Mohon tunggu...
Usman Kusmana
Usman Kusmana Mohon Tunggu... Seorang Lelaki Biasa Dan Pegiat Sosial Politik

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali....

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Membaca Peluang Ade Sugianto, Petahana Bupati Tasik Dari PDIP

15 Juni 2019   12:46 Diperbarui: 15 Juni 2019   12:51 0 0 0 Mohon Tunggu...

H Ade Sugianto adalah Bupati Tasikmalaya meneruskan sisa jabatan H Uu Ruzhanul Ulum yang naik jadi Wagub Jabar mendampingi Ridwan Kamil. Beliau juga menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Kabupaten Tasikmalaya. Selama 7,5 tahun beliau menjadi wakil bupati berpasangan dengan H uu. Kini periode kedua jabatannya akan berakhir pada Maret 2021. Dan Pilkada Kabupaten Tasikmalaya termasuk pada jadwal Pilkada serentak pada Bulan september 2020.

H Ade Sugianto dilantik menjadi Bupati meneruskan sisa jabatan 2016-2021 pada Bulan November 2018. Dan hingga kini posisi wakil bupati yang ditinggalkannya masih dibiarkan kosong. Tahapannya masih penyelesaian komunikasi antar partai pengusung koalisi UU-Ade dulu yaitu PDIP, PAN dan PKS. Mau di isi ataupun tidak sepenuhnya ada di kendali Bupati dan partai koalisi.

Menjelang perhelatan Pilkada 2020 yang akan datang, sosok Petahana tentu saja selalu menjadi perhatian, Apakah maju mencalonkan kembali? Lalu bagaimana peluangnya? Siapa lawan tanding terberatnya? bagaimana koalisi yang mengusungnya? paket calonnya dengan kekuatan partai apa dan siapa yang pantas mendampinginya?. Tentu saja setiap petahana akan menjaga dan mempertahankan posisi dan jabatannya. Agar menang dan tetap memegang tampuk kepemimpinan pada setiap jabatan publik yang di genggamnya.

Setiap Petahana di identikan dengan sosok kandidat yang memegang dan memiliki banyak sumber daya. Entah itu sumber daya dalam bentuk pengelolaan anggaran dan program melalui pelaksanaan APBD maupun sumber daya perangkat pemerintahan di level kabupaten, kecamatan hingga sampai RW RT. Punya banyak ruang dan kesempatan berinteraksi dengan rakyat melalui pelaksanaan tugas dan kegiatannya bertemu dengan rakyat. Sehingga Petahana selalu dianggap lawan terberat bagi kandidat non petahan yang mencoba maju. Karena petahana bisa melaksanakan konsolidasi politik dan bersosialisasi dengan menggunakan uang negara/uang rakyat melalui APBD. Istilahnya "Ngagoreng Daging Ku Gajihna"

Sebagai Petahana Bupati dari PDIP, H Ade Sugianto memiliki modal 6 kursi di DPRD, sementara syarat mencalonkan minimal 10 kursi. Maka otomatis memerlukan tambahan kursi dari teman koalisinya yang akan maju berpasangan dengannya. Sementara kekuatan partai yang lainnya masing-masing, Gerindra 9 kursi, PKB 8 kursi, Golkar 7 kursi, PPP 7 kursi, PAN 5 kursi, Demokrat 5 kursi, PKS 3 kursi. Sebagai syarat minimal, maka berkoalisi dengan satu partai saja sudah cukup menghantarkan pencalonannya. Tapi tentu saja belum menjamin peluang kemenangannya. Apalagi jika salah mengambil partner koalisi dan salah mengambil pendampingnya sebagai Cawabup nya.

Sosok H Ade Sugianto, memang merupakan politisi yang cerdas, matang dan berpengalaman panjang dalam lika-liku perjalanan politik di Kabupaten Tasikmalaya. Beliau sudah jatuh bangun merangkak dari bawah sebagai politisi murni. Sebagai Ketua DPC PDIP Membangun dan menjaga keajegan eksistensi partai dibawah kendalinya di Kabupaten Tasikmalaya, menjadi anggota DPRD, pernah jadi Ketua DPRD dan menjadi wakil Bupati 2 periode. 

Komunikasi politiknya memang teruji baik secara horizontal dengan sesama kekuatan partai politik lain maupun secara vertikal dengan elit politik regional dan nasional. Namun karena kecerdasan dan pengalamannya itulah dalam komunikasi kepemimpinannya di birokrasi terkesan personal power full nya muncul. Terkesan masuk terlalu detail dan memasang "pagar pertahanan" yang tinggi dan kokoh, yang dibaca sebagai curigaan dan gak percaya anak buahnya di birokrasi. Apalagi dengan gaya komunikasi bahasa verbalnya, perlu waktu untuk menyesuaikan dan menyambungkan suasana bathinnya. Agar maksud baik dengan bahasa verbal yang kurang baik bisa diterima dengan baik, setidaknya dimaklumi..hehe

Waktu 2 tahun terakhir dengan suasana kepemimpinan yang berbeda antara gaya Bupati Uu Ruzhan dan gaya Ade Sugianto tentu saja menjadi alat ukur penilaian baik di internal birokrasi, politisi maupun tokoh-tokoh formal maupun informal. Suasana kontroversi, pro kontra tentu saja sesuatu yang wajar akan kondisi plus minus karakter dan gaya kepemimpinannya. Kenapa saya menjelaskan ini, karena tentu saja pertama-tama ingin mengungkap dari sosok figur petahananya dulu. 

Dalam konteks peluang kedepan, H Ade Sugianto sebagai Petahana Bupati dari PDIP tentu saja dihadapkan pada situasi terkini dalam ruang psikologis politis sosiologis yang berdekatan dengan even Pileg dan Pilpres 2019 kemarin. Dimana ruang wacana publik di wilayah priangan timur ini begitu terpengaruh dengan semburan berita, informasi berbasis WAG dan medsos yang tidak menguntungkan PDIP. Sehingga kemarin dalam Pileg perolehan kursi PDIP hilang 2 kursi. meskipun perolehan suaranya berada di urutan Ketiga setelah Gerindra sebesar 184.000 an (9 kursi), PKB 140.000 an (8 kursi)lalu PDIP dengan angka sekitar 122.000 an  suara (6 kursi). sementara Golkar dan PPP masing masing 116.000 an (7 kursi) dan 111.000 an (7 kursi), PAN dan Demokrat PKS perolehan suaranya di bawah 100 rb.

Kabupaten Tasikmalaya memang identik dengan politik agamis, disebut daerah hijau. Meskipun anomali pileg menunjukan pemenangnya malah bukan partai berbasis agama. Tapi faktor ekor jas Prabowo sebagai capres menguntungkan Gerindra termasuk tsunami Tayo yang sedemikian massif. Masyarakat Religius tapi anomali dalam hal pilihan politik capres dan partainya. Itu karena fenomena hoax medsos berbalut agama dan dibungkus dengan semburan fragmatisme politik menjadi satu. Dan itu anomali yang nyata.

Sebagai Petahan Bupati dari PDIP, H Ade Sugianto harus betul-betul menjaga ritme dan gaya komunikasi kepemimpinannya di Birokrasi dan juga membangun komunikasi yang baik dengan kekuatan partai-partai sehingga tidak salah memilih partenr koalisi dan calon wakilnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x