Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Ingin Beli Apa yang Teman Pakai Termasuk "Hedonic Treadmill?"

1 Desember 2020   04:08 Diperbarui: 1 Desember 2020   04:35 573 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ingin Beli Apa yang Teman Pakai Termasuk "Hedonic Treadmill?"
ilustrasi ingin hidup senang-senang. (Diolah kompasiana dar sumber: shutterstock via kompas.com)

Bukan hanya rumput tetangga yang lebih hijau daripada taman kita, barangkali apapun yang digunakannya membuatnya kita ingin juga memilikinya.

Namun, kadang ada yang kita lupa: kemampuan (finansial) yang kita miliki berbeda dengan tetangga atau teman kita. Keinginan lebih besar kemampuan, bertindak korupsi jadi hal terburuk yang bisa dilakukan.

Dari sinilah konsep "hedonic treadmill" ini bekerja.

Secara sederahana, "hedonic treadmill" merupakan untuk mewakili nafsu manusia yang ingin selalu memiliki barang-barang mewah sejalan dengan peningkatan pendapatan manusia tersebut.

Selain konten seputar "hedonic treadmill" tadi, masih ada konten terpopuler dan menarik lainnya di Kompasiana, kemarin.

1. Perilaku Korupsi Edhy Prabowo dan Barang Mewah, Hedonic Treadmill?
Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango (ketiga kiri) didampingi Deputi Penindakan Karyoto (kiri) menunjukkan tersangka berikut barang bukti pada konferensi pers penetapan tersangka kasus dugaan korupsi ekspor benih lobster di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (26/11/2020) dini hari. (ANTARAFOTO/Indrianto Eko Suwarso via kompas.com)
Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango (ketiga kiri) didampingi Deputi Penindakan Karyoto (kiri) menunjukkan tersangka berikut barang bukti pada konferensi pers penetapan tersangka kasus dugaan korupsi ekspor benih lobster di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (26/11/2020) dini hari. (ANTARAFOTO/Indrianto Eko Suwarso via kompas.com)

Nafsu akan kepemilikan barang-barang mewah itu tak akan pernah terpuaskan seperti meminum air laut, semakin banyak kita minum semakin haus kita rasakan.

"Menjadi masalah jika nafsu berbelanja barang mewah itu tak diiringi dengan pendapatan yang mencukupi, yang akhirnya membawa si pemilik nafsu itu harus melakukan kejahatan seperti korupsi yang dilakukan oleh Edhy Prabowo itu," tulis Kompasianer Fery W. (Baca selengkapnya)

2. Bertemu Teman Pakai Baju Bekas, "Bagus, Beli di Mana?"
ilustrasi: Pengunjung berburu pakaian bekas dan bermerek di Pasar Poncol Senen, Jakarta, Selasa (14/08/2018). Berbagai macam merek pakaian ternama seperti Nike, Adidas, Puma dan lain-lain dijual dengan harga Rp 20.000 - Rp 150.000. (Foto: ANDREAS LUKAS ALTOBELI via kompas.com)
ilustrasi: Pengunjung berburu pakaian bekas dan bermerek di Pasar Poncol Senen, Jakarta, Selasa (14/08/2018). Berbagai macam merek pakaian ternama seperti Nike, Adidas, Puma dan lain-lain dijual dengan harga Rp 20.000 - Rp 150.000. (Foto: ANDREAS LUKAS ALTOBELI via kompas.com)

Murah dan bagus, barangkali 2 kata yang tepat untuk mereka yang tergila-gila pakaian bekas. Tidak hanya itu, usaha untuk bisa menemukna pakaian yang kita suka justru jadi kenikmatan tersendiri. (Baca selengkapnya

3. Mengawinkan Makanan, Musik, Lagu, dan Bahasa dalam Pernikahan Lintas Budaya
Ilustrasi Sepasang Pengantin Karo sedang menari. (sumber: Teopilus Tarigan/Kompasiana)
Ilustrasi Sepasang Pengantin Karo sedang menari. (sumber: Teopilus Tarigan/Kompasiana)

Keberadaan support system itu penting untuk kesehatan mental dan membuat kita tidak merasa kalau seluruh beban itu harus ditanggung sendirian.

Selain mahar atau tukur dalam bentuk uang itu, ada juga pemberian atau bingkisan adat dari pihak kalimbubu. Bingkisan adat atau disebut "luah" itu biasanya berbentuk barang-barang perkakas rumah tangga sebagai simbol dari makna tertentu. (Baca selengkapnya)

4. Mau Anak Cerdas dan Berbudi Pekerti Luhur? Awali dari Kebiasaan Mendongeng!
Ilustrasi mendongeng| Sumber: KatarzynaBialasiewicz via Kompas.com
Ilustrasi mendongeng| Sumber: KatarzynaBialasiewicz via Kompas.com

Mendongeng bukanlah aktivitas kuno yang sudah ketinggalan zaman. Di era teknologi ini pun mendongeng masih tetap dibutuhkan jika dilihat dari kebermanfaatannya. (Baca selengkapnya)

5. Bonus Demografi dalam Pemahaman Sederhana Keluarga Kurma
Bonus Demografi dalam Pandangan Sederhana Keluarga Kurma (sumber: maucash.id)
Bonus Demografi dalam Pandangan Sederhana Keluarga Kurma (sumber: maucash.id)

Bagaimanapun juga keamanan menjadi syarat yang terutama dalam menikmati hidup yang baik.

Akan tetapi, Keluarga Kurma tidak terlibat bahkan tertarik dalam praktik politik praktis. Namun bukan berarti mereka tidak peduli dengan prinsip demokrasi. (Baca selengkapnya)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x