Mohon tunggu...
KSG UI
KSG UI Mohon Tunggu...

Organisasi Keilmiahan Mahasiswa Departemen Geografi Universitas Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Pesona dan Permasalahan Kawasan Karst di Kota Gaplek

24 Maret 2016   09:17 Diperbarui: 1 April 2016   00:53 0 0 0 Mohon Tunggu...

Saat ini kawasan karst sering dijadikan pembicaraan publik, baik dari ilmuan, mahasiswa hingga para petani. Pembicaraan ini disebabkan mereka terlibat dalam mempelajari fenomona geomorfologi yang ada di dunia ini. Karst mengandung makna bentang alam yang terbentuk dari batuan gamping di lautan yang mengalami pengangkatan ke daratan akibat aktivitas tektonik. Setelah mengalami pengangkatan batuan gamping mengalami proses karstifikasi. Proses karstifikasi adalah pelarutan batuan gamping oleh air dengan waktu yang lama. Akibat proses kasrtifikasi tersebut terbentuklah bentukan alam geologi yang menakjubkan seperti gua, bukit karst, dolina dan pantai karst. Bentang alam karst tersebar hampir di setiap wilayah di dunia termasuk di Indonesia.

Indonesia merupakan negara tropis yang 8% wilayahnya terdiri daerah karst. Dari 8% wilayah Indonesia yang merupakan wilayah karst dapat di bagi lagi menjadi tiga bagian berdasarkan umur batuan penyusuannya yaitu tersier, kuarter, mesozoikum. Wilayah karst yang terdiri atas batuan gamping berumuran tersier memiliki luas 119.877 km2 atau 77,5 % dari luas wilayah karst Indonesia; Wilayah karst yang terdiri atas batuan gamping berumuran kuarter memiliki luas 15.811 km2 atau 10 % dari luas wilayah karst Indonesia; Wilayah karst yang terdiri atas batuan gamping berumuran mesozoikum memiliki luas 18.344 km2 atau 12,5 % dari luas wilayah karst Indonesia (Bahagiarti, 2004: 34 – 35).

Indonesia memiliki banyak kawasan karst yang tersebar hampir diseluruh pulau di Indonesia dengan berbagai umur batuan penyusunnya. Di pulau Sumatra, wilayah karst berkembang di lipatan bukit barisan terutama didaerah yang memiliki sebaran formasi batuan gamping yang berumur paleozoikum dan tersier dan terdapat di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Jambi dan Sumatera Barat. Di Pulau Sulawesi kebanyakan batu gampingnya berumur kuarter hingga tersier dan terdapat di daerah Selatan dan Tenggara. Di Kalimantan memiliki formasi batuan gamping kuarter dan berkembang di daerah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur bagian utara. Sedangkan Pulau Jawa berkembang batuan gamping berusia tersier dan tersebar hampir di semua provinsi (Suhendar, 2014).

Di antara banyak wilayah karst yang ada di Indonesia, ada beberapa wilayah karst yang terkenal di Indonesia bahkan mancanegara. Beberapa wilayah karst yang terkenal dikarenakan pesonanya yang menakjubkan dan kompleksnya bentang alam yang ada di wilayah tersebut. Wilayah karst yang terkenal diantaranya adalah Wilayah Karst di Maros, Pangkep di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan pesona morfologi bukit lonjongnya. Selanjutnya ada wilayah karst Cartenz di Papua, yaitu bentang alam karst dengan balutan salju karena berada di ketinggian lebih dari 4.000 m. Kawasan karst yang terkenal lainnya adalah kawasan karst di Pegunungan Sewu yang melewati 3 kabupaten dan 3 provinsi di Pulau Jawa dan selanjutnya akan di bahas di artikel ini, betapa menakjubkannya pesona karst ini terutama di wilayah kabupaten Wonogiri.

Bentang alam karst Pegunungan Sewu merupakan kawasan karst yang cukup luas yang berada di antara Pantai Parangtritis di Kabupaten Gunung Kidul hingga Teluk Pacitan di Kabupaten Pacitan. Bentang alam karst Gunung Sewu melewati 3 kabupaten yaitu Kabupaten Gunung Kidul di Provinsi DI Yogyakarta, Kabupaten Wonogiri di Jawa Tengah dan Kabupaten Pacitan di Jawa Timur. Penamaan Gunung Sewu dikarenakan terdapat lebih dari 1.000 bukit karst yang tersebar di pesisir selatan Jawa yang melewati 3 kabupaten tersebut. Selain ditemukan banyak bukit karst, di kawasan ini juga terdapat puluhan gua dari yang vertikal hingga horizontal yang cukup menantang untuk dijelajahi ditambah dengan banyaknya pantai karst yang berpasir putih dan desiran ombak yang begitu kencang. Fokus dari artikel ini adalah wilayah tengah dari Pegunungan Sewu yaitu Kabupaten Wonogiri dikarenakan wilayah ini menjadi pusat geopark Pegunungan Sewu yang ditetapkan oleh UNESCO PBB pada September 2015.

