Sanad
Sanad Mahasiswa/Pelajar

Penulis Cerita Pendek

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Kutukan Paling Mengerikan di Dunia

9 Mei 2018   10:22 Diperbarui: 10 Mei 2018   04:23 2205 3 2
Cerpen | Kutukan Paling Mengerikan di Dunia
sumber: www.arabianbusiness.com

"Sebelum mendengar cerita ini, sempatkanlah berdoa untuk kebaikan diri sendiri. Jika diakhir cerita anda mulai merasakan jari jemari anda kian memberat, kaki anda terasa kebas, dan tubuh anda serasa hilang kekuatan -biasanya ditandai dengan lemas- maka kutukan itu telah berpindah. Sebagaimana kami, tiada satupun yang bisa sembunyi dari hal mengerikan ini"    

Setelah cerita ini beredar --setidaknya sesudah kau mendengarnya. Berarti aku telah pergi jauh meninggalkan semacam ketakutan ditempatku saat ini berbicara padamu. Orang-orang itu --mereka yang tidak menyebutkan nama, kecuali selembar surat perintah, terus membuntuti keberadaanku. 

Kemarin lusa mereka menelisik tempatku bekerja, warung cukur rambut milik Cak Zainal. Dan, kau tahulah bagaimana takutnya Cak Zainal saat orang-orang dengan tubuh gempal itu masuk serupa robot ke dalam tempat itu (yang tidak lebih besar dari ruang keluarga milik seorang pekerja kelas menengah), lalu memberikan seraut tatapan penuh ancaman melalui sepasang sorot mata mereka.

Zaman memanglah telah berubah saudaraku, bung. Tapi sebagaimana kita tahu sejak awal, penjajahan manusia sebenarnya tidak pernah selesai sebelum kiamat tiba. Dan untuk itulah, sebelum aku kau temukan sebagai mayat --atau orang-orang dalam berita, atau suara telepon yang mengabari kematianku dan tidak lain itu adalah Cak Zainal- aku ingin menceritakan sesuatu yang selama ini menjadikanmu selalu mengejar dan mencari tahu tempat keberadaanku, tepatnya tempat persembunyianku.

/1/ SEBUAH SURAT DAN CERITA TENTANG NAHKODA TENGGANG.

Jika kau membuka catatan lama tentang Nahkoda Tenggang: sebuah legenda dari Malaysia --yang pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka. Di sana kau akan menemukan kisah yang sebenarnya mirip dengan cerita tentang ayahmu.

Ayahmu adalah seorang perantauan dimasa lalu. Ia menghabiskan banyak waktu dihidupnya untuk mengejar banyak ilmu. Dari ilmu agama, ilmu silat, ilmu bercocok tanam, ilmu bumi, bahkan ilmu santet dan teluh dan tak lupa guna-guna --pada saat itu belum ada ilmu menulis, dan meresensi buku, selain karena minimnya pendidikan menulis, juga karena kurangnya akses buku seperti sekarang ini. 

Perlu kusampaikan padamu, sebenarnya ia tidak serakus itu hingga harus memiliki segala ilmu yang kusebutkan tadi, ia hanya mencerap sedikit demi sedikit dari apa yang ia dapatkan dari orang-orang terdekat, para sepuh agama, dukun-dukun sakti, dan pemain perempuan. Dan semua itu disebabkan oleh hal yang sampai sekarang turun temurun juga berada didalam darahmu. Sebuah rasa penasaran.

Rasa penasaran itu kemudian menyeretnya hingga berlayar mengarungi dua selat yang berbeda. Selat Sulawesi, dan Selat Sunda.

Di hari yang tidak bisa ku ingat dengan jelas, karena dari informan-informan yang kadang-kadang bahkan harus sembunyi-sembunyi untuk bertemu, aku mendapatkan cerita lengkap tentang ayahmu --di Sulawesi, yang pernah sekali waktu meminta pada kakek-nenekmu yang juga tak pernah kau temui itu sebuah keinginan. 

Ia ingin keluar dari pulau Sulawesi, dan mencoba peruntungan baru ditempat baru, Jawa misalnya. Namun, keadaan sewaktu ayahmu mendapatkan keinginannya dengan kondisi keuangan kakek-nenekmu berbanding terbalik. Kakek-nenekmu tidak sanggup membiayai keberangkatan ayahmu ke Tanah Jawa, terlebih jika disandarkan alasan mereka pada kondisi negara yang saat itu sedang dalam cengkraman jepang --karena jepang menguasai hampir seluruh Tanah Jawa, atau sebenarnya bisa dibilang seluruhnya.

Tapi sebagaimana dirimu saudaraku, bung. Ayahmu adalah seorang perjaka yang keras kepala. Ia tidak putus asa, ia tidak ingin keinginannya menjadi penyakit yang kemudian merongrongnya dimasa depan. Atau sebenarnya ia memang tidak mungkin bisa putus asa, karena pada dasarnya ia selalu mendapatkan cara untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai didalam kepala dan hatinya.

Tidak seperti Nahkoda Tenggang yang pada satu kali tiba-tiba menemukan cara untuk merantau melalui sebuah kapal yang entah kenapa --atau barangkali sengaja- lewat didepannya. Ayahmu tersilaukan oleh sebuah perahu layar yang terparkir dibibir pantai dekat rumah kakek-nenekmu. 

Dengan perahu layar itulah ia akhirnya pada suatu subuh yang kurang ajar, kabur tanpa menyisahkan jejak --karena tak mungkin meninggalkan jejak perahu diatas air. Ia dan perahunya menghilang entah kemana hingga pada suatu saat, aku yang mengumpulkan artikel-artikel tentang kemaritiman menemukannya dalam sepotong koran dengan judul: Seseorangdjang terapoeng ditengah badai. Yang tahun terbit dan penulisnya telah buram termakan usia.

Aku yakin itu ayahmu, sangat yakin sebagaimana aku yakin nama dan margamu mengikuti namanya yang juga mengikuti nama kakekmu. Bukankah itu ciri khas orang-orang yang memiliki anak dikampungmu, memberikan nama-nama mereka dan ayah mereka dibelakang nama anak-anak mereka.

/2/ KUTUKAN PALING MENGERIKAN DI DUNIA.

Setelah membaca sepotong surat yang dikirim Yamin baru-baru ini, aku semakin sadar, usahaku untuk mengumpulkan bercak-bercak jejak yang bisa mempertemukanku dengan ayahku begitu terjal, dan berbatu tajam.

Ia mengakhiri tulisan disuratnya dengan kalimat-kalimat tidak menyenangkan. Intinya ia mengatakan saat ingin melanjutkan cerita itu, seseorang --entah siapa- menggedor-gedor pintu rumahnya dengan begitu keras. Tulisan tangannya pun teracak kesana kemari, serupa ingin mengatakan aku-sedang-dalam-bahaya. Aku berharap ia baik-baik saja.

Sesudah mengaduk teh, aku kemudian beranjak dari ruang kerjaku menuju beranda. Di sana, sering kuhabiskan berbatang-batang kretek hanya untuk menenangkan kepala dan jiwaku dari tekanan orang-orang terdekat untuk segera menemukan jejak ayah. Aku jadi teringat ibu, setidaknya ia yang sedang terbaring dirumah sakit kini bisa tenang menghembuskan nafas terakhir setelah mendengar kabar apa dan bagaimana ayah sekarang. Hidup dan mati bagiku sama saja, mungkin bagi ibu juga. Tapi lagi-lagi bukan itu yang diinginkan ibu, melainkan kepastian.

Lamat-lamat aku jadi berfikir buruk, apakah ayah menaburi jiwa dan fikiran ibu dengan guna-guna lantas untuk meregang nyawapun terasa begitu sukar dilakukan oleh malaikat pencabut nyawa. Dan apakah jika itu adalah sebuah kebenaran, pantaskah aku untuk membalas atau paling tidak membenci orang yang kini tidak pernah lagi ku ketahui keadaannya. Lalu apakah pencarianku ini hanyalah percikan-percikan dendam yang tertabur dinadiku sejak kesakitan ibu dua belas tahun silam, bukan sebagai cerminan seorang anak lelaki yang rindu pada kewibawaan seorang ayah.

Aku lalu menengadah ke arah dimana sebuah rumah sakit sedang dibangun didekat komplek perumahan. Seorang kakek tua terlihat sedang memanggul sekarung batu yang bakal disusun sebagai fondasi bangunan itu. 

Gambaranku tentang sosok ayah semakin menjadi-jadi, membentuk semacam gumpalan keras didadaku, apakah ayahku sedang merasakan hal yang sama seperti kakek tua yang memanggul karung itu, setidaknya terseok memanggul beban hidup. Kakek tua itu kemudian ku lihat memutari jarak dari tempat ia melabur batu ke arah seorang mandor yang siap membagi uang pada pekerja paruh waktu disana, langkahnya tertatih ditambah punggungnya yang membungkuk serupa udang. 

Hatiku semakin teriris kala ku lihat kakek tua itu mendapat semacam bentakan atau mungkin caci maki dari mandor yang membagikan uang. Aku memang tidak bisa mendengar segala apa yang mereka bicarakan, atau tepatnya apa yang mandor itu katakan. Karena kakek tua itu hanya tertunduk lesu, wajahnya sendu seperti menegaskan sebuah penyesalan 'kenapa manusia harus menjadi tua'. 

Aku geram, sebatang kretek yang belum habis separuh kupatahkan didalam asbak. Asapnya menyembur keluar selaras dengan deru nafasku yang ingin mengeluarkan api.

Ku bayangkan kakek tua tadi harus menghidupi keluarganya, atau setidaknya seorang istri. Dan karena cinta, atau kesetiaannya, ia bahkan rela --atau barangkali terpaksa- harus memanggul beban yang barangkali tidak lagi pantas dipanggulnya dipenghujung kehidupan.

Aku kemudian beralih menuju ke ruang kerja. Aku tidak sanggup lagi bertahan lebih lama lagi diberanda. Bayang-bayang kakek tua tadi mengikutiku hingga ke draft buku-buku yang segera ku terbitkan. Semua penderitaan itu terlalu dekat, terlalu sehari-hari untukku, tapi kenapa aku sampai sekarang tidak bisa mengejawantahkannya dalam sebuah kata. Apa karena aku tidak sanggup jika kemudian menulis lantas yang terbayangkan olehku sosok kakek tua tadi berubah menjadi ayahku, atau lebih buruk, ia pada akhirnya sebenarnya ayahku.

Aku kemudian membuka laptop, membuka lembar kerja baru, dan mulai menulis sesuatu disana. Kutukan paling mengerikan didunia ialah menjadi batu sekarung, yang dipanggul seorang kakek tua.

/3/ SEBUAH BATU.

Hari ini kami sekeluarga kembali berduka. Ibu berpulang keharibaan-Nya setelah dua belas tahun menjalani kehidupan dalam gilasan roda penyakit. Semuanya berkumpul untuk prosesi pemakaman ibu, kecuali Bang Adi, suamiku. Sebagai anak tertua ia tidak hadir untuk menyolatkan dan bahkan menghantar jenazah ibu hingga liang lahat. 

Sementara itu, tamu undangan telah berkumpul diluar rumah. Ada yang membentuk semacam lingkaran dengan lima atau enam orang yang barangkali membicarakan perihal kematian yang tidak mungkin terhindar oleh apapun dan siapapun. 

Mereka ini terdiri dari beberapa orang tua yang telah uzur, rata-rata telah memiliki cucu dan salah satunya sudah punya cicit. Sementara itu dibagian lain, ada sekumpulan anak muda dalam percandaan yang hampir tiada henti-hentinya. Mereka saling menawarkan rokok pada satu dan banyak orang diantara mereka, sebelum akhirnya tenggelam dalam paduan tawa yang senada. 

Mereka ini, anak-anak muda yang belum merasa kehilangan, atau setidaknya belum memiliki rasa khawatir jika meninggalkan dunia dengan beban satu atau dua orang anak yang masih belia. Atau barangkali juga mereka telah merasakannya, mungkin salah satu diantara mereka tengah gaduh hati karena memikirkan ibu dan bapaknya, atau sanak saudaranya tengah dirongrong kematian, lantas tak bisa berbuat apa-apa kecuali tertawa dan tertawa.

Aku jadi teringat dengan cerita-cerita yang selalu ditawarkan Bang Adi sebelum kami terlelap dalam peraduan. Ia berkata bahwa seseorang diluar sana yang tidak ku kenali, bernama Yamin, tengah membantunya mengumpulkan jejak demi jejak keberadaan ayah mertuaku saat ini. 

Aku sah-sah saja, sebagai seorang anak juga sekaligus ayah bagi anak-anak kami, ia tak ingin apa yang menimpanya juga bakal menimpa diriku dan anak-anak. Sebab itulah ia sangat bersikeras untuk terakhir kalinya berusaha membahagiakan almarhum ibu. Setidaknya, untuk anakku yang sulung 'Edgar' dapat memahami bahwa surga dan kebahagiaan benar-benar terletak ditelapak kaki dan senyum seorang ibu.

Hingga suatu kali dimasa-masa sekarat ibu, Bang Edi mendapatkan sebuah surat yang berisi semacam karangan, atau pesan dari seseorang yang bernama Yamin. Ayah tidak kemana-mana, maksudku, ia tidak hidup dan tidak pula telah mati. Menurut surat yang dibaca Bang Edi itu, ayah mertuaku telah menjadi batu semasa Bang Edi masih remaja. 

Sebuah penelitian arkeologi, menyatakan sebuah batu yang terletak dipesisir pulau jawa benar-benar adalah batu hasil dari sebuah azab atau kutukan. Dan entahlah apa selanjutnya yang telah dibaca oleh Bang Edi. Katanya batu yang diteliti itu benar-benar ayah mertua. Bentuknya memang tidak sedang menyembah, melainkan sedang bersila dengan posisi lengan kanannya menahan dagu, dan itu memang adalah ciri khas ayah.

Dan akhirnya Bang Edi jadi sering menghabiskan waktu diberanda sendirian. Suatu kali ia pernah berkata: Aku tidak tahu harus membenci yang mana, kakek tua yang memanggul batu yang telah ia pecah menjadi seukuran batu-bata, ataukah ayahku yang jadi batu.

Entahlah, sampai hari ini seseorang yang namanya Yamin itu belum lagi membalas surat konfirmasi dari Bang Edi soal kebenaran penelitian itu. Menurut informasi, dan berita ditelevisi, seseorang bernama Muhammad Yamin telah dipenjara karena menjadi ujung tombak pergerakan buruh dimasa-masa menjelang reformasi.

Sedentum bunyi terdengar dari ruang kerjanya dilantai dua. Aku yang panik barangkali telah terjadi sesuatu, cepat-cepat menengoknya disana. Dan setelah pintu ku buka dengan paksa, tak ada lagi yang kutemukan. Bang Adi telah tiada, hanya ada sebongkah batu dengan posisi duduk sambil menyudut kretek dibibirnya.

Tiba-tiba dunia jadi gelap.     


[Maret 2018 -- Jogja]