Mohon tunggu...
kurnia zuni
kurnia zuni Mohon Tunggu... i

haksgsuna

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Kejelasan Halal atau Halal Bank Syariah

12 Juni 2019   10:16 Diperbarui: 12 Juni 2019   10:19 0 0 0 Mohon Tunggu...

TUGAS ARTIKEL
AKUNTANSI SYARIAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Disusun Oleh :
1.Kurnia Zuni Astuti (31401606445)
2.Lisya Rachma  P.(31401606452)
Dosen pengampu :
Drs. Osmad Muthaher, M.Si
Fakultas Ekonomi S1 Akuntansi
Universitas Islam Sultan Agung, Semarang

Kejelasan Haram Atau Halal, Bank Syariah Dan Bank Konvensional
Bank Syariah di Indonesia memiliki sejumlah produk yang dijamin oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) telah mengikuti dan sesuai dengan aturan syariah Islam. Produk-produk tersebut umumya memakai istilah-istilah yang telah ada dan eksis disebut dalam Bab Muamalah dalam literatur kitab klasik (kitab kuning) fikih klasik. Walaupun ada juga sebagian praktiknya mengikuti prosedur muamalah modern.
Ada dua pendapat di kalangan ulama di Indonesia tentang apakah bank syariah dan BMT (Baitul Mal wat Tamwil) sudah sesuai dengan syariah atau tidak. Pertama, pendapat yang lebih berhati-hati menyatakan bahwa pada praktiknya Bank dan BMT Syariah tidak berbeda dengan bank konvensional. Dalam arti, sama-sama mengandung unsur riba. Salah satu contoh kesamaan itu adalah adanya keuntungan bersama yang sudah ditentukan sebelumnya yang tidak ada bedanya dengan bunga bank konvensional. Padahal bagi hasil yang sesuai syariah itu tidak boleh ditentukan sebelumnya.

Pendapat kedua menyatakan sudah sesuai dengan syariah dengan berpedoman pada pendapat Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI (fatwa-fatwa DSN MUI. DSN adalah lembaga MUI yang punya otoritas memberikan label apakah suatu bank syariah memenuhi syarat untuk disebut Syariah atau tidak.

Dalam konteks ini, maka kalau ikut pendapat pertama berarti bank syariah termasuk riba karena sama dengan bank konvensional. Sedangkan menurut pendapat kedua, tidak termasuk riba. Pendapat kedua ini juga didukung oleh Syekh Nuh Ali Salman, mufti Kerajaan Yordania. Menurut Syekh Nuh, Bank Syariah jelas lebih baik dari bank konvensional karena secara filosofis mereka ingin menerapkan syariah Islam dan itu terbukti dengan adanya fakta bahwa di setiap bank syariah ada pengawas syariah yang akan mengingatkan pihak bank kalau ada pelanggaran syariah. Dalam Fatawa Al-Muamalah, fatwa no. 12 ia menyatakan:
. .
.
Artinya: Bank Islam adalah perusahaan bisnis yang operasionalnya terikat dengan hukum syariah Islam. Ini aturan yang dibuat pihak bank. Pihak bank juga siap untuk mendengarkan nasihat ahli tentang produk bisnis mereka apabila ada yang melanggar syariah. Oleh karena itu, maka bank Islam jelas lebih baik dibanding berbisnis dengan bank konvensional yang jelas mengandung riba. Namun, orang yang berhati-hati pada agama hendaknya bertanya pada ahli fikih atas setiap produk jasa yang ditawarkan bank syariah apabila hendak bertransaksi dengan setiap bank syariah sehingga tidak terjatuh pada perbuatan haram. Boleh menyimpan uang di bank syariah dengan cara akad musyarokah (join venture) dan boleh memakan keuntungan yang diberikan bank karena keuntungan bisnis bukanlah keuntungan riba.
 Bank konvensional pasti riba khususnya produk kreditnya, walaupun ada pendapat minoritas yang menyatakan sebaliknya.

Adapun Bekerja di Bank Syariah status gajinya adalah terkandung keyakinan anda atas pendapat yang mana di antara dua pendapat di atas. Anda boleh mengikuti pendapat yang kedua (tidak riba) dan apabila demikian maka gajinya halal dan baik (toyyiba).

Perbankan walaupun belum menjangkau ke seluruh pelosok masyarakat, namun hampir sebagian besar masyarakat terutama masyarakat perkotaan tahu dan menjadi bagian dari bank, baik sebagai nasabah simpanan maupun sebagai nasabah pinjaman atau keduanya.

Jika dahulu di Indonesia hanya ada bank yang berbisnis dengan suku bunga atau yang biasa disebut dengan bank konvensional, sejak tahun 1992 masyarakat diberikan pilihan untuk memilih bank yang menggunakan prinsip syariah yang tentunya bebas dari suku bunga atau riba.

Sejak munculnya bank syariah pertama hingga sekarang ini, bank syariah di Indonesia telah hadir melayani masyarakat selama 25 tahun. Masa 25 tahun tidak dapat dikatakan singkat, walaupun memang belum selama bank konvensional. Jika diibaratkan manusia, usia 25 tahun adalah usia di mana dimulainya jalan menuju kesuksesan.

Namun apa yang terjadi dengan bank syariah kita saat ini? Selama 25 tahun kiprah bank syariah di Indonesia, baru menguasai 5,13% pangsa pasar perbankan Indonesia (statistik perbankan syariah Januari 2017, OJK).

Mengapa seperti ini?
Padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Apa yang membuat muslim di Indonesia belum tertarik untuk bermitra dengan bank syariah? Jika kita mengetahui bahwa riba itu haram mengapa masih banyak yang tetap memilih bank konvensional dibandingkan dengan bank syariah?

Jika dilihat dari persepsi masyarakat tentang Bank Syariah, masih banyak terdapat persepsi negatif yang menyebabkan masyarakat enggan ke Bank Syariah. Minimnya informasi yang didapatkan seperti apa sebenarnya bisnis Bank Syariah turut andil dalam membentuk persepsi tersebut. Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa bank konvensional telah didukung dengan teknologi informasi yang canggih sehingga pelayanan terhadap nasabah lebih cepat.

Ada juga yang beranggapan bahwa Bank Konvensional memberikan  kemudahan dan kantor layanan tersebar di seluruh pelosok sedangkan bank syariah jumlahnya masih sedikit, sehingga akan menyulitkan jika harus bertransaksi baik melalui bank langsung maupun melalui ATM. Alasan-alasan tersebut dapat dibenarkan pada masa beberapa tahun yang lalu, tetapi sekarang Bank Syariah terus berbenah dan berusaha untuk memberikan kemudahan dan pelayanan yang sama bahkan ada yang dapat melebihi bank konvensional.

Di samping pelayanan dan kemudahan, ada juga yang beranggapan jika menabung di bank syariah tidak mendapatkan bunga, lalu apa yang didapat? Sementara nasabah yang menabung ingin mendapatkan hasil dari tabungannya tersebut. Selain itu, kurangnya variasi produk yang ditawarkan juga menjadi salah satu penyebab.
Kesalahpahaman terhadap Bank Syariah membuktikan bahwa sosialisasi tentang perbankan syariah belum menyentuh semua lapisan. 

Masih banyak masyarakat yang tidak mengerti dan tidak mencari tau seperti apa sebenarnya Bank Syariah. Karena tidak ketidaktahuannya, masyarakat lebih memilih Bank Konvensional. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Bank Syariah maupun otoritas terkait untuk semakin gencar mensosialisasikan secara merata bagaimana Bank Syariah itu sebenarnya.

Sosialisasi yang dilakukan ke masyarakat harus mampu membuka mata masyarakat bahwa dalam memilih Bank pun kita harus mempertimbangkan aspek kesyariahannya. Selain dengan adanya sosialisasi yang intensif, Bank Syariah juga harus giat dalam inovasi produk perbankan yang ditawarkan. Bank Syariah seharusnya menjadi solusi dalam hal keuangan khususnya bagi mayoritas muslim di Indonesia.

Jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, seharusnya mampu berperan dalam memajukan Bank Syariah. Jika sampai saat ini kita masih ragu untuk berbank dengan Bank Syariah karena alasan pelayanan, fasilitas dan lain sebagainya, jangan ragu untuk memulai.

Cobalah kunjungi kembali Bank Syariah!

Bank Syariah sekarang sudah jauh lebih maju, dari sisi pelayanan sudah mampu bersaing dengan yang ada di Bank Konvensional. Satu hal yang tidak akan didapati dari Bank Konvensional adalah rasa ketenangan batin, rasa ketenangan karena kita berbisnis dengan bank yang bebas dari riba.