Mohon tunggu...
ACJP Cahayahati
ACJP Cahayahati Mohon Tunggu... Insinyur - Life traveler

tukang nonton film, betah nulis dan baca, suka sejarah, senang jalan-jalan, hobi jepret, cinta lingkungan, pegiat konservasi energi dan sayang keluarga

Selanjutnya

Tutup

Gadget Pilihan

Syok Digital di Masa Pandemi, Berkah atau Bencana?

14 Januari 2021   17:16 Diperbarui: 14 Januari 2021   17:25 202
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Digitalisasi (dokumen pribadi)

Syok digitalisasi terjadi di banyak tempat dengan adanya pandemi tak terduga dan demikian berkepanjangan ini. Sebagai aktor kehidupan tidak ada upaya lain, supaya kita tetap dapat berkiprah, selain melebur diri dengan situasi. Syok harus dikendalikan, buka mata, bersabar dan turut mengalir dalam arus keramaian, kalau tidak ingin tersangkut dan tertinggal, ya kan?

Bukan lagi vision masa depan, mahasiswa kuliah dari kamar tidurnya, bekerja bisa bekerja dari mana saja, menyalakan lampu jarak jauh dari smartphone. Di Jerman sejak tahun 2018 sebetulnya ibu Merkel, Kanselir Jerman yang akan pensiun sebagai Kanselir Jerman tahun 2021 ini, gembar gembor dan gencar menyemangati untuk pelaksanaan Digitalisasi Industri. Walaupun konon Jerman itu mbahnya penyair dan penemu, tidak semua orang di balik Industri Jerman, up to date. Profesor saya dulu ketika smart phone demikian menjamur, hp nya bukan yang smart lho. Tapi jangan ditanya isi kepalanya, very smart tentunya.

Di tempat saya kerja, bos Jerman di rapat pertama bulan Januari 2019 dua tahun y.l. langsung membuka sambutannya dengan mengacu ke anjuran ibu Merkel ini, dan menyampaikan rencananya merakit kantor kami menjadi serba digital. Sejak itu kantor kami serba  terkoneksi, memiliki Cloud di server serba mega dan software-software baru pun meramaikan kegiatan kerja kami. Padahal kami hanyalah kantor yang terdiri dari 9 orang saja termasuk pak bos. Sehingga setahun kemudian tanpa diduga karena Corona, mulai Maret 2020 kami harus home office atau work from home, sisi baiknya kami sudah cukup siap.

Namun, apakah alur kerja di Industri juga lancar dengan siapnya digitalisasi ini? Itu lain cerita. Digitalisasi itu hubungannya sangat erat dengan manusia. Digitalisasi hanyalah tools, manusia di belakang perkakas ini, yang menentukan kelancarannya. Tidak selalu mudah untuk merubah gaya hidup atau cara kerja, artinya meninggalkan comfort zone dan masuk ke dunia baru. Nah ... di sinilah permasalahan seringkali timbul. Bisa jadi kantor kami siap, tapi proyek yang kami kerjakan adalah proyek milik orang atau perusahaan lain. Nah, perbedaan kebijakan perusahaan atau perorangan seringkali tidak sama kecepatannya, di sinilah seringkali permasalahan timbul.

Dunia arsitek atau konstruksi saja, yang saya kenal cukup baik, berangkat dari gambar teknik manual sekarang sudah masuk era CAD (Computer Aided Design), membutuhkan waktu lama sampai betul-betul terealisasi. Dulu untuk menggambar teknik orang masih membutuhkan meja gambar dkk. Sekarang orang hanya butuh komputer atau laptop yang menunjang software CAD. Untuk CAD saja softwarenya banyak pilihan ada SketchUp, Revit, Allplan, CATIA dll.  Tidak heran, di universitas dan sekolah tinggi Jerman, jurusan informatik sekarang banyak spesialisasinya, seperti Informatika Kedokteran, Informatika Biologi, Informatika Bisnis, Informatika Hukum dll.

Digitalisasi Dini dan Paksa 

Digitalisasi secara definisi mengandung arti merubah data analog ke dalam format digital dan pengerjaan atau perekamannya bisa dalam sistem teknik digital pula. Keuntungan dari digitalisasi ini adalah efisiensi waktu karena prosesnya lebih cepat dan lebih presisi, bahkan di dunia CAD misalnya dapat dilihat secara 3 dimensi dari berbagai sudut. Kekurangannya dari digitalisasi ini adalah kebergantungannya akan internet, server memadai, komputer atau laptop yang menunjang dan tentu saja ketersediaan listrik.

Dengan adanya pandemi berkepanjangan dan cukup tiba-tiba, digitalisasi bisa jadi menjadi terlalu dini dan dipaksakan di perusahaan-perusahaan dan kantor-kantor. Sehingga banyak yang tidak siap dengan infrastrukturnya. Untungnya karena kami di kantor sebelum Pandemi sudah berusaha mendigitalisasi diri, jadi dengan home office atau wfh tiba-tiba ini tidak terlalu syok. Walaupun software-software penting kami tidak ada dalam laptop atau cpu rumah tapi kami dapat mengaksesnya dari mana pun kami berada.

Namun bayangkan bila kita tidak siap dengan server, software, laptop apalagi listrik dan internet. Ketidakberadaan listrik dan internet saja di era digital bukan hanya seperti nasi tanpa garam, tapi ya gak ada nasi sama sekali, alias gak bisa bekerja. Digitalisasi memang tidak bisa berjalan sendiri, infra struktur penunjangnya harus terjamin.

Walaupun Indonesia beberapa tahun terakhir ini rasio elektrifikasinya terus bertambah dan hampir 100%. NTT dan Kalimantan Barat misalnya masih membutuhkan listrik. Tidak heran bila proses inovasi dan digitalisasi Indonesia masih tertinggal bahkan dibanding negara-negara ASEAN. Menurut ADB (Asian Development Bank) tahun 2020 tingkat inovasi dan digitalisasi Indonesia hanya 0,08 di bawah rata-rata negara ASEAN 0,7.  Thailand dan Vietnam misalnya masing masing tingkat inovasi dan digitalnya 0,62 dan 0,44 [1].

Untuk digitalisasi dan sistem IT, listrik dibutuhkan di seluruh dunia tahun 2018 di bidang Informasi dan Komunikasi saja sebanyak 2300 TWh, 10% dari itu hanya untuk internet. Menurut penelitian Kementrian Perekonomian Jerman kebutuhan sebuah Data Center termasuk server dkk tahun 2015 sebanyak 18 TWh [2].

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gadget Selengkapnya
Lihat Gadget Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun