Mohon tunggu...
ACJP Cahayahati
ACJP Cahayahati Mohon Tunggu... Insinyur - Life traveler

tukang nonton film, betah nulis dan baca, suka sejarah, senang jalan-jalan, hobi jepret, cinta lingkungan, pegiat konservasi energi dan sayang keluarga

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Budaya di Balik Budaya (Edisi Kampretjebul-3)

21 Februari 2015   23:59 Diperbarui: 17 Juni 2015   10:45 424
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption id="attachment_398369" align="aligncenter" width="589" caption="Karnaval minggu lalu, lihat ini jadi ingat rampak kendang (dok pribadi)"][/caption]

Minggu lalu, di beberapa bagian di Eropa, seperti dituliskan oleh beberapa kompasianer suka jepret yang bermukim di Eropa, sedang demam karnaval. Pawai budaya yang selalu dihelat pada akhir musim dingin dan setiap awal tahun ini sangat menarik.

Sebagai bagian dari penduduk setempat, walaupun saya tidak turut merayakannya dengan turut berkostum, tapi saya bisa merasakan denyut budaya yang menguat. Jalan-jalan dihiasi dengan bendera dari potongan kain yang berwarna-warni, lagu-lagu mars khas karnaval saat pawai terdengar di mana-mana, rombongan orang dengan pakaian mencolok, aneh, lucu, dan mengerikan terlihat di setiap pelosok kota di pawainya apalagi, jalan-jalan pun ditutup dan semua terlihat berwajah ceria dan tersenyum. Dan yang saya herankan itu ... sekolah anak-anak libur seminggu !!! Duh .... sampai segitunya.

Terus terang, sampai sekolah diliburkan seminggu bagi saya itu sebuah sinyal bahwa karnaval atau di beberapa tempat di Jerman disebut Fasnet, Fasching ini dianggap sangat penting barangkali ya. Walaupun buat pegawai sih, ya kerja jalan terus bukan libur nasional atau harpitnas ... harpitnas kok seminggu penuh (memang enak jadi guru di Jerman, gajinya besar, liburnya sering). Anak-anak saya sih ya tentu senang-senang saja tidak perlu masuk sekolah, seminggu lagi.

Ada budaya di balik budaya terutama karnaval ini, yang ingin saya angkat dan menarik untuk diceritakan. Bila di Jakarta Ahok atau di Surabaya ibu Risma kecewa dengan kondisi yang ditinggalkan sesudah perhelatan atau acara kota apa saja, entah itu taman yang rusak terinjak-injak atau sampah tersebar di mana-mana, maka di kota tempat saya tinggal di Jerman ini, walaupun tradisi kota dari tahun ke tahun berulang dan banyak sekali macamnya, ada karnaval, ada pesta kota musim panas, ada pesta anak, ada pesta internasional, ada pasar seni kota musim panas, ada pasar barang bekas kota dll tidak pernah menjadi masalah atau keributan berita. Kuncinya adalah organisasi yang baik.

[caption id="attachment_398375" align="aligncenter" width="592" caption="Pesta seni kota (dok pribadi)"]

1424472115289971184
1424472115289971184
[/caption]

[caption id="attachment_398373" align="aligncenter" width="579" caption="Pesta musim panas (dok pribadi)"]

1424470998873072218
1424470998873072218
[/caption]

[caption id="attachment_398374" align="aligncenter" width="576" caption="Pesta anak (dok pribadi)"]

14244720511799009741
14244720511799009741
[/caption]

Sebuah kota, komunitas atau masyarakat tanpa budaya menurut saya, yang orang Sunda, jadinya akan garing pisan .... yah seperti makanan tanpa garam, seperti lebah tanpa madu, seperti apa lagi ya ... sambal tanpa cabe hehehe. Immanuel Kant seorang filosof Jerman mengatakan bahkan manusia dan budaya adalah tujuan akhir dari alam.

Manusia membutuhkan ruang gerak, bila masyarakatnya tidak bisa buang sampah di tempatnya maka perlu dicarikan solusinya entah itu disiapkan tempat sampah yang menyolok di mana-mana, entah itu sensibilisasi gencar akan dampak kota yang kotor, atau mengumumkan denda yang keras dan konsekuen untuk tindak buang sampah sembarangan atau menyiapkan satu pasukan pembersih di akhir acara.

Lalu bila masyarakatnya tidak bisa membedakan mana taman dan mana jalan, ya juga perlu dicari solusinya, supaya tidak terulang lagi di kemudian hari entah itu dengan memagari taman dengan pagar tinggi atau acara tidak dilakukan di taman kota. Tapi menghentikan segala perhelatan kota sebagai bagian dari budaya masyarakat yang memang dibutuhkan komunitas, bukan solusi yang baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun