Mohon tunggu...
Kristianto Naku
Kristianto Naku Mohon Tunggu... Penulis Daring

Penulis Daring dan Blogger. Aktif menulis di blog pribadi, jurnal ilmiah, majalah, surat kabar harian, dan menjadi editor majalah dan jurnal ilmiah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kaleidoskop 2020: Belajar Apa?

30 Desember 2020   10:27 Diperbarui: 30 Desember 2020   10:31 124 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kaleidoskop 2020: Belajar Apa?
Ilustrasi perjalanan tahun 2020. Sumber: FierceHealthcare.com.

Kapan kita bisa melempar senyum tanpa masker? Kapan kita mulai bersalaman dan merangkul sesama tanpa mencuci tangan? Sampai di pengujung 2020, cita-cita ini tetap menjadi harapan. Tahun baru 2021 akan tiba. Di sana kita tetap melibatkan 2019 dan 2020. Pandemi Covid-19 tetap terlibat saat tahun baru menuju tiba. Dari awal instal 2020 hingga masa expired di pengujung Desember kita tetap berharap. Yang paling utama menuju tahun baru adalah soal kesiapan. Inilah (kesiapan) kegagalan yang mengarantina kita di sekujur 2020. "The big problem and outbreak in 2020 is unready." Siapkah kita menyosong tahun 2021?

Tahun 2020 hampir usai. Hari ini, kita memasuki hari terakhir dari rentang tahun 2020. Besok adalah hari transisi, hari menanti pergantian. Kita perlu mengemas semua persiapan menuju tahun yang baru. Tak terasa kita berada di pengujung. Apa yang sudah dibuat? Peristiwa apa yang sudah kita lalui bersama? Keberhasilan apa yang sudah kita capai? Seberapa banyak kegagalan yang telah kita alami? Siapa yang sudah pernah kita bantu? Bagaimana dengan komitmen kita ketika memasuki tahun 2020 kemarin? Adakah komitmen baru yang akan dibuat menyambut tahun yang baru?

Tahun 2020 memang dberi banyak label. Ada yang bilang tahun 2020 adalah tahun sial, tahun malapetaka, tahun paling sempit ruang geraknya, tahun bangkrut, tahun wabah, tahun paling polemik, tahun lama karena tak ada yang baru, tahun titipan tahun sebelumnya karena selalu dilatari pandemi Covid-19. Akan tetapi, bagi orang-orang tertentu, tahun 2020 adalah tahun peluang, tahun mengembangkan kreativitas, dan tahun inovatif. Dengan latar pendemi Covid-19, banyak orang berusaha menemukan cara-cara baru untuk survive, bekerja, berdinamika, berbisnis, belajar dan berusaha menemukan strategi baru yang menunjang kemajuan.

Di sekujur tahun 2020, ada begitu banyak peristiwa, baik nasional maupun global terjadi. Akan tetapi, semua peristiwa ini diberi latar khusus: pandemi Covid-19. Semua lini kehidupan disedot-habis oleh musibah mundial ini. Tak ada yang mampu melawan. Petugas kesehatan sebagai mesin utama penantang wabah ini justru takluk. Ketika dunia kesehatan tak berstamina melawan pandemi, sektor-sektor lain pun ikut roboh. Ekonomi lumpuh, bisnis ambruk, pekerjaan hilang, Tuhan serasa jauh, pendidikan kacau. Semuanya ambruk diterpa badai pandemi Covid-19.

Apa yang tersisa? Yang tersisa justru harapan. Berharap pada tim medis, berharap pada pemerintah, berharap pada orang-orang baik, berharap pada Tuhan, berharap pada tetangga, berharap pada anak, isteri-suami, berharap pada vaksin, dan tentunya berharap pada kemajuan teknologi. Jawaban dari liang harapan ini beragam. Ada yang antusias dan ada juga yang apatis.

Secara global tahun 2020 dibuka dengan kehadiran virus korona baru yang mucul pertama kali di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Di bulan Januari, secara nasional Indonesia mengalami situasi memanas di sekital Kepulauan Natuna. Perebutan zona perairan laut membuat Indonesia dan Cina adu kekuatan. Pada bulan Februari, negara-negara di seluruh dunia menanggapi secara serius penyebaran virus corona. Beberapa negara di sekitar wilayah Cina mulai memberlakukan proteksi wilayah dengan istilah beragam, seperti karantina wilayah, cek suhu, mekanisme lockdown. Indonesia kala itu ikut membuat kebijakan. Seluruh warga negara Indonesia di Cina, khususnya di Wuhan, dijemput dan dikarantina.

Pada bulan Maret 2020, Indonesia dikejutkan dengan berita tiga pasien positif virus korona. Hal ini membuat masyarakat Indonesia panik. Semua lini kehidupan tiba-tiba berubah. Mekanisme karantina wilayah, lockdown total, pembelakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di banyak tempat. Semua panik. Di bidang ekonomi, muncul pandemi panic buying. Masyarakat berlomba-lomba membeli kebutuhan pokok untuk ditimbun. Pengetatan sistem surveilans daerah maupun warga ditingkatkan. Alhasil, banyak orang kehilangan segala-galanya.

Dari Maret -- Juni 2020, peningkatan pengetatan protokol penanganan Covid-19 dibidik serius. Indonesia kemudian membuat satu senjata khusus menangani pandemi ini, yakni Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Semua orang dianjurkan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Pandemi masker dan handsanitaizer merebak di seluruh dunia. Dari wilayah yang paling terisolasi hingga wilayah perkotaan menerapkan kebijakan siaga satu lawan Covid-19. Beberapa lorong dan jalan-jalan tertentu diberi pembatas: "Maaf sedang lockdown!"

Rentang waktu Maret menuju Juni memang menjadi ruang horor. Di mana-mana kita menyaksikan ada begitu banyak polemik yang terjadi di berbagai tempat, baik global maupun regional. Di beberapa negara, pengerahan kekuatan aparat keamanan dalam penanganan Covid-19 terjadi secara brutal. 

Bahkan, mereka yang hendak pulang kampung saja, ditolak warga kampung dan keluarganya sendiri. Pasien Covid-19 dan petugas medis mendapat perlakuan diskriminasi dan kerapkali mendapat penolakan dari warga. Mereka yang meninggal dengan diagnosis Covid-19 dikuburkan dengan cara yang "kurang manusiawi." Bentrok antara warga dan petugas medis juga kerap kali terjadi. Selain bentrok antara warga dan petugas medis, bentrok sesama warga terkait penanganan Covid-19, juga semakin memanas dan diperparah.

Ekonomi rapuh. Bisnis gulung tikar. Buruh di-PHK dan kehilangan pekerjaan. Rumah-rumah ibadah dikosongkan. Bioskop tutup. Pusat perbelanjaan tak lagi dikunjungi. Institusi pendidikan memberlakukan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tempat wisata sepi. Ramai-ramai pulang kampung. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x