Mawan Sastra
Mawan Sastra Pelajar

Hanyalah seorang pemuda yang selalu mendaulat dirinya sebagai penulis urakan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Ketika Anak Meminta Ibunya Berhijab

10 Februari 2018   07:50 Diperbarui: 11 Februari 2018   02:58 1347 5 2
Cerpen | Ketika Anak Meminta Ibunya Berhijab
ilustrasi: hanguppictures.com

Kamarudin masih syok melihat perubahan anaknya tiba-tiba seperti itu. Kontras dari apa yang ia lihat tiga bulan lalu. Aida pulang dari tanah rantau. Ia mahasiswi di salah satu kampus swasta di kota provinsi. 

"Wong, bagus kok anak perempuan kita berpenampilan seperti itu. Emang Bapak mau anaknya terus memakai pakaian you can see, tubuhnya menjadi santapan hangat mata-mata binal di luar sana. Mau Bapak seperti itu?" ketus Salmia saat tengah asyik memasak di dapur didatangani Kamarudin untuk membicarakan tentang  Aida.

"Ibu ingat kan selama ini Aida doyang kepo terhadap kehidupan selebriti di televisi. Kemarin-kemarin saya sering merecokinya lantaran selalu nonton sinetron-sinetron yang tak berfaedah itu. Tapi lihatlah sekarang! ia sering membaca ayat-ayat Quran," ucap Kamarudin. Samar-samar ia mendengar suara Aida melantungkan bacaan Quran di dalam kamarnya.

"Pak, ada namanya hijrah. Hijrah itu proses menggeser diri dari keadaan seperti itu menjadi keadaan seperti ini. Nah, Umar Bin Khattab pernah melakukan itu. Beberapa selebriti tanah air juga sering diberitakan tentangnya yang katanya hijrah. Anak kita pun begitu. Aidah sedang hijrah, Pak. Kok Bapak rada-rada heran?"

"Tapi kedepannya dia tidak kenapa-kenapa kan?"

"Lho, bagaimana sih Bapak ini? Keputusan yang diambil Aidah itu jalan yang tepat dan insya Allah diridai Allah. Baiknya Bapak mendoakan dia saja, untuk tetap istikomah dalam hijrahnya. Kan banyak tuh perempuan zaman sekarang hari Senin mantap berhijrah diumumin sana sini. Giliran beberapa waktu kemudian hijrahnya ia abaikan, hijab ia lepaskan."

"Nah, itu dia yang saya tidak mau. Kalau Aida hanya akan hijrah kerupuk seperti itu."

"Makanya doakan dia."

"Selain itu saya khawatir Aida akan gila."

"Lho, kenapa mau gila, Pak?"

"Kan banyak tuh orang yang mendalami agama tiba-tiba otaknya gesrek. Seperti si Samsul, lihat dia sekarang, jadi gila kan."

"Pak, mendalami agama itu tidak bikin gila. Yang bisa bikin gila apabila salah-salah mendalami agama."

"Berarti si Samsul salah mendalami agama dong."

"Mengapa Bapak bilang begitu?"

"Katanya yang bikin gila apabila salah-salah mendalami agama."

"Emang  menurut Bapak si Samsul gila ya?"

"Emang Mamah tidak lihat kelakuan dia seperti itu. Kalau bukan gila apa namanya? Omongannya saja suka ngawur."

"Hanya Bapak tuh yang bilang si Samsul gila. Tetangga sebelah menganggap si Samsul memiliki karamah,"

"Si Samsul Waliyullah?" Kamarudin mengernyitkan dahi.

"Ada orang bilang seperti itu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3