Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Film "Bumi Manusia" dan Tafsir Kita yang Kadung Kreatif

31 Mei 2018   17:05 Diperbarui: 1 Juni 2018   00:13 1912 7 0
Film "Bumi Manusia" dan Tafsir Kita yang Kadung Kreatif
Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan hadir dalam jumpa pers film Bumi Manusia, di Desa Gamplong, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Jawa Tengah, Kamis (24/5/2018).(Dokumentasi Falcon Pictures)

Sepertinya yang bisa "adil sejak dalam pikiran" hanya Minke dalam roman "Bumi Manusia". Selebihnya, kita, lebih mudah menafsir tinimbang (daripada) agar supaya "bisa adil dalam perbuatan".

Bagaimana tidak, ketika Hanung Bramantyo yang menunjuk Iqbaal Ramadhan untuk memerankan Minke, roman Bumi Manusia sudah menuai masalah. Paling tidak, untuk pembaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer dengan baris penggemar Iqbaal atau faktor-faktor eksternal lainnya.

Mbak Avy berpendapat, semakin banyak yg meragukannya justru pesonanya akan semakin kuat.

"Saya yakin dia calon aktor masa depan yang ingin menunjukkan kemampuan, daripada penampilan," lanjutnya.

Dari segi strategi pemasaran, misalnya, bagi Stevan, alasan pemilihan Iqbaal yang notabene idola para remaja saat ini, sebagai tokoh utama film "Bumi Manusia" tentu bisa dipahami.

Namun tidak hanya berhenti di sana. Wijatnika Ika membuat surat terbuka kepada Iqbaal. Inti dari surat terbuka itu: Minke merupakan representasi tokoh nasional yang sangat penting bagi Indonesia saat benih-benih nasionalisme mulai tumbuh.

"Maka memerankan Minke bukan pekerjaan sembarangan karena beliau adalah tokoh nasional sekaligus tokoh dunia," tulis Wijatnika Ika kemudian.

Pro dan kontra adalah keniscayaan dalam setiap ekranisasi. Begitu Zainurrakhmah membuka tanggapan atas surat terbuka sebelumnya.

Namun yang ditegaskan dalam surat balasan tersebut adalah "jika kalian menanyakan apakah Iqbaal bisa memahami Bumi Manusia, saya akan beri sedikit informasi. Dua tahun lalu, Iqbaal sudah membaca Bumi Manusia karena itu salah satu buku bacaan wajib sekolahnya di Amerika. Saya tidak yakin sekolah-sekolah di Indonesia sekarang ini mewajibkan hal yang sama. Wahai senior, paling tidak Iqbaal selangkah lebih maju mau membaca dibandingkan teman-teman segenerasinya."

***

Menurut Muhammad Mustaqim kreativitas itu harus menjadi bagian dari upaya menghidupkan karya monumental yang pernah dimiliki anak bangsa ini.

Latar pendapatnya adalah ketika ia pernah menonton cuplikan pementasan teater Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. "Imajinasi pada semua tokoh inipun runtuh."

Maka ia berharap pada ekranisasi "Bumi Manusia", nantinya diharapkan mampu menghadirkan ide dan pesan utama dalam novel aslinya. Jangan terjebak pada satu sudut pandang, sehingga membiaskan ide pokok novel tersebut.

Namun yang kemudian menjadi diskursus yang menarik: ketika gelombang generasi milenial atau lebih muda dari itu mulai memburu buku-buku Pram di toko buku.

Satu hari pasca Hanung Bramantyo mengumumkan film Bumi Manusia beserta para pemain, buku "Bumi Manusia" mendadak habis. Habis. Bukan seperti nasib buku-buku Pramoedya Ananta Toer terdahulu yang dibuang atau dibakar.

Para pemburu buku-bukunya Pram sendiri nampaknya tidak lagi memedulikan reaksi warganet di media sosial. Sebab, menurut Priesda Dhita Melinda, "memancing" keributan apalagi dunia media sosial itu sangat "kejam".

"Satu pancingan kalimat negatif akan memancing kalimat negatif berikutnya," lanjutnya.

Walau sepertinya ada yang dilupa dari keriuhan film Bumi Manusia: bahwa Bumi Manusia bukanlah kisah roman belaka.