Ternyata kehidupan Richard tidak berbeda jauh dengan dirinya dahulu. Pada akhirnya bisa bertemu dengannya lagi. Setelah sekian lama Nabila mencari begitu lama. Seorang seperti dirinya. Seperti Richard Oh.

Terdengar teriakan dari dalam kelas. Tampak beberapa suara lelaki gaduh dan ribut. Ah, gadis itu penasaran. Ia berjalan mendekati kelas. Kedua matanya membelalak. Richard Oh jatuh tersungkur. bahkan kepalanya hampir saja membentur kaki meja. Namun tak banyak teman sekelas lain perduli dengan dirinya. Beberapa dari mereka hanya melirik diam-diam. Dan sebagian sibuk mengobrol dengan yang lain. "Dasar Richard cupu. Bagaimana, sih? Request sederhana saja tidak bisa dipenuhi." Teriak Keenan. Badannya yang besar dan tinggi. "Bukan minuman ini yang kuminta." Richard tahu apa yang diminta Keenan sudah sesuai dengan permintaannya.

Tangan kananya mengambil kertas dari dalam saku kemeja putih abu-abu. "Keenan, ini pesanan kalian semua. Apa lagi yang salah?" Diberikannya selembar kertas kepada mereka. Wajah Keenan marah. Memerah menahan malu karena gengsi. Sebenarnya ia niat mempermalukan cowok itu karena sesuatu. "Dasar, kamu berani main-main dengan gue?" Kedua tangannya menarik keran Richard dengan keras. Leo dan Gerry tak banyak berkata. Wajah mereka menunduk. Kedua bola mata mereka tidak ingin melihat apa yang terjadi. Mereka tahu Bapak Keenan salah satu sponsor utama di SMA Angkasa ini. Apa daya mereka yang kedua orang tuanya hanya buruh dan supir angkutan umum?  Dan lagi-lagi Richard Oh akan mengalami kejadian yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun sepertinya hari ini hari keberuntungan Richard.

"Selamat Siang, Anak-anak! Apakah kalian sudah selesaikan PR Fisika yang saya tugaskan minggu kemarin?" Ucap Pak Ridwan tiba-tiba langsung ke dalam kelas. Keenan melepaskan cengkeraman dari kerah cowok culun itu. "Ah, Sial. Ngapain guru itu datang lebih awal?" Batinnya kesal. Mulutnya cemberut. Richard segera duduk di bangku kelas. Empat deretan dari kursi belakang. Dia mempersiapkan buku pelajaran Fisika. "Hari ini adalah hari yang berbeda." Bisiknya. Senyum terlintas di wajahnya.

bookopi-1-cbcd837e5f114846c450842bfb1c2071-5c3a643612ae9477dc6d7b64.jpg
bookopi-1-cbcd837e5f114846c450842bfb1c2071-5c3a643612ae9477dc6d7b64.jpg
                                                                                                            sumber: https://www.idntimes.com/

Richard Oh memperhatikan senja pada sore hari kemerahan menanti pergantian matahari terbenam. Ia kenakan jaket merah Eiger sambil mengendarai sepeda menuju tempat favoritnya, Cafe Conan. Conan adalah serial komik dari Jepang detektif tentang seorang remaja SMA yang badannya mengecil karena terkena obat khusus. Kegiatan rutin Richard lakukan setiap hari Selasa dan Jumat. Hari ini adalah hari jumat, hari bahagianya bisa berkumpul dan melihat koleksi komik di sana.

Tidak hanya tersedia berbagai koleksi komik favoritnya. Di cafe itu juga menyediakan berbagai makanan ringan dan minuman kopi. Memang cafenya antik. Ah, akhirnya tiba juga! Dia sudah berdiri di bawah papan kayu tulisan Conan dengan lekukan gagang besi hitam. Yah, hari ini menyenangkan dan tidak sabar dengan segelas es kopi Espresso dan Siomay menanti. Tidak hanya itu saja setiap bertemu dengan Pak Antonius, sang pemilik cafe itu. Tubuhnya yang jangkung dengan kumisnya melintang. Dia ramah dan sopan setiap bersama dengannya. Namun yang ia tak sadari ada bayangan tubuh perempuan mengikutinya dari belakang. Membuat masa depannya berubah.

"Hai, Apa kabar?" Nada bicaranya lembut. Sapanya saat Richard mencari buku komik. Senyumnya bahkan  menggetarkan hati Richard. Pandangan mata yang teduh temani sambil memilih buku komik. Tak disangka kalau ia bisa bertemu malaikat secantik ini. Aduh, apakah imajinasi Richard berlebihan? Wajahnya memerah sambil menunduk malu. Untunglah kacamata itu menutupi sebagian wajahnya dari Nabila. Ada getaran berbeda yang dirasakan saat bersama Nabila. Keenan dan kroni-kroninya terus menyuruh Richard melakukan apa saja. Namun selama mengingat kebersamaan bersama gadis itu. Dengan kedua bola mata ramah dan meneduhkan setiap gelisah yang ia rasakan di sekolah. Akhirnya Richard memiliki keberanian lagi. Setelah waktu yang sangat lama.

Maka mereka berdua sering bertemu. Setiap sepulang sekolah ada yang Richard ceritakan kepada Nabila tentang komik. "Detektif Conan itu berbeda. Karena ia  meminum obat dipaksa oleh komunitas berbaju hitam. Maka tubuhnya mengecil dari cowok SMA berubah menjadi anak SD. Namun kepintarannya tidak ada yang berubah. Dia selalu bisa memecahkan setiap kasus pembunuhan. Dengan analisisnya yang tepat. Meski bersembunyi di balik tubuh Detektif Kogoro Mouri." Nabila simak mendengarkan apa yang di katakan oleh Richard. Senyumnya tersimpul sederhana.

 "Bahkan yang kudengar dari Pak Antonius, penggemar berat serial detektif Conan. Meski sudah sering pergi ke Jepang rasanya belum puas dengan komik-komik yang telah di baca selama ini." Ucapnya lagi. Tanpa Richard sadari ada yang memperhatikan dengan bingung. Pak Antonius berharap bisa saja cowok itu kelelahan karena beban sekolah zaman kini.

"Kamu tidak tahu selama ini?" Tanya sang pemilik Cafe, Antonius. "Apa maksudmu? Oh, tentang Nabila ya." Ucapnya balik. Dia memperhatikaan Nabila yang tak jauh berdiri darinya. Richard Oh tersenyum bahagia. Akhirnya ada yang memperhatikan hubungan mereka berdua selama beberapa minggu ini. Antonius, Seorang lelaki berumur sekitar empat puluh tahun dengan kumis melintang memperhatikannya seksama. Sudah lima tahun ia bekerja sebagai kasir dan pemilik Cafe ini dan melihat banyak kejadian janggal. Namun hal ini sungguh membuat dirinya bingung. Dia melihat dengan benar. Arah telunjuk cowok ini. Hanya kosong. Saat Richard menunjuk seseorang berdiri dekat rak buku. Sambil menanti pembayaran di kasir. Dahi Antonius mengkerut. Pria itu terdiam membisu. Berusaha memahami situasi yang aneh dan terjadi secara nyata.

"Kamu tidak sedang minum obat, bukan?" Tanyanya bingung. Beberapa menit kemudian sejumlah buku yang dipinjam Richard Oh jatuh ke lantai. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Antonius. "Apa mungkin terjadi? Bisa saja Bapak salah lihat." Kepalanya bolak-balik memperhatikan Nabila lalu memperhatikan raut muka serius Pak Antonius lagi. Namun bukan jawaban melegakan bagi Richard. Kedua matanya membelalak. Bulu-bulu di lengan berdiri dan merinding. Bahkan jantungnya hampir saja copot. Setelah itu dia langsung berlari menuju rumah terburu-buru. Selama perjalanan cowok itu berusaha mencerna kembali perkataan Pak Antonius. Tidak ada orang sama sekali.

"Hey, Richard anakku. Kamu sudah pulang?" Teriak Ibu dari dapur. Melihat Richard langsung berlari ke dalam kamar. Melewati Ibu begitu saja sambil berteriak, "Iya, Richard di kamar Ibu!" Brakk... Terburu-buru dia menutup pintu kamar. Dadanya terasa sesak. Kedua kakinya lemas setelah mengayuh sepeda dengan kencang. Ia berusaha mengatur napasnya tersengal-sengal. Richard berharap semua ini hanya mimpi. Namun senyum Nabila dan puisi yang dibuat saat bersama di sana terasa sangat nyata bagi Richard. Tunggu sebentar. Sepertinya puisi itu tak asing. Dia berpikir pasti ada sesuatu sambil berusaha berdiri. Tangan kanannya mengambil botol minum air putih tak jauh dari meja. Melegakan kerongkongan yang kering karena peristiwa mengejutkan.

Bahkan ia berusaha mengatur keresahan selimuti dadanya saat menyalakan laptop di atas meja.  Kalau tidak salah Keabadian judulnya. Puisi yang ditulis Nabila saat di Cafe Conan. Tangannya klik mouse  namun tidak ada.  Richard menghela napas. Ia bingung. Berpikir sebentar di depan komputer. Lalu menulis nama Nabila. Ternyata ada filenya.. Ia baca perlahan. Tak mungkin terjadi. Dia baca lagi kalimat demi kalimat secara perlahan.

"Inginku seribu tahun hidup lebih lama, Berbisik menari pada buku-buku lapuk di sana, 

Berlari menerjang menyusuri angan, Kutulis pada mega mendung terpatri khayalan!

Biarkanlah daku abadi pada larik-larik di dedaunan, Sajak senja menyusuri separuh diriku tersirat keinginan,

Biarkanlah daku menyusuri pepohonan rimbun, Seperti roh-roh syahdu meresapi keabadian.

Wajah Nabila tampak murung setelah menulis kata-kata itu. Ia berharap juga dapat meraih Keabadian. Waktu yang cukup lama untuk membuatnya masih berdiri dan miliki harapan.  Namun ternyata ia memilih cara yang lain. Melawan takdir Tuhan. Untuk menyerah dalam hidupnya." Richard kaget setelah membacanya. Ternyata Nabila adalah tokoh fiksi. Lalu ini semua tentang bully. Tentang keadaan dirinya saat menghadapi Keenan dan kroni-kroninya. Meski ia sudah terbiasa namun masih berusaha bertahan dari mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2