Kompasiana News
Kompasiana News Editor

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Terpopuler Pekan Lalu, dari Polemik Cuitan Bos Bukalapak hingga Anjuran Tidak Golput

18 Februari 2019   09:09 Diperbarui: 18 Februari 2019   18:01 184 4 0
Terpopuler Pekan Lalu, dari Polemik Cuitan Bos Bukalapak hingga Anjuran Tidak Golput
CEO Bukalapak Ahmad Zaky bertemu Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (16/2/2019).(KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Kicauan Achmad Zaky Chief Executive Officer (CEO) Bukalapak pada Kamis (14/02/2019) di Twitter tiba-tiba menjadi perhatian publik. Ia menyoroti besaran anggaran dana research and development (R&D) di Indonesia yang dinilainya tertinggal dibanding negara lain.

Karena tiba-tiba saja ramai, Yayat melihat apapun yang menyangkut pilpres pasti mendulang komentar yang ramai sekali di media sosial.

"Netizen yang haus kerusuhan, membuat semua hal yang sebenernya sederhana, jadi rusuh maksimal kalau (sudah) menyangkut Pilpres," lanjutnya.

Anehnya, meski mengeluarkan pendapat pribadi dan publik tidak setuju, maka institusi atau perusahaan tersebut akan terkena imbasnya. Seperti Bukalapak atau dua kejadian sebelumnya: Sari Roti dan Treveloka.

Perbincangan tersebut bahkan semakin berkembang ketika Achmad Zaky akhirnya menemui Presiden Joko Widodo dan meminta maaf.

Selain polemik kicauan Achmad Zaky, pada pekan ini Kompasiana juga diramaikan oleh wacana pemberlakuan sepeda motor yang, masih dalam kajian, diperbolehkan masuk jalan tol. Ada pula reportase khas warga tentang lapangan dengan kualitas internasional yang tersembunyi di Depok, Jawa Barat. Berikut 5 artikel terpopuler di Kompasiana pekan ini:

1. Boikot dan Uninstall Merebak Gara-gara Cuitan Bos Bukalapak

Seperti apa yang dituliskan Yayat, kalimat "Presiden baru" dalam cuitan Achmad Zaky dianggap oleh netizen sebagai pengharapan ada presiden baru yang menggantikan Jokowi tahun 2019.

"Dan ini (dianggap) merupakan pengkhianatan terhadap dukungan pak Jokowi pada Bukalapak," tulisnya.

Padahal, cuitan tersebut bertujuan untuk menyampaikan fakta bahwa Indonesia perlu adanya investasi pada bidang riset dan SDM kelas tinggi supaya jangan kalah dengan negara lain.

Namun, karena ruang yang tersedia pada platform Twitter terbatas, informasi yang tersampaikan jadi tidak utuh. (Baca selengkapnya)

2. Jangan Buru-buru Panik Bila Akun Media Sosial Kita Diretas

Bulan lalu Gatot Tri melihat ada yang berbeda dengan linimassa akun Twitter miliknya. Setelah ia telusuri pada menu pengaturan, ternyata ada dua device yang login dengan akunnya itu.

"Yang satu di gawai saya dan satu lagi di device si peretas," tulisnya. "Saya meyakini itu adalah device si peretas karena saya sudah lama menghapus aplikasi tersebut di gawai milik saya lainnya."

Namun, tidak perlu langsung panik bila kita keburu mengetahui akun media sosial kita diretas. Langkah pertama bisa dimulai dengan melihat alamat surel yang digunakan. Apabila masih menggunakan alamat yang sama bisa langsung ganti kata sandi supaya peretas tidak lagi bisa mengakses akun kita. (Baca selengkapnya)

3. Motor Masuk Jalan Tol itu Perlu Kajian Mendalam

Wacana terkait sepeda motor masuk tol cukup menyita perhatian publik. Usulan tersebut bermula ketika Ketua DPR Bambang Soesatyo menghadiri acara Pesta Rakyat Bikers yang berlangsung di halaman kompleks DPR.

Menurutnya, pengendara motor punya hak yang sama dengan pengendara mobil atas jalan bebas hambatan, sebagaimana penerapannya sudah berlangsung di jalan tol di Suramadu dan Bali.

Sedangkan mengenai wacana itu, Reno Dwinaya menulis tidak mustahil dapat direalisasikan di kemudian hari, "Namun dengan catatan bahwa semua sepakat usulan ini perlu dikaji kembali secara mendalam bagaimananya terutama aspek keselamatan bagi semua pengguna jalan tol." (Baca selengkapnya)

4. Antara Golput, Tanggung Jawab, dan Masalah Kita

Jika akan semakin meningkatnya angka "golput", yang memutuskan untuk tidak memilih baik Pilpres dan Pileg, mendorong kekhawatiran yang serius dari berbagai pihak.

Sebab, menurut Yupiter Gulo, semakin besar angka golput akan menjadi indikasi menurunnya kualitas demokrasi di Indonesia.

Dengan memilih untuk Golput saat pemilu seakan menegaskan bahwa banyak orang merasa tidak bertanggungjawab terhadap sebuah kejadian atau peristiwa, tetapi akibat dari kejadian itu, bagi Yuputer Gulo, sesungguhnya berdampak kepadanya juga, sehingga menjadi masalah baginya.

"Karena akibatnya berdampak kepada hidup Anda, dan sangat mungkin akhirnya menjadi masalah dan tanggung jawab Anda," tulis Yupiter Gulo. (Baca selengkapnya)

5. Bukan Liverpool Academy, Inilah Lapangan Kualitas Dunia yang Tersembunyi di Depok

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2