Mohon tunggu...
Koteka Kompasiana
Koteka Kompasiana Mohon Tunggu... Administrasi - Komunitas Traveler Kompasiana

KOTeKA (Komunitas Traveler Kompasiana) Selalu dibawa kemana saja dan tiada gantinya. | Koteka adalah komunitas yang didesain untuk membebaskan jiwa-jiwa merdeka. | Anda bebas menuliskan apapun yang berkaitan dengan serba-serbi traveling. | Terbentuk: 20 April 2015, Founder: Pepih Nugraha, Co-founder: Wardah Fajri, Nanang Diyanto, Dhave Danang, Olive Bendon, Gana Stegmann, Arif Lukman Hakim, Isjet, Ella | Segeralah join FB @KOTeka (Komunitas Traveler Kompasiana) Twitter@kotekasiana, Instagram @kotekasiana dan like fanspage-nya. Senang jika menulis di Kompasiana, memberi tag Koteka dan Kotekasiana di tiap tulisan anda! E-mail: Kotekakompasiana@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Event Komunitas Online Artikel Utama

Ngobrol Sekilas Warsawa dan Situasi Pandemi di Sana Bersama Dubes Anita, Yuk!

19 Juli 2022   07:00 Diperbarui: 20 Juli 2022   11:30 325 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ke Warsawa, yuk! (dok. Koteka)

Hi, everyone. Apa kabar, semuanya?

Sehat dan bahagia, bukan.

Sabtu lalu, Mimin sudah mengajak kalian ke Dieng, negeri di atas awan. Mas Ova yang aktivis Yayasan Konservasi Linkungan atau Koling Wonosobo sudah menceritakan keindahan apa yang bisa kita kunjungi di sana. 

Mata kita sudah mengerjap, melihat halaman pertama presentasi mas Ova. Peta berwarna neon yang menunjukkan di mana letak tempat indah yang bisa kita nikmati. Mulai dari Candi Dieng, Tuk Bimolukar, telaga warna, telaga Pangilon, candi Bima, kawah Sikidang, candi Gatotkaca sampai museum.

Mas Ova juga semakin membuat peserta high karena melihat betapa nge-camp di atas gunung perahu itu romantis. Atau bagaimana hati kita bisa deg-deg duar membayangkan berdiri di ketinggian dan mata menatap negeri di atas awan dari Sikunir. Ada golden sunrise terbentang di sana!

Rupanya nggak hanya tempat-tempat tadi, teman-teman. Ada 5 Dieng Baru yang direkomendasikan untuk kita tilik. Misalnya telaga Menjer, Kalianget, waduk Wadaslintang, koridor Candiyasan Keseneng dan gunung Lanang. Nggak kalah indah dan menarik, kok.

Selain wisata alam, ada wisata budaya yang tentu kalian pernah dengar. Betul, tentang rambut gimbal. Konon dari zaman dewa-dewa memang sudah banyak anak yang memiliki rambut gimbal ini. Kalau sudah dipotongpun, rambut akan kembali gimbal. Makanya, ada adat ruwatan, khusus untuk anak-anak tersebut. 

Ruwatan rambut gimbal mengizinkan anak untuk memiliki permintaan yang harus dikabulkan oleh orang tuanya. Baru rambut yang dipotong dalam acara adat, tidak akan kembali gimbal.

Kata Mas Ova, tetangganya yang di Wonosobo juga pernah mengikuti acara ruwatan karena rambutnya gimbal. Permohonan si anak adalah minta dibuatkan tempe kemul atau tempe mendoan khas Dieng sebanyak dua keranjang. Mengapa ia nggak minta dibelikan sepeda, ya? Setelah diruwat, rambut si anak tumbuh normal seperti anak-anak lainnya. Aneh tapi nyata.

Bagi kalian yang ingin pergi ke sana, ada gawe heboh yang diadakan setiap tahun oleh pemda setempat untuk menarik wisatawan lokal dan mancanegara. Judulnya "Dieng Culture Festival" Tahun ini, akan diadakan pada tanggal 2,3 dan 4 September. Mengapa bukan bulan Agustus? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Event Komunitas Online Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan