Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Penetrasi Putaran Tim "Yo-Yo" dalam Piala Dunia 2018

11 Juni 2018   06:59 Diperbarui: 14 Juni 2018   02:13 2599 3 0
Penetrasi Putaran Tim "Yo-Yo" dalam Piala Dunia 2018
Bola Resmi Piala Dunia 2018, Rusia (Foto: footballnerds.it)

Sejak 1920 permainan Yo-yo kali pertama diperkenalkan. Sebenarnya istilah Yo-yo untuk merujuk gaya putarannya yang memungkinkan kembali dengan sendirinya. Permaianan itu mahfum disebut dengan nama "Yo Yoing".

Namun, jauh sebelum itu, sekira 500 tahun sebelum masehi, Yo-yo ditemukan dalam sebuah lukisan. Lukisan itu menggambarkan seorang anak kecil tengah bermain Yo-yo dari tanah liat dengan tali di ujung jarinya. Lambat laun permaian semakin berkembang hingga ke tanah Filipina bagian Utara. Dalam bahasa Tagalog, Yo-yo berarti "datang-datang" atau "kembali".

Seperti senjata, Yo-yo digunakan orang-orang Filipina sebagai alat pelindung diri. Sebagaimana senjata Boomerang dari Australia.

Dalam bentuknya yang paling sederhana, Yo-yo terdiri atas as roda yang dihubungkan dengan kedua piringan. Dengan bentuk seperti itu, Yo-yo secara otomatis akan kembali saat dilemparkan ke bawah. Sleeper trick biasanya orang-orang menyebut. Ketika piringan itu dilempatkan ke bawah, tidak langsung kemudian ditarik, melainkan dibiarkan berputar terlebih dulu di bawah.

***

Dengan sistem setengah kompetisi, kejuaraan akbar sepakbola, Piala Dunia kerap menyajikan hal-hal yang tidak diduga. Semisal: tim unggulan yang dengan gagah mampu melawan tim-tim lain pada fase grup, malah dengan mudah dikalahkan di fase 16 atau 8 (delapan) besar.

Tim-tim seperti itu, yang lolos ke babak selanjutnya namun mesti langsung gugur, sama halnya dengan bermain Yo-yo. Tim Yo-yo, jika diperkenankan memberi sebuah istilah.

Kepastian dalam sepakbola adalah ketidakniscayaan. Satu-satunya yang pasti dalam sepakbola, tentu saja, adalah keputasan wasit. Ia sulit ditangguhkan. Oleh sebab itu menjadi menarik bila kita membahas Tim Yo-yo ini dalam gelaran Piala Dunia 2018.

***

1. Inggris 

Penyerang Inggris, Harry Kane, sedang merayakan gol. (Foto: AFP)
Penyerang Inggris, Harry Kane, sedang merayakan gol. (Foto: AFP)
Seperti ada "kesialan" yang didapat Timnas Inggris setelah dua gol heroik Maradonna. (1) Dilakukan dengan tangannya dan (2) aksi heroik dari paruh lapangan dengan melewaalti 6 pemain, termasuk kiper. Meski perlu diakui pula kalau dua gol tersebut baru terjadi 20 tahun setelah kali terakhir Inggris menjuarai pada 1966.

Yang kemudian menjadi kambing hitam adalah liga domestik. Liga yang konon terbaik itu sampai sekarang belum bisa menghasilkan satu gelar Piala Dunia sekalipun. Sepakbola di tanah Inggris tak ayal program televisi: yang hanya dinikmati, lalu selesai.

Tidak mudah memang mengelola timnas Inggris. Sebab pada liga domestik pemain-pemain timbul-tenggelam. Fisik pemain berbanding lurus dengan inkonsistensi.

Lihat saja bagaimana pemain yang dibawa Southgate, mereka adalah penggawa utama tim-tim besar Liga Inggris. Namun, dari semua pemain yang dibawa, nampaknya beban paling berat ada pada diri Harry Kane.

Setelah bersusah payah berhasil merusak perayaan Saint Totteringham's Day dengan membawa Spurs kembali finis di atas Arsenal--sekaligus masuk Liga Champions-- Harry Kane adalah satu-satunya penyerang murni. Itupun akan bergantian dengan (Jamie) Vardy.

Berada pada Grup G bersama Belgia, Panama dan Tunisia, nampaknya ini akan menjadi grup yang lumayan ditunggu setiap pertandingannya.

2. Belgia 

Skuad Belgia yang juga bermain di Liga Inggris (Foto: Mirror)
Skuad Belgia yang juga bermain di Liga Inggris (Foto: Mirror)
Sepertinya ini adalah Generasi Emas timnas Belgia. Tim ini mengingatkan bagaimana sebuah tim terbentuk dengan bibit-bibit terbaik a la serial kartun Captain Tsubasa. Tumbuh bersama, kemudian masing-masing pemain mencari jalannya sendiri pada karir profesional lalu kembali bertemu di skuad timnas.

Yang juga menarik adalah 80 persen pemain yang dipanggil bermain di Liga Inggris. Bahkan ada sebuah guyon "Liga Inggris mengirim dua wakil di Piala Dunia." Betapa meyakinkan, bukan?

Courtois, Alderweireld, Vertonghen, De Bruyne, Dembele, Fellani, Hazard hingga Lukaku, adalah pemain-pemain kunci pada setiap tim yang dibela. Selebihnya, bisa dijadikan pemain untuk merotasi bila tim sedang tertinggal atau unggul.

Belgia dan Inggris dimungkinkan bisa lolos fase grup, namun yang kemudian jadi penghalang adalah lawan mereka setelah itu: tim-tim dari Grup H (Polandia, Senegal, Kolombia dan Jepang).

Satu-satu yang menggangu Belgia, paling tidak, adalah agen-agen tim yang mencari pemain pascaPiala Dunia. Nama-nama besar itu, besar kemungkinan selalu menjadi incaran. Dan itu mengganggu secara mental ketika tengah bertanding.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2