Mohon tunggu...
Mawan Sastra
Mawan Sastra Mohon Tunggu... Koki - Koki Nasi Goreng

penggemar fanatik Liverpool sekaligus penggemar berat Raisa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Skeptis dan Tuduhan

22 April 2019   08:37 Diperbarui: 22 April 2019   09:16 124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Salah satu contoh si A yang pada mulanya memeluk agama B. Ketika teman-teman si A mengajaknya beribadah, selalu si A menolak. Seringkali seperti itu. Karena si A capek menolak karena selalu diajak serta, untuk kali pertama dia berani membeberkan yang sebenarnya. 

Bahwa dia telah meninggalkan agama yang dianut sebelumnya. Karena itu kawan-kawannya berubah sikap padanya. Kabar kemurtadannya pun santer terdengar, alhasil orang-orang yang dulunya seagama dengannya mengutuk bahkan tidak sedikit dari mereka mencampakkan si A.

Saya bisa menjelaskan semua ini, setelah suatu hari di perempatan jalan saya melihat si A tampak siap-siap untuk bepergian. Saya mendekatinya duduk di tempat menunggu mobil, sebuah rumah-rumahan lebih mirip pos ronda. Karena hanya jalan tak beraspal, mobil-mobil tidak selalunya ada, tergantung kemujuran si penunggu.

Kesempatan itupun saya manfaatkan untuk bincang-bincang dengannya, apalagi telah saya dengar kabar kemurtadannya dari mulut-mulut warga bak air mengalir. Dia mengakui, dan bercerita panjang lebar. 

Akhirnya saya tahu, dan sedikit saya gambarkan sebagaimana di atas. Saya masih mengingat pertanyaan ini yang saya lontarkan padanya, "Lalu agama yang kau peluk sekarang apa?"

Dia menjawab, "Untuk saat ini saya tidak memeluk agama apa-apa." Saya menyela, "Apakah kamu ateis?"

"Tidak! Saya masih percaya Tuhan." 

Saya sebenarnya masih ingin berbicara lama-lama dengannya. Tapi keberadaan mobil memutus pertemuan kami. Dia pergi, dan tidak pernah saya lihat kembali. Barangkali kapok tinggal di lingkungan yang intoleran.

Anehnya, tidak berselang lama setelah pertemuan saya dengan si A. Saya malah mendapati diri saya menjadi berbeda, seolah-olah saya dirasuki olehnya. Saya tidak tahu apakah hanya kebetulan atau pada pertemuan kami, dia sempat membacakan mantra yang membuat saya jadi begini. Ataukah setan telah benar-benar menguasai diri saya.

Saya jadi pribadi yang banyak bertanya-tanya pada diri sendiri tentang ini itu. Baik objek yang disaksikan oleh mata maupun yang saya baca dari kitab. Saya jadi skeptis terhadap pada banyak hal. Tetapi saya tidak sampai membeberkan pada orang-orang kalau saya murtad, toh, tidak yakin juga kalau saya ini murtad, walaupun saya kadang merasa terlalu jauh keluar dari lingkaran agama yang saya peluk.

Sebelum pembangkangan saya menjadi-jadi, makanya saya harus menemui pemuka agama untuk mengadukan permasalahan saya. Karena saya diliputi keraguan, saya lebih memilih Halleenda. Saya tahu dia seorang psikolog. Apakah memang pantas saya mengadukan batin saya yang sakit ini kepada psikolog? Saya tidak tahu apakah pantas, tapi apa salahnya mencoba. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun