Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Sanksi Menolak Vaksin atau Insentif bagi Penerima, Warga Desa Ini Sebenarnya Sudah Kaya

22 Februari 2021   05:25 Diperbarui: 22 Februari 2021   07:36 861 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sanksi Menolak Vaksin atau Insentif bagi Penerima, Warga Desa Ini Sebenarnya Sudah Kaya
Ilustrasi vaksin.(GETTY IMAGES via BBC INDONESIA)

Program vaksinasi untuk mencegah penularan Covid -19 di negara kita sudah berlangsung sekitar satu bulan. Namun demikian, suara tentang adanya sebagian warga yang menolak divaksin, masih saja terdengar.

Kira-kira, mana yang lebih efektif? Mereka yang menolak akan diberi sanksi atau pemberian insentif berupa bantuan sosial dan kemudahan mobilitas bagi yang sudah divaksin?

Kompasianer Irwan Rinaldi Sikumbang membahas hal ini dalam artikelnya. Simak selengkapnya bersama 5 konten terpopuler di Kompasiana lainnya untuk pagi ini (22/02):

Efektif Mana, Sanksi bagi Penolak Vaksin atau Insentif bagi Penerima?

Meskipun sudah diatur, sebaiknya pemerintah tidak mendahulukan pendekatan hukum. Jangan buru-buru menjatuhkan sanksi. Justru, akan lebih baik dengan memberikan insentif bagi yang sudah divaksin. 

Umpamanya, pemegang kartu yang menyatakan sudah divaksin akan dipermudah bepergian naik pesawat, kapal laut, atau kereta api. (Baca selengkapnya)

Mengintip Kehidupan Orang Jepang dalam Anime Atashinchi

(sumber ilustrasi via shin-ei-animation.jp)
(sumber ilustrasi via shin-ei-animation.jp)
Melalui Atashinchi, Anda bisa melihat bagaimana kehidupan orang Jepang sehari-hari, tanpa harus membuang ongkos dan tenaga untuk pergi ke Jepang. 

Untuk mempermudah pembahasan tentang bagaimana kehidupan yang bisa kita simak dari Atashinchi, maka akan dibagi secara garis besar dalam tiga aspek seperti berikut. (Baca selengkapnya)

Tanpa Jual Tanah pun, Warga Desa Itu Sebenarnya Sudah Kaya

Wantono mendapat Rp 24 miliar setelah jual tanah 4,2 hektare. Ia pun membeli Mitsubishi Xpander meski tak bisa mengemudi. (Foto: TRIBUN JATIM/M SUDARSONO via KOMPAS.COM))
Wantono mendapat Rp 24 miliar setelah jual tanah 4,2 hektare. Ia pun membeli Mitsubishi Xpander meski tak bisa mengemudi. (Foto: TRIBUN JATIM/M SUDARSONO via KOMPAS.COM))
Jika kita melihat fenomena masyarakat yang begitu mudahnya membelanjakan kembali "harta runtuhan" itu, sebenarnya penulis sendiri merasa ngeri-ngeri sedap.

Penulis merasa sedap sebab ikut bergembira melihat keadaan mereka yang memperoleh gelimang harta yang dapat segera mereka gunakan. Misalnya saja, untuk membeli barang yang kategorinya sangat mewah untuk sebagian kalangan ini.

Akan tetapi, perasaan ngeri juga terlintas dalam angan penulis. Kengerian ini timbul ketika penulis membayangkan bahwa faktor pendorong mereka berbelanja barang mewah itu adalah karena euforia atau latah, sebab ikut-ikutan saudara-tetangga. (Baca selengkapnya)

Mengapa Menjaga Kepercayaan Pelanggan Itu Penting?

Ilustrasi pelayanan pelanggan | Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Ilustrasi pelayanan pelanggan | Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Yang namanya pelanggan adalah pihak yang membeli produk berulang-ulang. Tidak hanya sekali lalu hilang. Mereka adalah pihak yang loyal dengan produk yang kita jual. Karena mungkin produk kita memiliki keunggulan khusus di mata mereka. Keunggulan apa? ada 4 hal. (Baca selengkapnya)

Jelajah Hutan Ramang-ramang, Amazon-nya Sulawesi Selatan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x