Mawan Sastra
Mawan Sastra Sarjana Rumah Tangga

Penggemar Raisa (baca; fanatik)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Kematian Penulis Tua

18 Maret 2019   06:00 Diperbarui: 20 Maret 2019   01:14 472 15 6
Cerpen | Kematian Penulis Tua
Ilustrasi penulis (Istimewa) - malangtoday.net

Aku masih belum percaya kalau dia telah mati. Lima belas tahun yang lalu, olehnya kami terpilih menjadi lima peserta terbaik dalam acara pelatihan menulis. Saat itu kota ini belum menjadi kota kabupaten, melainkan hanya kawasan padat penduduk. 

Mulai saat itu kami bersungguhsungguh untuk menjadi penulis. Dia ingin melihat nama kami berikibar beberapa tahun yang akan datang. Akan tetapi sampai saat ini tidak satu pun dari kami benar-benar menjadi penulis. Aku misalnya, sekarang menjadi buruh angkut barang di toko milik orang Cina.

Secara tidak sengaja, untuk pertama kali kami bertemu setelah lima belas tahun berlalu. Dia jelas jelas tidak mengenaliku di emperan toko majikanku. Tapi aku masih mengenalinya, kendati rambutnya yang sudah memutih semua, serta kulitnya makin mengeriput.

Rasarasanya pembaca buku di kota ini tidak asing dengan dia lagi. Penulis tersohor di negeri ini, sudah banyak karyanya mendapatkan penghargaan. Diterjemahkan ke banyak bahasa asing pula. Terus terang saja aku pernah menggoreskan keinginan untuk mengikuti jejaknya sebagai penulis. Ah, kenyataan hidup berkata lain.

Dia agak kewalahan mengenaliku. Toh, kami hanya pernah sekali bertemu, itupun sudah satu setengah dasawarsa berlalu. Lagi pula dalam rentang waktu yang amat lama itu, bukan hanya kota ini yang pernah dia kunjungi untuk memberikan pelatihan menulis. Adalah hal lumrah jika dia tidak mengenaliku lagi.

Setelah bersusah payah akhirnya dia tahu siapa aku, Kasimin. Kesempatan langkah itu tidak kusia-siakan. Aku meminta izin pada majikanku beberapa saat. Kubawa dia mengunjungi kedai kopi. Kami bercakap-cakap. Sama sekali dia bukan penulis yang sombong. Memang ada penulis sombong?

Tujuan kedatangannya masih sama seperti lima belas tahun yang lalu. Kemudian kami membicarakan kenangan pelatihan penulis pada saat itu. "Aku kira kau sudah benarbenar jadi penulis," raut wajahnya kecewa setelah kuberitahu pengakuanku sebagai penulis gagal. "Kalau keempat temanmu yang lain bagaimana?" Mulailah aku menceritakan padanya tentang mereka.

Yang pertama adalah Indah, mati bunuh diri dua tahun yang lalu meneguk racun. Pertemuan terakhirku dengannya, dia masih menggeluti dunia menulis. Tak tanggung-tanggung aku diperlihatkan tulisan-tulisannya. Aku membaca beberapa. Dari penilaianku sendiri tulisan-tulisannya bagus.

Tapi kenyataannya, Indah putus asa mendapati karya-karyanya yang senantiasa ditolak penerbit. Sudah banyak cerpennya dikirim ke berbagai media. Hanya dua saja yang dimuat itupun media kecil tanpa mendapat honorarium.

"Nasib penulis yang belum punya nama," keluh Indah saat itu, "Barangkali redaktur-redaktur itu matanya picek pada penulis seperti kita. Aku membaca karya beberapa penulis yang sudah punya nama, karya mereka tidak lebih bagus dari karyaku. Tapi namanya penulis yang sudah punya nama, redaktur mungkin keberatan menolak karyanya."

Beberapa bulan setelah pertemuanku dengannya. Tiba-tiba kudengar kabar kematiannya. Salah satu portal berita online sialan keterlaluan menulis berita tentang itu; Seorang Penulis Amatiran Mati Bunuh Diri.

Kalau Minah lain lagi. Dia berhenti menulis setelah menikah. Dia menikah muda setelah dijodohkan orang tuanya. "Kamu bisa menulis sekalipun menjadi ibu rumah tangga," kataku pada pertemuan kami.

"Tidak semudah itu. Suamiku pun tidak menghendaki aku melakukannya. Kalau menulis hanya untuk uang. Dia memiliki penghasilan yang lebih baik dari royalti penjualan buku atau honor dari media. Dia tidak ingin menerima penjelasan apa pun. Maunya aku hanya fokus menjadi ibu rumah tangga."

Karena berbenturan dengan keinginan suaminya terpaksa Minah berhenti menulis. Dia sudah memiliki dua anak dari pernikahannya. Makin tidak punya kesempatan untuk menulis. Padahal ada juga penulis-penulis perempuan yang sibuk mengurusi keperluan rumah tangga, tapi tetap punya kesempatan untuk menghasikan karya.

Di antara kami berlima, Marzuki bisa dikatakan yang cukup sukses menulis. Dia sangat produktif menghasilkan karya. Akan tetapi tulisannya melenceng dari visi yang pernah kami bangun bersama. 

Entah apa yang membuat Marzuki memilih genre tulisan seperti itu, bergelut di dalamnya. Pada majalah dewasa dia dipercaya mengisi cerita bersambung. Juga sudah menerbitkan beberapa buah novel porno. Serta pada blognya ramai pengunjung yang haus akan cerita-cerita seksual.

Itu tidaklah berlangsung terlalu lama, Marzuki memutuskan untuk berhenti menulis. Dia sudah insyaf, fokus dengan hijrahnya. Bergabung dalam salah satu organisasi keagamaan. Terakhir kali aku bertemu dengannya di rumah ibadah. Aku terkejut melihat tampilannya berubah seratus delapan puluh derajat.

"Kenapa harus berhenti coba? Kan kau bisa menebarkan kebaikan melalui tulisanmu," kataku padanya. Dia tetap enggan kembali menulis.

Yang terakhir adalah Randu. Kurang lebih sama seperti yang dialami Indah. Tulisannya yang dikirim ke berbagai media selalu mengalami penolakan. Selain itu dia aktif menulis di salah satu media daring secara cuma-cuma. Di situlah aku banyakbanyak membaca karyanya.

Aku mengakui tulisan-tulisan Randu biasa-biasa saja, tidak sebaik tulisan Indah. Bahkan tulisannya kerap ada oknum yang mengomentarinya, mengatakan ceritanya kliselah. Pokoknya tulisannya kerap dinilai negatif, jarang positif. Barangkali karena itu juga Randu memilih berhenti menulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2