Mohon tunggu...
Kris Banarto
Kris Banarto Mohon Tunggu... Praktisi Bisnis

www.manajementerkini.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Resesi, Seberat Apa Penderitaan Rakyat?

7 Agustus 2020   07:46 Diperbarui: 18 Januari 2021   16:39 210 45 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Resesi, Seberat Apa Penderitaan Rakyat?
Image by Gerd Altmann from Pixabay

Badan Pusat Statistik (BPS) pada (05/08) telah merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia Q2 (April-Juni) adalah negatif 5.32% (yoy), jauh lebih buruk pada Q1 (Januari-Maret) sebesar 2.97%. Pertumbuhan minus sebagai dampak penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), sehingga terjadi penurunan aktivitas ekonomi.

Suatu negara di kategorikan resesi apabila Pendapatan Domestik Bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi mengalami pertumbuhan negatif selama dua kuartal secara terus menerus dalam periode satu tahun.

Artinya lampu kuning perekonomian Negeri Seribu Pulau ini, manakala Q3 (Juli-September) kembali tumbuh negatif, maka akan memasuki fase resesi. Dan melihat kenyataan di lapangan masih banyak industri yang belum move on, bisa jadi negara dengan penduduk dua ratus enam puluh juta jiwa ini kembali menelan pil pahit.

Kinerja perekonomian di Q2 yang memburuk besar kemungkinan sebagai akibat di terapkannya PSBB sebagai upaya pemerintah untuk meredam laju pertumbuhan Covid-19. Tapi di luar perkiraan jumlah korban tidak dapat ditekan, dan ekonomi yang justru tertekan.

Konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang terbesar PDB dengan porsi setengahnya yaitu 57.85% tumbuh minus 6.9%, diperkirakan selama menjalani karantina, mengurangi aktivitas belanja rumah tangga. Penyumbang kedua adalah indikator investasi dengan porsi 30.61% tumbuh minus 8.61%, bisa jadi banyak investor yang melakukan wait and see.

Di urutan ke tiga konsumsi pemerintah dengan porsi 8.67% tumbuh negatif 6.9%, ini yang membuat Presiden Jokowi berang, karena serapan anggaran belanja pemerintah sangat kecil, di bidang kesehatan misalnya baru terserap 5.12% dari total anggaran 87 triliun (Kompas.com, 08/07/2020).

Walaupun demikian bumi pertiwi boleh tersenyum adanya sektor-sektor yang membukukan pertumbuhan positif. Sektor-sektor tersebut adalah  informasi dan komunikasi, jasa dan keuangan, pertanian, real estate, jasa pendidikan, jasa kesehatan dan pengadaan air (Tirto.id, 05/08/2020).

Dampak Resesi

  • Sebagai dampak resesi maka akan terjadi peningkatan pengangguran, diprediksi sampai tahun 2021 akan berjumlah 10 juta sampai 12 juta pekerja kehilangan pekerjaan.
  • Penduduk miskin akan bertambah menjadi 9.2 juta sampai 9.7 juta pada tahun depan, salah satunya disebabkan penurunan upah, karena pembatasan jam kerja.
  • Sektor industri yang berdampak adalah sektor perdagangan, industri manufaktur, konstruksi, jasa perusahaan dan akomodasi serta sektor makanan dan minuman.
  • Saat ini (06/08) kurs Rp. 14.587,- dan IHSG Rp. 5.183, dua indikator yang saling berkaitan telah melemah sebesar 7% hingga 13% dibandingkan sebelum Covid-19 pada Februari 2020.
  • Inflasi kemungkinan akan mengalami kenaikan, sebagai pengaruh lemahnya daya beli masyarakat. Dan suku bunga perbankan akan terjadi kenaikan.
  • Yang harus diwaspadai adalah dampak sosial yaitu meningkatnya angka kriminalitas, demo buruh dan para aktivis yang memanfaatkan panggung.

Sikap Masyarakat

Covid-19 bak angin puting beliung yang merusak  tatanan ekonomi yang telah dibangun, dan itu terjadi di seluruh belahan dunia. Tidak ada yang dapat meramalkan kapan Covid-19 akan berakhir.

Sebagai insan yang menaruh percaya pada Sang Khalik, menjadi kewajiban kita terus berkarya apa pun pekerjaan yang dilakukan akan memberikan kontribusi menggerakkan roda ekonomi nasional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN