Mohon tunggu...
Usman Kusmana
Usman Kusmana Mohon Tunggu... Seorang Lelaki Biasa Dan Pegiat Sosial Politik

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali....

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Kepemimpinan Indonesia Pasca Jokowi, Prabowo kah?

21 Februari 2021   23:12 Diperbarui: 21 Februari 2021   23:44 51 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kepemimpinan Indonesia Pasca Jokowi, Prabowo kah?
sumber foto Kabar24-bisnis.com

Tahun 2024 Jokowi akan mengakhiri 2 periode kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Seorang Mantan Walikota berlatar belakang pengusaha meubeul yang kemudian menjadi Gubernur dan terpilih jadi presiden pada Pilpres 2014 dengan begitu dinamis dan dramatis. Dalam dua kontestasi Pilpresnya Jokowi berhasil mengungguli sosok Purnawirawan Militer berpangkat Letjen yang juga seorang pengusaha serta ketua umum partai Gerindra yaitu Prabowo Subianto

Berhasil tidaknya kepemimpinan Presiden Jokowi selama 2 periode hingga Oktober 2024 nanti, urusannya para ahli dan pengamat yang bisa mengukur angka pencapaian dengan berbagai indikatornya. Selain tentu saja yang akan menilai dan merasakan sepenuhnya adalah rakyat Indonesia sendiri, baik yang berada di Kota maupun di pelosok desa. 

Kita bisa berdebat hebat untuk mengukur dan menilai kinerja seorang pemimpin politik, apalagi di negeri ini selalu menyisakan "dendam" politik yang berkepanjangan antara para pendukung dan penentang masing-masing kandidatnya. Sampai-sampai mengkristalisasi dalam 2 kutub yang berlawanan secara vis a vis dalam penyebutan ma kelompok Cebong dan kampret (sekarang bergeser menjadi kadrun). Apalagi dengan fasilitasi dunia medsos yang semua orang secara bebas bisa berkomentar dan mengeluarkan pendapatnya. Meskipun karena tidak terkendali emosi, banyak juga yang terjerumus pada persoalan hukum karena terjerat UU ITE. 

Menuju tahun politik 2024 tentu bukanlah waktu yang lama, KPU RI sudah menyampaikan model simulasi pelaksanaan hajat politik Tahun 2024 tersebut dengan asumsi tidak akan dilakukan revisi terhadap Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada.  Berikut model simulasi menurut KPU RI  yang penulis baca dari pemberitaan Manadoterkini.com ;

1. Simulasi Pilpres

a. Masa jabatan presiden selesai 20 Oktober 2024.
b. Paslon terpilih harus sudah tersedia 14 hari sebelum masa jabatan selesai yakni 6 Oktober 2024.
c. Coblosan Maret 2024.
d. Antisipasi pilpres putaran kedua bila peserta pilpres lebih dari dua.
e. Tahapan dimulai 20 bulan sebelum coblosan yakni di Juli 2022.
f. Mempertimbangkan paslon terpilih sudah dapat terlibat dalam penyusunan program dan APBN 2025.

2. Simulasi Pileg

a. Penetapan Hasil Pemilu Nasional April 2024 (pengalaman pemilu 2019 Mei 2019).
b. Putusan MK sengketa hasil pileg Agustus 2024 (pengalaman pemilu 2019 Putusan MK Agustus 2019).
c. Hasil Pileg DPRD harus sinkron dengan tahapan pencalonan Pilkada Agustus 2024.
d. Coblosan Maret 2024.
e. Tahapan dimulai 20 bulan sebelum coblosan (Juli 2022).

3. Simulasi Pilkada

a. Coblosan November 2024.
b. Pencalonan Agustus 2024 harus sinkron dengan hasil Pileg DPRD 2024.
c. Tahapan Pilkada 11 bulan sebelum coblosan yakni dimulai Oktober 2023.

Jika sudah jelas model simulasi tersebut, tentu saja sekarang adalah yang paling menarik perhatian para elit parpol adalah mengenai pemetaan bandul koalisi parpol dan sosok yang akan diajukan dengan potensi kemenangan yang tentu saja lebih besar secara berbagai faktor perhitungan. Siapa Pemimpin Indonesia kedepan pasca Jokowi? Apakah Prabowo Subianto? ataukah sosok yang lain. 

Amatan penulis dari berbagai pemberitaan media yang saat ini muncul melalui release beberapa lembaga survei, ada beberapa nama yang mendapatkan prosentase tinggi dari aspek popularitas dan elektabilitas. Sebut saja Prabowo Subianto masih merajai berbagai survei, lalu disusul ada nama Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Tri Rismaharini, Khofifah Indar Parawansa, Agus Harimurti Yudhoyono dll. 

Jika trend survei ini dengan racikan strategi pasca bergabungnya Prabowo dengan koalisi pemerintah dapat di olah dengan tepat, tanpa menciptakan blunder, serta mampu meyakinkan publik bahwa keputusan strategis politis Prabowo dan Gerindra ini demi NKRI dan demi Bangsa serta rakyat Indonesia, maka tidaklah mustahil Bandul politik akan bergeser pada rezim politik Gerindra dengan Prabowo Subiantonya. SBY dengan Demokratnya berkuasa 10 tahun,  Jokowi dan PDIP berhasil memenangkan dan mempertahankan rezim pemerintahan selama 10 tahun, pasca Jokowi dan PDIP, apakah 10 Tahun kedepan Indonesia akan di pimpin oleh Prabowo Subianto dengan Gerindanya kah? Kita tunggu dan lihat saja ya...

VIDEO PILIHAN