Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Populer dalam Sepekan: Yang Terlupa dari Penimbun Masker hingga Pekerja Bergaji Rp 80 Juta Bangkrut

3 Mei 2020   07:35 Diperbarui: 3 Mei 2020   12:51 1840 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Populer dalam Sepekan: Yang Terlupa dari Penimbun Masker hingga Pekerja Bergaji Rp 80 Juta Bangkrut
Ilustrasi menggunakan masker medis. (Pixabay/Coyot)

Akibat tingginya permintaan dan oknum yang bermain untuk menimbun barang, maka beberapa waktu silam kita merasakan harga peralatan dan perlengkapan kesehatan jadi mahal, seperti masker dan hand sanitizer, misalnya.

Namun, belakangan ini masyarakat tidak lagi menggunakan masker medis yang semula dicari, tetapi jenis masker lain. Akibatnya antara permintaan dan pasokan akan penggunaan masker medis cenderung normal.

Bahkan kini masker medis hingga hand sanitizer sudah bisa kita temukan dengan mudah di supermarket atau apotek.

Maka tidak heran jika kini kita mulai melihat beberapa orang menjual masker medis di media sosial dengan label "jual rugi" kepada warganet.

Selain itu masih ada konten menarik dan terpopuler lainnya di Kompasiana selama sepekan: masalah yang dihadapi oleh orang bergaji 80 juta per-bulan saat pandemi hingga dampak positif PSBB bagi lingkungan kita.

Berikut 5 konten menarik dan terpopuler di Kompasiana dalam sepekan:

1. Saat Harga Balas Dendam kepada Penimbun Masker

Tren harga masker selangit tidak bertahan lama. Mulai pertengahan April harga sudah bergerak normal kembali.

Bayangkan saja, ketika itu masker yang harga normalnya paling mahal 50 ribu rupiah per-dos, tulis Kompasianer Pical Gadi, saat harga gila-gilaan bisa sampai 400 bahkan 500 ribu rupiah.

"Bayangkan keuntungan yang mereka peroleh dalam waktu singkat. Karena saat itu masker juga jadi barang langka, disinyalir masih ada yang terus membeli dalam jumlah besar dan ingin memanfaatkan momentum," lanjutnya.

Melihat fenomena ini, sepertinya ada yang tidak terpikirkan olah para spekulan ini: masker, seperti halnya juga hand sanitizer, adalah barang yang bisa disubstitusi. (Baca selengkapnya

2. Mengantisipasi Kebangkrutan Bank, Cek Apakah Simpanan Anda Dijamin LPS?

Bagi yang sering mengamati kondisi perbankan nasional, tulis Kompasianer Irwan Rinaldi, tentu sudah mengetahui bahwa tahun ini tampaknya menjadi tahun yang sangat tidak kondusif bagi bisnis perbankan.

Dari sana ada banyak permasalahan yang terjadi, satu di antara yakni bagaimana nasib para penyimpan dana di bank yang mengalami kebangkrutan, misalnya?

Jika mengingat krisis moneter yang pernah dialami oleh Indonesia, maka saat itu bank yang bangkrut diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Lembaga inilah yang menagih pengembalian kredit macet dari para peminjam yang menunggak dan mengembalikan uang para penabung setelah diverifikasi terlebih dahulu.

"Nah, sekarang seandainya memang dampak Covid-19 akan sedahsyat krisis moneter 1998, apakah diperlukan semacam BPPN untuk mengambil alih bank yang bankrut?" tulis Kompasianer Irwan Rinaldi. (Baca selengkapnya)

3. Belajar dari Kasus Orang Bergaji Rp 80 Juta

Kisah seorang pegawai denga gaji Rp 80 juta tak lagi menerima gaji karena dirumahkan akibat dari pandemi virus corona tiba-tiba ramai jadi perbincangan pada pekan kemarin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x