Mohon tunggu...
Kristianto Naku
Kristianto Naku Mohon Tunggu... Penulis - Analis

Mencurigai kemapanan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kebebasan Beragama dalam Dokumen Dignitatis Humanae

7 November 2021   22:50 Diperbarui: 7 November 2021   22:52 893
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kebebasan beragama dan toleransi di Indonesia. Sumber: https://www.medcom.id.

Dokumen Dignitatis Humanae (DH) memang merupakan ajakan dan panggilan bagi semua orang untuk menghormati kebebasan beragama. Akan tetapi, bagi orang Kristiani ajakan ini memiliki resonansi dan implikasi yang jauh lebih kuat karena itu merupakan bagian dari keberimanan dan kemuridan orang Kristen sebagai pengikut Kristus.

Maka, ketika seseorang atau sebuah komunitas Kristiani tidak toleran atau melakukan pemaksaaan dan kekerasan terhadap orang yang beragama lain, maka hal itu tidak hanya bertentangan dengan hukum sipil, melainkan juga bertentangan dengan iman dan identitasnya sebagai pengikut Kristus.

Bagian II Dignitatis Humanae meneropong kebebasan agama dari perspektif iman kristiani. Bagian ini memperlihatkan pribadi Kristus sendiri sebagai inspirasi dan teladan bagi orang Kristiani dalam berelasi dengan mereka yang beragama lain. Sebagai pengikut Kristus, orang Kristiani dituntut untuk selalu bersikap lemah-lembut dan rendah hati, dengan sabar mengambil hati, dan mengajak para murid-Nya (DH 11; Mat. 11:28-30).

Hal ini selaras dengan apa yang dibuat Yesus sendiri berhadapan dengan orang-orang kafir (non-Yahudi). Berhadapan dengan mereka, Ia selalu bersikap terbuka, bahkan melaksanakan pewartaan kabar baik dan mujizat di tengah mereka. Selain itu, Yesus senantiasa berpikir positif terhadap orang-orang kafir, mengakui dan memuji kualitas-keunggulan iman mereka yang kadang-kadang lebih mendalam dibandingkan orang-orang Yahudi (cf. kisah iman Pegawai Romawi dan Perempuan Samaria dan Fenisia).

Yesus membuat mujizat, bukan dengan motivasi untuk memaksa para pendengar-Nya, melainkan untuk mendukung dan meneguhkan pewartaan-Nya. Memang Ia mengecam ketidakpercayaan para pendengar-Nya, dan di saat yang sama, Ia tetap menyerahkan hukuman kepada Allah pada hari pengadilan (cf. Mat 11:20-24; DH 11). Yesus menampailkan profil Allah yang sabar, memberi kebebasan bagi manusia. Ia membiarkan gandum bertumbuh bersama lalang, bersabar sampai waktu menuai tiba (cf. Mat 13:30).

Yesus tidak mau menjadi Almasih politik yang memerintah dengan kekerasan; sebaliknya Ia lebih senang dan rela menjadi seorang pelayan-hamba yang melayani dengan rendah hati bahkan sampai mengorbankan nyawa-Nya (cf. Mrk 10:45). Yesus juga mengakui pemerintah serta hak-haknya, ketika membayar pajak kepada kaisar, tetapi dengan jelas mengingatkan bahwa hak-hak Allah yang lebih tinggi wajib dipenuhi (cf. Mat 22:21; DH 11).

Akhirnya, melalui penderitan-wafat di Salib dan kebangkitan-Nya, Ia mengukuhkan dan menyempurnakan Kerajaan-Nya; namun Kerajaan itu tidak dicapai-Nya dengan jalan kekerasan, melainkan dengan jalan cinta kasih, kebenaran, dan pengorbanan-penderitaan. Yesus menarik semua orang kepada-Nya, bukan dengan propaganda politik-religius atau kekerasan, melainkan melalui "ditinggikan" di Salib (cf. Yoh 12:32).

Oleh karena itu, DH mengajak semua orang Kristiani untuk menempuh jalan Kristus, yakni mengakui dan mendukung azas kebebasan beragama sebagai prinsip yang selaras dengan martabat manusia dan wahyu Allah.

Sebagaimana Kristus, hendaknya setiap pengikut Kristus berhati terbuka, menghormati, dan bersikap lemah-lembut, sabar, dan rendah hati, bahkan bila perlu rela berkorban-menderita terhadap mereka yang beragama lain sehingga terciptanya kedamaian, persaudaraan, dan kebaikan bersama; maka segala bentuk tindakan propaganda, pemaksaan dan kekerasan bertentangan dengan iman dan keterpanggilan kita sebagai pengikut Kristus (cf. DH 12).

Akan tetapi, DH tetap mengingatkan setiap umat beriman terutama dalam membentuk suara hati, untuk wajib mengindahkan dengan saksama perintah Tuhan "Ajarilah semua bangsa" (Mat 28:19) dengan ajaran Gereja yang suci dan pasti (cf. DH 14). Setiap murid Kristus diserahi tugas dan perutusan untuk mengungkapkan dan mengajarkan secara otentik Sang Kebenaran, yakni Kristus kepada semua orang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun