Mawan Sastra
Mawan Sastra Pelajar

Hanyalah seorang pemuda yang selalu mendaulat dirinya sebagai penulis urakan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Karma

9 Januari 2018   07:00 Diperbarui: 10 Januari 2018   01:17 785 9 2
Cerpen | Karma
foto: sepositif

Ia terlalu baik untukku. Seandainya aku tak sadar diri. Mungkin sejak dulu ia kukangkangi. Kusobek-sobek selaput daranya. Kuhisap aroma tubuhnya. Jangankan melakukan itu semua, bertukar air liur pun aku enggan melakukannya. Perempuan sebaik dirinya, tidak elok rasanya ditelanjangi. Ia pantas dijaga dan dibimbing. Bukan untuk dihancuri kemudian ditinggalkan pergi.

"Serius! Aku masih suci. Jangankan selangkanganku, bibirku saja belum pernah dielus oleh bibir laki-laki mana pun di dunia ini. Kamu masih belum percaya, hah? Atau kamu mau bukti? Sini lebih dekat denganku. Kita akan memulai segala sesuatunya sekarang," katanya suatu senja. Saat hujan deras menerjang, aku dan dia terkurung di dalam kamarku. 

Mendengarnya berucap seperti itu. Terlintas di benakku wajah adik perempuanku. Ya, aku memiliki adik yang cantik lagi manis dan sangat kusayang. Jika kuhancuri pacarku, kemungkinan karmanya akan menimpa adikku yang juga perempuan. Tentu aku tidak ingin jika adikku akan dikangkangi oleh laki-laki sebelum tiba saatnya. Makanya, karma itu sebisa mungkin kuredam. Nafsuku kukekang untuk tidak termakan bisikan setan, dan godaan pacarku yang kerap memberi kode untuk segera kusetubuhi.

Beruntungnya aku memiliki pacar sepertinya. Dialah yang membiayai uang semester kuliahku, saat orang tua di kampung dilanda paceklik. Bukan hanya itu, biaya tinggalku pun begitu. Hingga anggaran untuk kouta internetku semua ia yang urus. Andaikan tidak kularang, sesuatu yang lebih besar dari semua itu akan ia hadiahkan padaku. Bisa jadi mobil mewah. Orang kaya sepertinya, itu tidaklah terlalu sulit untuk diadakan.

"Hanya ada satu laki-laki yang kubiarkan selangkanganku ia koyak-koyak. Yaitu ialah kamu," katanya  di suatu senja di sebuah kafe elit. Saat kutanya padanya, alasan ia mau pacaran denganku. Sedangkan ia tahu sendiri aku hanyalah cowok miskin. 

"Cinta tidak butuh alasan yang muluk-muluk. Mungkin karena aku teramat percaya bahwa akulah tulang rusukmu," lanjutnya ia menyeruput kopinya. Kedua mata kami beradu. Kuremas tangannya, lalu kucium tangan mulusnya lagi wangi itu. Ya, hanya perbuatan mencium tanganlah yang paling lancang kulakukan padanya. Melumat bibirnya, mencium pipi atau keningnya belum pernah kulakukan. Wajah adik perempuan selalu terlintas setiap ada hasrat untuk main nakal pada pacarku. Jika aku mencium pacarku mungkin saja di kampung adikku akan dicium oleh laki-laki sebelum tiba saatnya.  Aku tidak ingin kalau sampai itu terjadi.

Aku tidak khawatir sama sekali jika kucium tangan pacarku. Sebab adikku tidak memiliki tangan. Tidak mungkin ada laki-laki yang mau mencium tangan perempuan yang tidak memiliki tangan. Tapi adikku punya wajah yang cantik, payudara indah, dan selangkangan yang mungkin ditumbuhi bulu yang rimbun dan terawat. Makanya tidak akan pernah kusentuh milik pacarku sebelum tiba saatnya. Karma selalu menghantuiku. Jangan sampai perbuatan nakalku berbuah karma sampai pada adikku. 

"Apa yang membuatmu enggan meyentuhku? Jijikkah kau denga tubuhku. Lihatlah tubuhku masih utuh, belum pernah disentuh oleh laki-laki mana pun di dunia ini," katanya di kamar  malam itu. Kupalingkan wajahku saat ia mencoba membuka pakaiannya. Sebelum ia berlanjut melepas tali kutangnya. Dalam keadaan mata tertutup, kupasangkan kembali bajunya yang terlanjur ia lepas. Setelah semuanya tertutup. Kubuka mataku, ia cemberut. Kukecup tangan mulusnya.

"Akan ada saatnya kita melakukan itu. Sabarlah!" Mendengar perkataanku wajahnya berseri-seri. Hanya dengan harapan-harapan yang kuberikan. Ia akan kembali jadi baik. Begitulah pacarku. Mungkin hanya dialah satu-satunya pacar di dunia yang terang-terangan meminta pada pacarnya untuk menyetubuhinya. 

Kejadiannya di malam itu. Saat kami sudah janjian ingin menghadiri acara pementasan puisi di taman kota. Di sana akan hadir beberapa komunitas. Aku sudah menyusun segala sesuatunya. Aku akan tampil di depan khayalak. Membacakan puisi spesial buatnya. Ya, hanya dengan menyanjungnya melalui rangkaian kata-kata aku bisa mengimbangi perbuatan baiknya selama ini. Namun semuanya tidak sesuai rencana. Hujan kembali menampakkan keganasannya. Malam itu kami terkurun di rumah kontrakanku.

Semakin hujan itu ditunggu redahnya, semakin pula ia menumpahkan segala amarahnya. Cuaca dingin, hujan ganas, angin kencang sukses membuat perut kami keroncongan. Ia menghubungi jasa penyedia makanan. Kudengar perdebatan kecil antara pacarku dengan penyedia makanan itu. Nanti hujan reda baru diantar katanya. Tapi pacarku tidak mau. Pokoknya saat itu juga harus diantar. Setelah negosiasi harga akhirnya penyedia makanan itu mengalah. Ia mematok harga lima kali lipat dari harga semestinya. Semua itu tidak masalah bagi pacarku, hartanya tidak akan berkurang jika hanya dihadapkan urusan tetek bengek makanan. Membeli pulau terluar di negeri ini pun yang jauh dari sentuhan tangan pemerintah, pacarku sanggup. Bahkan andaikan ia mau menjadi anggota dewan sekalipun. Ia akan melanggeng mulus. Toh, punya banyak uang. Apalagi dizaman bobrok sekarang ini. Hak suara bisa dibeli dengan selembar uang biru atau uang merah. Ah, demokrasi payah. Semua gila uang. 

Pengantar makanan tiba, ia mengetuk pintu dengan tergesa-gesa. Kulihat sekujur tubuhnya kedinginan. Sebagian bajunya basah. Walaupun begitu, tapi ia masih sempat menampakkan keramah-tamahannya pada pelanggan. Kutahu ia pasti teramat jengkel, lantaran pacarku menggerutu ingin diantarkan makanan di tengah derasnya hujan. Semakin semringahnya ia, saat pacarku memberikan uang padanya. Tidak kutahu jelas nominalnya berapa, tapi kulihat ada uang biru dan uang merah. Diberi uang segitu saja, bahagianya tiada tara. Bagaimana jika menerima suap milyaran rupiah? Seperti yang kerap kali dicontohkan oleh mereka yang katanya teman rakyat. 

Di dapur kami makan. Aku berlagak jadi laki-laki paling romantis sedunia sedangkan ia makin manja. Aku yang menyuapinya. Ya, semua akan kulakukan asal ia senang. Kecuali satu yaitu bersetubuh sebelum tiba saatnya. Rencana menghadiri acara pembacaan puisi di taman kota gagal total. Sampai jam dua belas malam hujan masih mengurung kami. Di kamar kami berdua, sudah banyak topik yang kami bicarakan. Salah satu di antaranya konsep pernikahan kita nantinya. 

"Aku tidur bersamamu malam ini. Mungkin hujan sampai subuh, aku tidak bisa pulang," ucapnya memeluk lenganku. Aku bisa apa lagi? Tidak mungkin aku menolak permintaannya. Selama ini apa yang ia bilang, aku menurut saja. Kecuali satu yaitu bersetubuh. 

"Kalau aku tidur memang kayak gini, bajuku kulepas begitu pun celanaku," katanya melepas bajunya dan celananya.

"Untuk kali ini sisakan yang lain," ucapku mengecup tangannya. Ya, dia menurutui seruanku. Yang tersisa adalah  tanktop dan celana dalam. Tubuh kami ditutupi selimut tebal. Di antara kami, kuberi sebuah guling. Walau bagaimana pun kami hanya pacaran dan belum sepantasnya tidur bersama. Sepanjang malam itu aku memunggunginya.

Paginya aku tidak menemukan guling lagi yang menjadi batas antara kami. Ia  tenggelamkan wajahnya di dadaku. Tangannya ia peluk erat tubuhku. Aku tentu kaget dengan posisi kami seperti itu. Makin kagetnya lagi setelah kutemukan diwajahku tercetak bibirnya pada sebuah gincu. Oh, masih adakah lagi yang ia sentuh selain wajahku? Aku membatin.

Pagi-pagi itu juga aku menghubungi keluarga di kampung. Kupastikan adik perempuanku sedang tidak tidur bersama laki-laki lain. Syukurlah malam itu ia tidur sendiri di kamarnya, itu katanya. 

"Lagi pula mana ada laki-laki mau tidur dengan perempuan yang tidak punya tangan."

"Ah, itu salah adikku, kau memiliki paras yang cantik. Laki-laki yang tak memiliki iman  bisa saja mengangkangimu, tatkala birahinya memuncak. Sudah sering kita jumpai kasus serupa di negeri kita. Jangankan perempuan cantik yang tidak punya tangan, perempuan gila yang tak cantik pun pernah berapa kali dihamili laki-laki bejat. Bukan hanya itu, anak belia yang belum mengerti seks pun pernah diperkosa belasan laki-laki yang tak punya urat malu."

***

Akhir-akhir ini cuaca buruk selalu menjadi pemutus segala rencana yang telah kususun bersamanya. Langit kembali menampakkan kemarahannya. Air tumpah ruah membasahi bumi yang sudah bosan bersua dengan hujan lagi. Pak Tani tentu mengutuk hujan yang terus menerus seperti ini. Bagaiamana bisa nelayan menangkap ikan, kalau selalu dihadang hujan? Kafe-kafe mungkin sepi. Orang-orang lebih memilih berdiam diri di rumah. Aku pun begitu.

Rencananya sore ini, aku dan dia akan menonton di bioskop. Karena hujan, semuanya gagal. Seperti gagalnya rencana kami yang ingin ke taman kota menyaksikan acara pementasan puisi. Semoga saja ia tidak datang. Sehingga aku tidak lagi direcoki tentang keinginannya untuk segera kunikahi. Adakalanya sepasang kekasih memang tak harus selalu bersama. Bukan berarti bosan, hanya saja diri kadang perlu menyendiri. 

"Bagaimana kalau minggu depan kita menikah?" Tanyanya pada tengah malam melalui sambungan telepon. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam dua belas lewat lima belas menit.

"Nikah itu bukan perkara yang mudah, sayang. Butuh persiapan yang matang."

"Persiapanku sudah matang,"

"Aku belum,"

"Jauh-jauh hari persiapanmu sudah kupersiapkan." 

Satu alasan sehingga membuatnya ngotot ingin cepat kunikahi. Lantaran aku tidak pernah menyentuhnya. Sedangkan dia kebelet ingin segera dicampuri. Andaikan aku tak takut karma, sejak dulu ia kukangkangi, kusobek-sobek selaput daranya. Sayangnya, wajah adikku yang tak punya tangan selalu menghantuiku.   

Di luar terdengar ketukan pintu. Ahh, mungkinkah hujan deras seperti ini ada tamu? Atau ia adalah tetangga yang ingin mengingatkan kalau jemuranku di luar belum diangkat? Pikirku berjalan ke arah pintu. Ternyata tamu itu adalah pacarku tersenyum cantik padaku.

"Lusa kita harus menikah," aku terperanjat kaget mendengarnya. Lebih kagetnya lagi saat ia bertutur kalau sekarang ia hamil, mengandung anakku.

"Bagaimana bisa terjadi? Aku tidak pernah mencampurimu," aku keheranan.

"Aku yang mencampurimu,"

Diperlihatkannya padaku sebuah surat dan berisi pernyataan tentangnya yang positif hamil. Ia merogoh tasnya. Pada sebuah smartphone tersimpan video rekaman perbuatan kami di malam itu. Yang tidak kuingat jelas kapan itu terjadi. 

"Di sebuah hotel pada bulan April. Kamu tidak ingat itu?" katanya, aku hanya menggeleng. Lama kami membiarkan suasana lengang itu hadir. Aku benar-benar tak mengerti tentang semua ini. Tujuh bulan aku menjalin hubungan dengannya. Baru sekali aku tidur bersamanya. Pada malam itu hujan deras yang membuat rencana kami untuk menghadiri pemantasan puisi gagal total. Lagi pula malam itu aku yakin kami tidak saling mencampuri. Walaupun paginya posisi kami berubah dan kutemukan bekas bibirnya di wajahku.  

Dalam video yang ia perlihatkan padaku. Tidak mungkin aku menyangkal kalau itu bukan diriku. Jelas-jelas itu adalah aku, tanda lahir sebesar jempol berdekatan selangkanganku adalah bukti otentik kalau dalam video itu memang aku. 

"Sekarang kita bagaimana?" kataku memecah keheningan. Sedari tadi ia hanya menunduk sembari mengusap perutnya yang di dalamnya ada anakku. 

"Kamu harus bertanggung jawab. Kita harus menikah. Lagi pula kita saling mencintai kan? Dan kuharap kamu tidak memberi usulan untuk melakukan aborsi. Sudah cukup dosa zina yang kita lakukan. Tidak perlu ditambah lagi untuk membunuh darah daging kita sendiri."

Saat itu juga handphone-ku berdering. Ada panggilan dari orang tua di kampung. Perasaanku menjadi tidak karuan. Di pelupuk mataku terbayang-bayang wajah adikku, apakah karma itu sudah sampai padanya? Sebab pacarku sekarang hamil karena perbuatanku.

"Cepat pulang, Nak. Adikmu sekarang jadi sampah busuk. Ia hamil, mengandung anak orang," kudengar suara ibu yang terisak.