Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Pasti Kita Sambat tentang Hari Ini

22 Maret 2019   21:21 Diperbarui: 1 April 2019   00:19 0 12 0 Mohon Tunggu...
Pasti Kita Sambat tentang Hari Ini
Ilustrasi (Pixabay.com/Serena Wong)

Hari-hari ini media sosial dihiasi dengan keluhan dan keluhan yang (seakan) tidak ada habisnya. Sambat, begitu mereka menamainya. Kata "sambat" sendiri diambil dari Bahasa Jawa yang artinya mengeluh.

Tetapi, lucunya, setiap sambat yang terlontar itu menjadi suatu hiburan baru. Akun anonim nksthi (Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini), misalnya, mengajak pengikutnya untuk sambat setiap hari selasa dengan menggunakan tagar SelasaSambat. Tema dan topiknya beragam, yang jelas baik itu yang ikut atau membaca jadi terhibur.

Sambat memang sifat alami manusia, psikolog Susan Albers menjelaskan kalau mengeluh itu terjadi bahkan sejak kita terlahir dengan otak yang punya bias negatif.

Tetapi, kebiasaan mengeluh ternyata bisa mendatangkan hal positif bagi diri sendiri. Robin Kowalski psikolog dari Clemson University, menyarankan beberapa langkah yang tepat agar emosi terjaga dan terbebas dari masalah yang mengganggu pikiran.

Sebagai contoh, kegiatan sambat bisa dilakukan dengan menggunakan kalimat yang positif seperti menggunakan fakta dan sampaikan secara diplomatis. Sebab, penggunaan kalimat positif membuat keluhan, lanjut psikolog Robin Kowalski, PhD, lebih berdampak baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Atau begini, sambat yang baik dilakukan pada waktu yang tidak tepat akan membuat kita dianggap sebagai pengganggu. Boleh saja mengeluh, namun juga tetap perlu menahan diri, mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan keluh kesah.

Sedangkan menurut Rick Mettiew, orang yang mengeluh terdengar lemah atau menunjukkan ketidakmampuan dan ketidakpuasan.

"Ini tidak sepenuhnya benar. Dualisme juga ditemukan dalam mengeluh. Mengeluh untuk alasan-alasan positif atau perbaikan adalah benar," lanjutnya.

Mengeluh itu (masih dianggap) wajar. Bahkan manusiawi, menurut Ruby Astary. "Mengeluh adalah ekspresi ketidakpuasan terhadap sesuatu dan keinginan agar adanya perbaikan berarti terhadap sesuatu yang diributkan," tulisnya.

Akan tetapi, jika ternyata saat kita sambat sudah mencapai level mengganggu, Harirotul Fikri memberi tips sederhana untuk tetap bisa menyalurkannya yaitu sediakan buku khusus untuk kita jadikan suatu diary atau catatan harian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x