Mohon tunggu...
Krisna Widayati
Krisna Widayati Mohon Tunggu...

Merakit.

Selanjutnya

Tutup

Musik

Memahami "Watch Over You", Menjaga yang Tak Merasa Dijaga

7 Mei 2019   19:50 Diperbarui: 7 Mei 2019   19:53 0 1 1 Mohon Tunggu...

Mendengarkan lagu pada saat ada waktu luang itu merupakan kebiasaan saya sejak dulu. Bukan hanya saat ada waktu luang ding, tapi setiap saya ingin mendengarkan. Entah itu saat belajar sebelum ujian, mengerjakan tugas, makan, sebelum tidur, atau saat memikirkan dia, eh.

Jujur, saya tidak mengerti tentang musik, hanya saja suka. Suka bernyanyi, suka dengan melodi yang mengalun, suka pada lirik dengan kata-kata yang dibuat indah atau apa adanya. Saya akan langsung putar berkali-kali lagu itu kalau ternyata liriknya pas dengan kisah hidup saya. Kalau pas lagu yang bahagia, ya saya bisa senyum-senyum sendiri layaknya orang gila. Tapi kalau pas lagu yang sedih alias mellow, ya saya bisa nangis di pojokan.

Lebay? Ah, biar saja.

Karena mungkin nyatanya saya memang selebay itu hehehe. Saya bahkan punya list lagu sedih yang sudah terbukti bisa buat saya  menangis saat mendengarnya baik saat sendiri atau di keramaian sekalipun. Saya akan bahas salah satu dari beberapa lagu itu, yang jujur saja baru kemarin sore saya sadar betapa menyedihkannya lagu tersebut.

Saya tidak tahu seberapa populer lagu ini di telinga masyarakat Indonesia, dan bahkan saya ragu bahwa lingkaran teman-teman saya sendiri akan tahu atau minimal pernah mendengar lagu ini. Watch Over You milik band dengan aliran hard rock asal Amerika, Alter Bridge. Penciptanya adalah Mark Tremonti dan Myles Kennedy yang merupakan gitaris serta vokalis dari Alter Bridge, yang  kemudian merilis lagu ini pada tahun 2008. Saya sendiri baru tahu lagu ini sekitar awal tahun 2017 dari teman yang memang sering memberi tahu lagu-lagu dari band beraliran rock seperti I Don't Want to Miss a Thing milik Aerosmith, Cancer milik My Chemical Romance, She's Thunderstorms milik Arctic Monkeys, atau Heartache milik One Ok Rock. Tidak tahu kenapa, saya selalu suka dengan lagu-lagu rekomendasi dari dia, salah satunya, ya Watch Over You ini.

Saya tidak akan bahas tentang melodi, petikan gitar, gebukan drum, atau suara sang vokalis karena di awal saya sudah bilang kalau saya tidak mengerti hal-hal tersebut hehe. Tapi yang jelas saya jatuh cinta dengan lagu ini sebagai satu kesatuan, terutama liriknya. Saya mencoba memaknai dari sisi orang yang menulis atau menyanyikan lagu tersebut. Artinya, ini adalah murni dari apa yang saya pahami setelah saya mendengar, membaca, dan menyanyikannya. Anggap saya adalah "aku" pada lagu tersebut. Jadi kalau ada yang tidak setuju, ya silakan, itu bebas. Sebab bagi saya, seni itu bukan sesuatu yang mengikat. Ia dapat dinikmati dengan cara apa saja dan dari sisi manapun hehe.

Sejak pertama kali dengar, saya hanya fokus pada kalimat "Who is gonna save you when I'm gone?". Saya anggap bahwa kalimat tersebut adalah suatu upaya untuk mengatakan kepada seseorang yang kita sayang kalau mau diakui atau tidak, kita menjadi bagian penting dalam menjaga dan melindunginya. Suatu perasaan khawatir apabila kita benar-benar pergi meninggalkannya. Saya sempat berpikir bahwa kepergian di sini adalah jenis kepergian untuk sesuatu yang memang diinginkan. Tapi di mana ada kepergian yang diinginkan? Perpisahaan macam apa yang tidak menimbulkan luka? Intinya saya malah ingin seseorang itu segera sadar sebelum kepergian itu terjadi.

Kalimat kedua yang menjadi fokus saya adalah "How can you love someone and not yourself?". Saya justru mengira bahwa kalimat ini ditujukkan untuk diri sendiri. Bagaimana bisa kita mencintai orang lain sedangkan tidak pada diri sendiri? Walaupun saya menginginkan agar kepergian dan perpisahan itu tidak terjadi, tapi saya yakin bahwa selalu ada sebab dan alasan dari suatu kejadian, entah itu hal yang menyenangkan atau menyedihkan. Melihat kalimat tersebut, saya rasa alasan menyedihkan lebih tepat untuk menjadi penyebab kepergian itu. Seperti ada makna tersirat bahwa demi kesehatan jiwa dan kebahagian saya, kepergian adalah pilihan yang tepat. Bagaimana jika dengan kepergian itu keadaan saya malah akan lebih buruk dari sebelumnya? Atau memang kepergian saya ini adalah demi kebahagiaan orang yang saya cintai? Siapa yang tahu? Saya masih belum paham, juga belum sadar kalau ternyata telah melewatkan sesuatu.

Sampai pada kemarin sore selepas buka puasa, saya mendengarkan lagu ini lagi, sambil menyanyikannya. Kali ini dengan lebih cermat. Karena tidak hafal keseluruhan liriknya, saya mencoba mencarinya di Google. Intro lagu mengalun, saya masih menikmati, dan tanpa sadar saya nyengir sendiri saat sampai di bait kedua. Bagaimana bisa saya melewatkannya? Hal yang paling penting. Hal yang bisa menjawab semua terkaan dan pertanyaan saya di atas. Saya tetaplah Krisna dengan tingkat kekhilafan yang kadang keterlaluan dan malu-maluin -_-

Di situ jelas tertulis "I tried to carry you and make you whole. But it was never enough. I must go". 

Haaah, hati saya teriris membacanya. Menulis ini pun saya harus sambil mengusap air mata. Lebay memang, heran saya. Jadi, ternyata alasan yang membuat saya harus pergi itu adalah karena saya tidak mampu membuatnya tetap utuh dan merasa cukup. Selama ini sudah sekuat tenaga saya untuk menjaga dia walau saya tahu kalau saya perempuan dan bukan seharusnya untuk menjaga (selain karena kami memang bukan siapa-siapa). Bisakah saya tetap menjaganya walau dari jauh dan dalam kepergian ini? Atau memang saat dekat maupun jauh seperti sekarang, saya tidak akan pernah bisa menjaganya? Kata menjaga mungkin kurang tepat ketika ternyata orang tersebut tidak merasa sedang dijaga. Lalu apa? Saya bahkan baru ingat kalau pernah bilang bahwa saya tidak mampu menjaganya. Pikiran saya melayang jauh. Overthinking saya kambuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x