Korneles Materay
Korneles Materay Peminat Isu Kenegaraan dan Pemerintahan

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Penantian Berharga Energi Baik Listrik Masuk Kampung

8 Agustus 2018   14:49 Diperbarui: 8 Agustus 2018   15:01 2094 0 0
Penantian Berharga Energi Baik Listrik Masuk Kampung
(liberale.de)

Sekitar tanggal 20 Juli 2018 lalu, saya ditelepon kakak perempuan yang saat ini juga merantau seperti saya di Timika, Papua. Saya sendiri sedang berada di Yogyakarta. Kami berdua berasal dari kampung bernama ohoi Ngurwalek termasuk dalam wilayah Kec. Kei Besar Utara Barat, Maluku Tenggara, Maluku.

Dalam bahasa lokal yaitu bahasa Kei dari suku Kei yang mendiami Kepulauan Kei, Maluku Tenggara di Provinsi Maluku, ohoi  sama artinya dengan kampung/dusun. Penggunaan kata ohoi di depan nama kampung telah diwajibkan pemerintah setempat sebagai kearifan lokal  yang harus terus dipelihara.

Kala itu, saya baru saja selesai berkemas untuk selanjutnya berangkat ke tempat kerja.

 "Klo ko bisa, ikut bantu sa, tong beli televisi par bapak deng mama dorang di kampung dulu. Televisi yang layarnya datar tu, tv LED kah apa itu?," begitulah permintaan sekaligus ajakan yang disampaikan kepada saya.

terjemahan: "Kalau kamu bisa, ikut bantu saya ya, kita beli televisi yang baru untuk bapak dan mama di kampung. Televisi yang layar datar, tv LED itu."

Ringkas cerita, kabar dari kakaku ini bahwa televisi di rumah Ngurwalek sedang mengalami gangguan. Biasanya televisi tersebut sebagai hiburan untuk bapak dan mama di kampung. Kendatipun demikian, tidak setiap hari televisi dinyalakan tergantung dari apakah ada bahan bakar atau tidak. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik, bapak dan mama hanya mengandalkan sebuah mesin generator ukuran kecil.

"Bapak deng mama pu televisi su sering gangguan, jadi tra ada hiburan. Pada hal tra lama lagi lampu listrik dar PLN Elat su mo masuk ke kampung. Mama deng bapak, dong pasti mo hiburan," jelasnya.

terjemahan: "Televisinya bapak dan mama itu sudah sering gangguan, jadi tidak ada hiburan. Pada hal tidak lama lagi lampu listrik dari PLN Elat bakal masuk ke kampung. Mama dengan bapak, mereka pasti mau hiburan."

"Okelah, semoga bulan depan (baca: agustus ini) tong bisa baku bantu par beli bapak deng mama pu televisi baru," jawabku mengakhiri pembicaraan kami."

terjemahan: "Okelah, semoga bulan depan, kita bisa saling bantu (urunan) untuk bisa beli televisi baru untuk bapak dan mama"

Di hari yang sama, sore harinya selepas pulang kerja saya pun menelpon bapak di kampung. Tidak seperti komunikasi sebelum-sebelumnya via teleponan dengan bapakku, kali ini kami khusus membahas masalah televisi dan listrik.

"Halo pak, bagaimana dengan televisi di situ? Tadi kakak bilang televisi di rumah rusak?," tanyaku.

Ternyata benar televisi bapak dan mama rusak. Kebetulan juga, hari itu televisi sedang masuk ke tempat servisan dan bapak masih menunggu juga di sana. Untuk diketahui saja bahwa untuk memperbaiki televisi tersebut, bapak harus pergi ke pusat kecamatan. Akses tercepat yang bisa ditempuh menuju ke pusat kecamatan adalah dengan speedboat atau perahu bermesin johnson dengan jarak tempuh kurang lebih 3-4 jam perjalanan laut.

 "Ini lagi di tempat servisnya. Beberapa waktu belakangan ini sering gangguan jadi keluar masuk tempat servisan terus," jawab bapak terhadap pertanyaanku soal keadaan televisi di atas.

 "Iya Pak, semoga nanti bisa beli baru ya, yang lebih bagus," saya kembali memberi harapan.

"Lalu Pak, bagaimana dengan kondisi listrik di kampung?"

"Wah, jadi kebetulan saya mau cerita sedikit. Sekarang banyak kemajuan sekali. Listrik dari PLN Elat sudah sampai di Ohoituf (penulis: salah satu kampung tetangga terdekat berjarak kira-kira 14 km via berjalan kaki). Di kampung kita, tiang-tiang untuk jalur kabel listrik sudah dipasang. Rumah-rumah juga sudah melakukan instalasi listrik."

"Wow, berarti tidak lama lagi kampung masuk listrik ya Pak? Kira-kira Pak, orang-orang kampung bagaimana tanggapannya terhadap listrik masuk kampung ini?" saya kembali bertanya heran terus kalau orang-orang kampung sekarang ini.

Bapak bercerita banyak mengenai betapa bahagianya orang di kampungku ketika listrik mulai dialirkan ke sana.

"Pokok pada umumnya orang-orang senang sekali karena akhirnya akan menikmati listrik dalam waktu dekat ini. Makanya bapak tua/mama tua, bapak muda/mama muda, om dan tante di kampung ini mereka sudah banyak persiapan," jelasnya sambil tertawa bahagia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3