Olahraga

Buffon, Jagoan Cilik Asal Riau yang Gemparkan Dunia

7 Desember 2017   21:44 Diperbarui: 7 Desember 2017   22:12 1798 0 0

Keinginan kuat untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia, dan membuat bangga kedua orang tuanya ditanamkan dalam-dalam di benak dan hati Buffon, bocah kecil berusia 9 tahun. Kecintaannya dengan seni beladiri karate, membuat ia sanggub berlatih dengan keras dan menjadi sangat terampil dalam karate untuk ukuran anak sebayanya.

            Sejak tahun 2014, ia mulai berlatih karate. Berasal dari keluarga yang kurang berada, lingkungan tempat tinggal dan pergaulan yang buruk, tidak membuat ia berkecil hati serta terseret pergaulan yang negatif, justru sebaliknya Buffon menjadi anak dengan rasa disiplin, tanggung jawab dan rasa cinta yang begitu besar pada orang tua serta negaranya.

Juara O2SN di Medan

            Namun, Buffon juga bocah cilik biasa, layaknya seperti bocah-bocah lain seusianya, yang selalu jujur mengatakan apa yang ingin diungkapkan, dan apa yang menjadi keinginannya, tetapi dia melakukannya dengan cara yang tidak biasa. Hingga ia mempunyai suatu keinginan, untuk menjadi seorang juara karate. Dia menuliskan cita-citanya pada sebuah batu besar, itu adalah cara yang luar biasa bagi bocah seusianya, pada saat itu bulan september 2017.

"Aku seorang laki-laki, aku ikut karate sejak tahun 2014 dan aku sering mengikuti kejuaraan dan sekarang aku berangkat tanding O2SN kenasional, aku akan berjuang keras di Medan untuk kebanggaan orang tuaku, kakaku, dan abangku, aku adalah Buffon Julianto Sinaga!!"

            Bukan hanya sekedar omong kosong, Buffon benar-benar memenangkan kejuaraan itu, dia menjadi juara karate di Medan, dalam nomor Kumite (perkelahian) dan ia berhak atas medali emas.

            Kembali pada kesehariannya, tidak membuat Buffon cepat puas dan besar kepala. Kepribadian dan sikapnya tidak berubah, disaat teman-teman sebayanya di lingkungan itu terus-terusan menghisap rokok, ia tetap menjadi Buffon yang disiplin dan berpendirian teguh, terus berlatih karate, mempersiapkan diri. Karena, Buffon Julianto Sinaga akan mewakili negaranya, Indonesia, untuk bertanding di panggung dunia Internasional yang digelar di Belgia.

Memenangi kejuaraan Internasional di Belgia      

Ketika mendekati hari dimana dia pergi menuju Belgia, keinginannya untuk mempersembahkan yang terbaik untuk tanah airnya semakin membara, karena apa yang dicita-citakannya sudah berada di depan mata. Dia, kembali menulis keinginan tulus hatinya, pada sebuah batu, batu itu adalah batu yang sama ketika dia menulis keinginannya untuk berlaga di Medan.

"Pada bulan ini aku keluar negeri, pada bulan ini pula aku ke Belgia, pada tahun dan bulan ini aku akan mencetak medali pada ajang ini aku berjuang keras untuk membahagiakan orang tuaku, keluargaku, kesempatan ini tidak akan aku siasiakan demi negara INDONESIA, INDONESIA medali emas siap aku persembahkan."

            Laga di Belgia, tak semulus apa yang dia bayangkan, tetapi ia juga tau mengenai itu, bahwa tidak akan mudah menghadapi berbagai orang di belahan dunia, "diatas langit masih ada langit" setidaknya itulah yang ia pikirkan. Untuk pertama kalinya, Buffon kalah dalam nomor Kumite oleh seorang atlit dari Belgia, nomor tanding yang dia kuasai, nomor yang ia menangkan di Medan.

            Buffon tetaplah seorang bocah cilik yang lugu dalam melampiaskan perasaannya, ketika kalah dari atlit lain, dia merasa sangat sedih akan kekalahan yang dia terima, tangis kesedihan Buffon tidak dapat ditahan lagi.

            Setiap staf pelatih yang mendampingi Buffon di laga itu, berusaha meyakinkan Buffon bahwa ini belum berakhir, masih ada satu pertarungan lagi di nomor Kata (rangkaian gerakan jurus karate) yang harus ia hadapi. Masih ada yang dapat diraih, dan belum berakhir. Buffon mengerti akan hal itu, dan ia dengan berbesar hati menerima kekalahannya dan kembali fokus untuk pertandingan dinomor lain.

            Rasa sakit karena kekalahan, teringat keinginannya untuk membanggakan orang tua dan negara, menjadi pemacu semangat Buffon untuk pertandingan di nomor Kata. Walaupun Buffon kurang diperhitungkan dalam nomor ini oleh negara-negara lain, dia tidak menyerah. Ia kembali berhadapan dengan atlit dari Belgia, namun yang terjadi adalah diluar dugaan. Buffon berhasil mengalahkan lawannya, dia menjadi juara di nomor Kata, dia menjadi juara dimana orang-orang tidak memperhitungkan itu akan terjadi.

            Keinginan untuk membanggakan orang tua dan negaranya telah terbayar, ini menjadi kenyataan, kegigihannya yang ia utarakan pada sebongkah batu, semangatnya yang terus ia jaga, latihan keras yang dilakukan, tidak akan menghianati hasilnya. Berasal dari keluarga yang berkekurangan, tetapi mempunyai rasa cinta yang besar pada negaranya, dan selalu pantang menyerah. Dia adalah Buffon Julianto Sinaga, bocah cilik berumur 9 tahun, asal Perawang, Kabupaten Siak, Riau.