Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Editor - Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Nun Jauh di Sana, Ada Banyak Kisah dalam Peringatan Hari Pendidikan Nasional

9 Mei 2018   17:17 Diperbarui: 2 Mei 2019   14:20 1523
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan begitu diskriminatif di massa kolonial. Hanya anak-anak priyayi yang boleh mengenyam bangku sekolah. Dampaknya inlander semakin minder. Soewardi Sorjadiningrat resah. Pria yang kelak dikenal sebagai Ki Hajar Dewanatara itu mendirikan Taman Siswa. Semacam sekolah tandingan.

Berdirinya Taman Siswa membuat pemerintah Belanda khawatir: sekolah pribumi semakin menjamur. Belanda berusaha menekan itu. Mereka mengeluarkan kebijakan aturan tentang segala sesuatu terkait penyelenggaraan pendidikan mesti atas izin Belanda.

Kebijakan semacam itu tidak membuat Ki Hajar bergeming. Ia dan Taman Siswanya terus melebarkan sayap. "Sepuluh tahun kemudian, meskipun sudah mengeluarkan peraturan Sekolah Liar pada September 1932," tulis Frances Gouda dalam Dutch Cultures Overseas, mengutip Historia (06/05/2018), "tetapi Taman Siswa sudah mendirikan 166 sekolah dengan sekira sebelas ribu murid Jawa."

Tak sampai di situ. Sekolah yang didirikan pada 1922 di Yogyakarta ini juga dianggap mengadopsi pendidikan barat. Perkiraan itu didasari oleh kedatangan seorang tokoh atau pakar pendidikan asal Italia, Maria Artemisia Montessori, ke Taman Siswa medio 40-an --sebelumnya Rabindranath Tagore, tokoh nasional dan pendidikan India juga pernah ke Yogyakarta, pusat Taman Siswa. Foto Montessori pernah terpampang di sana.

Ki Hajar tidak membantahnya. Ia justru mengaggumi. Baginya ajaran Montessori --juga Tagore-- memberikan penujuk baru dalam pendidikan. Tapi ia juga mengkritik dari ajaran keduanya.

Menurut Ki Hajar, mengutip Kompas.com, Montessori terlalu mementingkan jasmani dan kognitif. Sehingga tidak menyentuh batin anak-anak. Sebaliknya, Tagore kurang menekankan kognitif dan psikologis. Terlalu religius.

Ki Hajar memang mengambil ajaran keduanya. Namun tidak mentah-mentah. Ia hanya mengambil baiknya untuk kemudian disesuaikan kembali dengan budaya Indonesia. Singkatnya memadukan kognitif, religius, dan budaya.

Puluhan tahun sejak itu, pendidikan kita telah banyak mengalami perubahan. Bahkan melupakan pendidikan ala Ki Hajar: Yang diingat hanya kelahirannya pada 2 Mei; sekaligus sebagai Hari Pendidikan Nasional.

***

Cerita di atas baru secuil dari apa yang tak boleh kita lupakan dalam memperingati momen penting mengenai pendidikan. Selain sepenggal sejarah tadi, ada juga cerita-cerita lain dari Kompasianer di momen Hari Pendidikan tahun ini.

Hari Pendidikan Nasional di Kalimantan Timur, misalnya. Di sana masih akan terus melakukan berbagai upaya untuk menekan jumlah buta aksara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun