Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

[Populer dalam Sepekan] Benar Jadi PNS Itu Enak? | Membaca Data Statistik | Anak Kerja, Ayah Leha-leha

17 November 2019   00:29 Diperbarui: 18 November 2019   18:10 0 4 0 Mohon Tunggu...
[Populer dalam Sepekan] Benar Jadi PNS Itu Enak? | Membaca Data Statistik | Anak Kerja, Ayah Leha-leha
ilustrasi: pendaftar cpns. (sumber: kompas.com)

Tepat pada Senin, tanggal 11-11-2019, pendaftaran CPNS 2019 dibuka. Total ada 197.111 formasi dengan pembagian: 37.854 formasi pada 68 kementerian/lembaga dan 159.257 formasi pada 462 pemerintah daerah.

Sedangkan untuk jenis formasinya terbagi menjadi dua, yaitu formasi umum dan formasi khusus.

Ada pula formasi jabatan yang dibuka adalah tenaga pendidikan, kesehatan, dosen, teknis fungsional, dan teknis lainnya.

Namun, seperti pembukaan pendaftaran CPNS yang sudah-sudah, pertanyaan penting atau tidaknya ikut dan/atau menjadi PNS apakah masih menjadi pilihan masyarakat hari ini?

Selain topik mengenai CPNS 2019, masih ada artikel-artikel menarik lainnya seperti pada perayaan hari kesehatan tahun ini hingga bagaimana masyarakat kita melek akan budaya membaca statistik.

Berikut 5 artikel terpopuler di Kompasiana dalam sepekan:

1. Apakah Profesi PNS Lebih Terhormat dan Bergengsi Dibandingkan yang Lainnya?

Tidak mudah bagi Kompasianer Dicky Armando yang lahir dan besar di tengah keluarganya yang rata-rata menjadi PNS. Ia sendiri, tulisnya, hanya berprofesi sebagai karyawan swasta.

Setiap tahun, apalagi satu minggu sebelum dibuka pendaftaran tes CPNS, ia kerap mendapat pertanyaan yang itu-itu saja: "Tidak coba tes PNS tahun ini?"

"Saya pun sempat percaya bahwa menjadi PNS adalah sebuah jalan hidup yang menyenangkan. Sampai suatu hari seorang teman yang telah menjadi PNS, bersikap sombong dan sok superior di hadapan saya," tulis Kompasianer Dicky Armando.

Pasca-kejadian itu hingga sekarang, ia bersikap dan ingin menunjukan kalau tidak menjadi PNS pun bisa hidup layak sebagaimana lingkungan dan keluarganya. (Baca selengkapnya)

2. PNS Itu Pelayan Publik!

Rasa-rasanya hingga saat ini masih ada yang menjadikan PNS atau ASN sebagai pucuk harapan orang tua mereka.

Melihat fenomena semacam itu, Kompasianer Ozy Alandika berpendapat, timbul pemahaman-pemahaman yang menyimpang seperti PNS itu kaya, PNS itu hidup mewah dan berkecukupan, hingga PNS itu kerjanya tidak sulit.

PNS itu, lanjutnya, mesti berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
"Tujuannya adalah untuk melaksanakan kebijakan pemerintah sekaligus menjadi mitra pemerintah agar masyarakat puas," tulis Kompasianer Ozy Alandika.

Sebagai contoh ia memberi ilustrasi bagaimana seorang guru bisa dikatakan rajin:

"Guru yang rajin bukanlah guru yang datang tepat waktu. Guru yang rajin adalah guru yang datang di awal waktu dan senantiasa menanti murid-muridnya di sekolah, bukan murid yang menantinya." (Baca selengkapnya)

3. Mengapa Sulit Sekali Menjadi Dokter Spesialis?

Menjadi dokter spesialis mungkin merupakan impian yang lumrah bagi kebanyakan dokter umum, bahkan untuk para mahasiswa kedokteran di Indonesia.

Padahal, masih banyak tingkat atau jabatan struktural lainnya yang masih ada di seputar dunia kedokteran ini, seperti peneliti, dosen, dokter layanan primer, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, menurut Kompasianer Agaprita Sirait, alasan orang-orang menjadi dokter spesialis yaitu alasan ekonomi.

"Seorang dokter spesialis pada umumnya meraup gaji lebih besar dibandingkan dokter umum," tulisnya.

Akan tetapi apakah hanya alasannya sebegitu pragmatis karena gaji? Tidak adakah alasan lainnya? (Baca selengkapnya)

4. Kisruh Data dan Lemahnya Literasi Statistik

Melihat data statistik itu seperti pisau bermata dua: pada satu sisi akan ada yang tersenyum akan hasilnya, sedangkan pada sisi lain tidak jarang akan kecut dibuatnya.

Yang terburuk, bahkan, bila seorang pemimpin awam membaca statistik bisa-bisa ia memecat bawahannya ketika mendapati laporan statistik yang buruk.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa arif atau bijak membaca laporan statistik?

Bahwasanya ilmu statistik itu hanya sebuah alat untuk mendekati kebenaran. Pasti memiliki angka error atau galat.

"Yang perlu diawasi adalah tentang metode statistik yang digunakan dan bisnis proses menghasilkan data itu benar-benar sesuai dengan standar yang telah diakui dunia internasional," tulis Kompasianer Muhammad Aliem.

Hal tersebut, lanjutnya, sehingga bisa dijadikan bahan perbandingan secara universal. (Baca selengkapnya)

5. Anak Bekerja, Ayahnya Justru Leha-leha

seorang anak laki-laki sedang menangis terisak di belakang rumah Kompasianer Adjat Sudradjat. Usia anak tersebut kira-kira 14 tahun, Syaful, namanya.

Pagi itu, ketika anak-anak seusianya sedang duduk di sekolah ia justru hanya di rumah bekerja untuk membantu keluarga.

"Selain karena tidak mampu, adik-adik Syaiful yang jumlahnya tujuh orang; empat orang dari Zainal, suaminya yang meninggal saat Syaiful duduk di kelas lima, ditambah lagi dua orang dari suaminya yang sekarang, butuh biaya juga," tulis Kompasianer Adjat Sudradjat.

Naasnya, dengan kondisi seperti itu, Syaiful justru disuruh oleh Ayah tirinya bekerja ke kota saja. (Baca selengkapnya)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x