Kawasan karst Gunung Sewu yang berada di Wonogiri atau yang bisa disebut “Kota Gaplek” merupakan wilayah tengah dari Pegunungan Sewu di mana bentukan yang dominan adalah bukit karst dan pantai karst. Menurut DPESDM (Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral) Wonogiri, Wilayah Wonogiri, khususnya sisi selatan mempunyai kawasan bentang alam karst seluas 16.544,732 hektar. Kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Kawasan bentang alam karst di Wonogiri mencapai 10,2% dari luas wilayah Kabupaten Wonogiri. Sedang luas wilayah Wonogiri adalah 182.236,02 hektar. Kawasan karst di Wonogiri terdiri atas dua tampilan, yakni eksokarst yang tampak di permukaan meliputi mata air; bukit karst; dolina; uvala; polje dan telaga serta endokarst yang berada di bawah permukaan meliputi sungai bawah tanah dan gua vertikal maupun horizontal. Berdasarkan Disporabudpar, jumlah situs karst yang ada di daerah Wonogiri berjumlah 7 situs yang tersebar di wilayah selatan Kabupaten Wonogiri.

[caption caption="Museum Karst Indonesia (Sumber: Survei lapangan, 2016)"][/caption]Dari ketujuh situs yang ada beberapa sudah terkenal bahkan salah satunya merupakan pusat geopark Gunung Sewu di Pracimantoro. Situs yang pertama adalah kawasan museum karst Indonesia di mana kawasan tersebut merupakan pusat geopark gunung sewu, kawasan ini terdiri dari satu museum dan 6 gua yang berada di sekitarnya. Selain kawasan taman bumi, juga terdapat 3 pantai karst yang mempesona dengan pasir putihnya serta ombanknya yang kencang yaitu Pantai Nampu, Pantai Sembukan dan Pantai Banyuwoto yang terdapat mata air keluar di pantainya. Keindahan lainnya juga dilihat dari perbukitan karst yang berjajar sepanjang jalan dari Baturetno hingga ke pantai. Situs yang terakhir adalah Gua Putri Kencana, gua ini cukup terkenal dikarenakan stalaktit dan stalakmitnya sudah terbentuk dengan indah dengan lorong gua yang besar dan masih berada di kawasan Pracimantoro.

[caption caption="Pantai Sembukan di Paranggupito, Wonogiri (Sumber: Survei lapangan, 2016)"]

[/caption]Potensi karst yang ada di daerah Wonogiri cukup tinggi dan menguntungkan apabila dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat di Kota Gaplek. Potensinya dapat berupa pariwisata, sumber air bawah tanah dan perikanan laut. Khusus perikanan laut lantaran kawasan karst di Wonogiri bersinggungan langsung dengan laut selatan, namun ombak yang deras di Pantai Selatan cukup jadi penghalang nelayan tradisional. Pariwisata di kawasan karst dibuktikan dengan berdirinya Museum Karst Dunia di Pracimantoro dan beberapa pantai karst yang mulai dikembangkan pariwisatanya, sedangkan sumber air bawah tanah lokasinya yang terdapat di beberapa titik dimanfaatkan untuk pertanian dan kehidupan sehari - hari. Namun pemanfaatan yang dilakukan saat ini justru bersifat merusak kawasan karst itu sendiri.

Kebanyakan permasalahan di daerah karst hampir sama yaitu penambangan batuan gamping secara berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan hidup. Sedangkan contoh riil permasalahan karst di Kabupaten Wonogiri adalah Pemerintah Kabupaten Wonogiri telah menerbitkan IUP Eksplorasi Batu Gamping No.545.21/006/2011 dan IUP Eksplorasi Tanah Liat No.545.21/007/2011 kepada PT Ultratech Mining Indonesia (PT.UMI). Sementara pemerintah Kab. Wonogiri telah mengeluarkan ijin eksplorasi kepada PT UMI, namun juga memaksanakan untuk membuat RDTRK Giriwoyo yang bertentangan dengan RTRW Kab. Wonogiri, agar seolah-olah pelaksanaan tersebut legal dan tidak menyalahi aturan. Yang lebih parah lagi saat ini, ada penambangan ilegal yang dilakukan oleh PT. RATNA dengan melakukan penambangan di Gunung Wiyu Desa Sejati Kecamatan Giriwoyo, yang telah mempengaruhi mata air yang ada di bawah lokasi penambangan yaitu Sumber air Telang, fungsi mata air ini untuk mengairi kurang lebih 42 ha lahan pertanian. Di dalam pasal 68 angka 12 huruf I, Perda RTRW Kab.Wonogiri No.9 tahun 2011, disebutkan bahwa : tidak diperbolehkan menambang batuan di perbukitan yang dibawahnya terdapat mata air penting atau permukiman (Ning Fitri, 2015).

Solusi dari permasalahan ini adalah kesadaran semua pihak betapa pentingnya menjaga kelestarian ekosistem karst. Kesadaran semua pihak harus didukung semua pemangku kepentingan, khususnya para pejabat negara baik dari tingkat kelurahan/desa, kecamatan hingga kabupaten untuk tetap melestarikan keberadaan lingkungan hidup yang kita tempati sampai anak cucu kita kelak nanti. Terutama pemerintah daerah Wonogiri yang harus lebih tegas dan selektif dalam memberikan izin kepada penambang batuan gamping di daerahnya. Pelestarian kawasan karst harus dilakukan karena kawasan karst merupakan daerah yang rapuh dan mudah rusak serta cadangan air tanah untuk masyarakat di sekitar kawasan karst.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x