Kompasiana News
Kompasiana News Editor

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Tentang Penyakit Malaria, dari Jenis hingga Pencegahannya

25 April 2019   21:47 Diperbarui: 30 April 2019   23:42 284 10 5
Tentang Penyakit Malaria, dari Jenis hingga Pencegahannya
Ilustrasi gigitan nyamuk. (pixabay.com)

Setiap 25 April diperingati dunia sebagai Hari Malaria Sedunia. Penyakit Malaria ini jika disandingkan dengan penyakit mematikan lainnya termasuk salah satu yang paling ditakuti dari jajaran penyakit paling berbahaya di dunia.

Malaria adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Anopheles. Dalam sejarahnya, sampai hari ini Malaria adalah penyakit yang sudah membunuh ratusan juta orang.

Dalam kajian medis, sederhananya dijelaskan Malaria adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dari manusia yang tertular atau hewan lain. Inti sel dari penyakit malaria ini tertanam dalam protozoa parasit, atau sekelompok mikroorganisme bersel tunggal dalam tipe Plasmodium.

Berbicara penyakit Malaria masyarakat pasti tahu bahwa jutaan kasusnya di dunia paling sering ditularkan oleh gigitan nyamuk berjenis Anopheles berkelamin betina yang sudah terinfeksi.

Setiap kali nyamuk ini hinggap di tubuh manusia, maka ia pun akan menyebarkan parasit Malaria dari air liur nyamuk ke dalam aliran darah manusia. Prosesnya berlangsung sangat cepat, tanpa ada gejala langsung yang bisa dirasakan oleh si korban.

Gejala Klinis Malaria
Sejak pertama kali menggigit hingga menimbulkan gejala klinis dapat berlangsung hanya kurang dari 2 minggu, tergantung imunitas seseorang. Parasit malaria bernama Plasmodium masuk melalui air liur nyamuk yang ikut serta ketika nyamuk menggigit mangsanya.

Parasit ini nantinya akan bersarang ke hati hingga akhirnya masuk ke sel darah merah. Ketika sel darah merah terinfeksi maka artinya seluruh aliran darah kita mengandung parasit ini.

Biasanya ketika sel darah merah yang terinfeksi ini menyebar maka pasien akan mengalami gejala demam hingga menggigil. Namun, tentu saja gejala tersebut seringkali sulit dideteksi pada pasien yang tinggal di daerah endemik seperti Papua.

Imunitas yang terbentuk pada orang yang sudah lama berada di daerah Papua (termasuk para pendatang) akan menampilkan gejala berbeda bahkan beberapa ditemukan tanpa ada gejala sama sekali.

Jadi waspadalah jika bertemu pasien mengeluh sakit kepala berat, atau nyeri otot bahkan kelelahan yang tidak hilang ketika sudah istirahat atau minum obat lain. Boleh jadi itu adalah gejala malaria.

Diagnosis Malaria
Penentuan malaria wajib menggunakan alat bantu mikroskop untuk melihat ada tidaknya parasit di dalam apusan darah pasien. Katakanlah hanya ada 500 parasit dalam satu lapang pandang mikroskop, boleh jadi artinya ada 5 milyar parasit dalam seluruh darah si korban. Jumlah yang cukup untuk membunuh manusia.

Saat ini sudah dikembangkan alat pemeriksaan yang lebih ringkas dan disebut RDT (Rapid Diagnostic Test). Hamper mirip seperti alat tes kehamilan, hanya saja bedanya malaria dilihat dari darah bukan dari urin pasien. Hanya butuh sedikit sekali tetesan darah yang dicampur dengan reagen tertentu untuk dibaca di alat RDT ini.

Namun, bagiamanapun pemeriksaan mikroskopis tetap menjadi Gold Standar malaria karena terkadang jumlah parasit yang masih sedikit di dalam darah sulit terdeteksi positif di RDT.

Sebaliknya, pasien malaria yang sudah minum obat bisa jadi masih menunjukkan tanda RDT positif lantaran parasit malaria yang terbunuh menjadi framen yang masih terbaca positif di alat RDT. Oleh karenanya,  dokter  harus selalu waspada danmembandingkan dengan gejala klinis yang ada.

Pengobatan Malaria
Sebenarnya tidak sulit untuk mengobati malaria jika ditemukan dalam kondisi yang tidak terlambat. Kalaupun pasien sudah resisten dengan jenis obat tertentu, di dunia ini masih banyak peneliti khusus yang mengembangkan obat malaria.

Saya berani jamin untuk obat akan selalu ada dan bisa asal kuat membayar saja. Nah, saat ini yang digunakan di Indonesia adalah ACT (Artemisisn based Combination Therapy) atau di Papua lebih dikenal sebagai obat biru karena kebetulan tabletnya berwarna biru.

Sayangnya, tidak semua orang menyadari gejala sakitnya sebagai gejala malaria. Tidak jarang banyak korban jatuh sia-sia hanya karena iseng "wisata" ke daerah endemik dan jatuh sakit ketika pulang ke Jawa. Saya merasakan betapa sulitnya mencari obat malaria di Jakarta sekalipun.

Bahkan pernah ada pastor yang meninggal di Bandung lantaran malaria dan baru ketahuan ketika sudah komplikasi hingga gagal ginjal. Rekan sejawat saya pun di Sumba ada yang meninggal karena malaria dan terlambat diketahui, padahal sehari-harinya dia mengobati pasien malaria. Menyedihkan bukan, karena memang terkadang bisa tanpa gejala.

Pencegahan Malaria
Hasil temuan tim peneliti dari Swedia mungkin bagi sebagian orang dianggap sangat sederhana, namun justru dari temuan yang sederhana ini kemungkinan dapat berdampak besar untuk mengatasi penyebaran malaria terutama di daerah endemik seperti di  Indonesia dan negara lain di dunia.

Untuk pertama kalinya para peneliti ini berhasil mengungkap rahasia bahwa nyamuk yang mentransmisikan penyakit malaria yaitu Anopheles arabiensis ternyata menghindari untuk mengisap darah jenis ternak tertentu seperti ternak ayam karena terkait dengan indra pendeteksi bau nyamuk tersebut.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Malaria Journal membuktikan bahwa nyamuk penyebar penyakit malaria yang selama ini menjadikan manusia, sapi, kambing dan domba menjadi inangnya ternyata menghindari ayam karena pada nyamuk ini telah berkembang kemampuan membedakan komponen bau tertentu  yang dikeluarkan oleh inang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2