Mohon tunggu...
Kris Banarto
Kris Banarto Mohon Tunggu... street buskers

Ad Majorem Dei Gloriam

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Financial Freedom, Benarkah Ajaran Ini?

8 Juli 2020   07:42 Diperbarui: 9 Juli 2020   07:35 1390 62 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Financial Freedom, Benarkah Ajaran Ini?
Image by Pexels.com

Di negeri ini betapa uang telah menjadi 'raja' pada seluruh denyut nadi kehidupan manusia, banyak hal dapat diatur dengan fulus, tanpa-nya membutuhkan waktu panjang atau urusan bisa jadi tidak rampung. 

Kalau ada cukup dana dapat memerlicin proses suatu urusan, atau dapat menghentikan laju masalah, bahkan dapat meraih sesuatu yang dikehendaki.

Betapa tidak, dengan uang dapat mengatur keputusan sang pengadil, mungkin hukuman menjadi lebih ringan atau bahkan yang lebih ekstrem dapat terbebas dari jeratan hukum, dan ini bukan suatu isapan jempol.

Kalau Anda melanggar lalu lintas, cukup katakan permohonan maaf dengan sopan kepada petugas, lalu sampaikan permintaan untuk dibantu karena tidak sempat untuk mengurus tilang (bukti pelanggaran) ke pengadilan dan berikan uang secukupnya, kemungkinan besar pak petugas akan luluh hatinya.

Tahun lalu negeri ini dihebohkan dengan peristiwa jual beli jabatan, pak menteri yang memegang tongkat komando untuk memerintah bawahannya telah menyalah gunakan wewenang-nya dan 'melelang' jabatan di lingkungan departemen yang di pimpin-nya.

Konon praktik semacam ini juga sudah membudaya di lingkungan angkatan, prajurit kalau ingin melanjutkan studi, kenaikan pangkat atau dinas ke luar negeri, jangan berharap banyak prosesnya akan mulus tanpa pemberian fulus kepada oknum atasan.

Pangeran Banten yang flamboyan betapa piawai mengatur sang ratu, dengan proyek-proyeknya yang miliaran rupiah, untuk memperkaya diri dan semua diatur dengan uang. Bahkan ada selentingan dengan uang dapat membuka peluang masuk ke sekolah-sekolah favorit, ah... ngeri kali negeri ini.

Diatas adalah beberapa contoh bagaimana hegemoni uang telah berkuasa secara absolut mengatur, memerintah, menekan, memaksa orang untuk melakukan sesuai dengan kesepakatan dua belah pihak pemberi dan penerima rupiah untuk memperlancar niat busuk-nya.

Perspektif Uang

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang melibatkan diri dalam pusaran praktik 'jual beli' dengan uang sebagai dewa diatas segala-galanya?. Bisa jadi mereka telah menempatkan uang sebagai tuan atas dirinya sendiri, ia tidak memerintah uang tetapi uanglah yang memerintah dirinya.

Menempatkan uang sebagai yang utama dalam hidupnya, toh memang demikianlah realita dalam praktik, tanpa uang 'orang-orang tertentu' akan kesulitan untuk ber-manuver dan ber-improvisasi, akhirnya tidak ada cara lain selain memburu uang habis-habisan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN