Mohon tunggu...
Kurnia Sari
Kurnia Sari Mohon Tunggu... Penuntut Ilmu

Pencinta ilmu yang semoga istikamah untuk terus belajar hingga akhir hayat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cilincing yang Tak Lagi Bening

28 Mei 2021   10:51 Diperbarui: 28 Mei 2021   11:19 338 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cilincing yang Tak Lagi Bening
Sumber: www.pinterest.com

      Setiap tempat yang kita singgahi walaupun sesaat pasti memiliki keistimewaannya masing-masing. Ada cerita yang menarik untuk disimak. Namun, sejauh apa pun kita pergi dan ke mana saja kita menepi, kampung halaman selalu di hati, jadi tempat kembali yang tiada terganti. Begitu juga dengan kampung halamanku ini, tempat aku lahir dan dibesarkan. Kini, wajahnya tak lagi sama, banyak hal yang telah berubah seiring perkembangan zaman.

      Kodya Jakarta Utara terdiri dari enam kecamatan, salah satunya tempat aku bermukim sekarang. Cilincing namanya, mungkin nama yang tidak asing lagi  bagi sebagian orang yang terbiasa mengulik-ngulik google, mencari referensi tentang cagar budaya di kota Jakarta, Cilincing terkenal dengan masjid Al-Alam Marunda dan rumah si Pitung yang legendaris. Ada juga sebagian orang yang tidak mengenalinya sama sekali, karena Jakarta bagian utara memang lebih dikenal dengan nama pelabuhannya yaitu Tanjung Priok, JICT (Jakarta International Container Terminal) dan tidak ketinggalan kawasan elite Kelapa Gading. Cilincing berasal dari kata ci yaitu air atau sungai dan nama buah yaitu Calincing, sejenis tanaman belimbing wuluh, ibuku biasa menyebutnya buah lincing.

Pantai Cilincing

      Suatu hari ibuku berkisah tentang Cilincing tempo dulu, bagiku ceritanya bagaikan dongeng sejarah yang indah, seindah Cilincing di kala itu. Tahun 60-an Cilincing mempunyai pantai yang indah berpasir dengan deretan pohon kelapa dan nyiur hijau yang melambai, air lautnya biru dan jernih. Pantai Cilincing menjadi tempat rekreasi di akhir pekan, bahkan ramai saat hari raya dan menjadi tempat favorit para remaja pada masa itu berjanji sehati.

      Sepanjang jalan Cilincing raya dahulunya adalah tanah-tanah milik tuan tanah warga non pribumi dan warga pribumi yaitu suku betawi asli. Berjajar empang-empang peternakan bandeng dan juga babi. Kehidupan perekonomian penduduknya sebagian besar dari aktivitas berdagang. Keberagaman etnis dan agama sudah ada sejak lama, hingga kini semuanya masih terlihat nyata, hidup harmonis berdampingan, seiring hadirnya para pendatang.  

      Alat transportasi pada waktu itu tentu belum seramai sekarang, kendaraan umum hanya ada satu-dua saja, seperti oplet, becak dan bus Muri Asih yang terkenal di eranya. Kendaraan pribadi berupa sepeda dan motor masih belum banyak yang memilikinya.

      Pertengahan tahun 60-an, pantai indah itu mulai rusak karena abrasi, pohon-pohon kelapa yang indah itu pun musnah satu per satu. Puncaknya pada  awal tahun 70-an proyek reklamasi pun dilakukan pemerintah, pada masa itu warga menyebutnya dengan istilah 'semprotan' dan pantai Cilincing yang indah itu  kemudian menjelma menjadi pemukiman penduduk nelayan di tepi pantai. Berakhirlah cerita tentang pantai Cilincing  yang indah itu, yang tiada meninggalkan banyak dokumentasi melainkan hanya dalam ingatan orang-orang yang hidup pada masanya.

Macet dan Banjir
      Macet dan banjir merupakan suatu warna tersendiri bagi Jakarta, begitu juga yang dialami Cilincing. Macet semakin meradang ketika kontainer-kontainer itu mulai merajai jalan raya, dimulai sejak berdirinya beberapa depo peti kemas di daerah ini beberapa tahun yang lalu, salah satunya tepat di depan rumahku. Tumpukan kontainer berwarna-warni menjulang tinggi menantang langit, aku menyebutnya pelangi besi. Bukan hanya menyebabkan kemacetan terutama pada hari-hari kerja tapi juga pada akhir pekan, atau ketika ekspor mulai meningkat maka mobil kontainer-kontainer itu pun berbondong-bondong berangkat dari kawasan industri yaitu KBN (Kawasan Berikat Nusantara) menuju pelabuhan Tanjung Priok.

      Dalam sebuah headline surat kabar ibu kota pernah tertulis, "Jalan Cilincing Raya, Jalur Maut di Utara Jakarta," demikianlah faktanya bukan hanya mitos. Zaman dahulu ketika aku masih kanak-kanak, bersepeda di jalan raya adalah hal yang sangat menyenangkan, tetapi sekarang sangat menantang adrenalin bahkan cenderung berbahaya. Sudah tidak terhitung jumlahnya berbagai kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk peti kemas dengan kendaraan lainnya, baik motor, becak bahkan pejalan kaki sekali pun. Keganasan truk peti kemas bagaikan monster pemangsa yang telah menelan korban jiwa, dan tentu banyak faktor yang menyebabkannya salah satu di antaranya adalah human eror. Ditambah lagi polusi udara yang ditimbulkan akibat semakin padatnya kendaraan bermotor di jalan raya.

      Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa meningkatnya pembangunan infrastruktur berdampak juga pada lingkungan, jalan-jalan ditinggikan dan saluran air diperlebar. Beberapa lahan kosong yang dahulunya adalah ruang terbuka dan lapangan tempat bermain anak-anak, bahkan sebuah danau buatan yang besar, semua sudah rata tertimbun tanah dan berdirilah bangunan-bangunan yang baru hingga telah mengubah wajah kota kecamatan ini selama rentang waktu kurang lebih 30 tahun.

      Udara segar menjadi hal yang sangat mahal sekarang, bernapas di sini terasa berat karena udara yang tak lagi bersahabat. Serangga-serangga indah juga sudah jarang terlihat, seperti kupu-kupu dan capung yang cantik berwarna warni serta lebah, belalang dan makhluk-makhluk lainnya yang gemar menyambangi tumbuhan di halaman saat aku kecil  dahulu. Mereka sekarang entah hijrah ke mana, begitu juga suara kokok ayam jantan yang dahulu sering terdengar menyambut fajar, kini menjadi hal yang jarang terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN