Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Artikel Utama

Kembalinya Keunguan Sastra Kita

12 September 2017   10:23 Diperbarui: 12 September 2017   16:43 1896 13 6
Kembalinya Keunguan Sastra Kita
Ilustrasi (Pixabay)

Pernah sampai pada titik tertentu, dulu, kesusastraan Indonesia, khususnya di majalah Horison, mengalami kesamaan akan bahasan karya-karya yang dimuat di sana. Ini bisa jadi sebuah kritik besar, lantaran, seperti yang kita tahu majalah Horison adalah (bisa jadi) barometer kesusastraan Indonesia pada masanya. Bagi siapapun penulis yang karyanya dimuat di sana, akan dirasa sah-sah saja berbangga diri.

Adalah seorang Fuad Hassan yang mengatakan hal itu pada sebuah diskusi karya-karya sastra majalah Horison. Katanya, bahwa sastra Indonesia yang muncul di majalah Horison berwarna ungu. Ungu, dalam hal ini, tentu banyaknya karya yang membicarakan perasaan-perasaan personal. Tema-tema sosial-politik amat kurang disentuh oleh penulis-penulisnya.

Fuad Hassan mengatakan itu sekitar tahun 1960-an. Seperti yang kita tahu juga, kondisi politik Indonesia sedang panas-panasnya: era di mana rezim Soekarno berpindah ke Soeharto. Masih ada memang, tapi hanya segelintir sastrawan (atau, kelompok kalau boleh mengotakannya). Mereka, segelintir sastrawan ini, oleh HB. Jassin disebut dengan kelompok Angkatan 66. Itupun banyak diisi oleh organisasi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Dari organisasi itulah, paling tidak, banyak mengagendakan sastra kerakyatan yang secara tersurat maupun tersirat menulis tentang kenyataan-kenyataan yang dialami masyarakat pada umumnya.

Dan entah mengapa, di sisi lain, tema-tema sosial-politik tenggelam dan tergantikan oleh "keunguan" jika boleh meminjam istilah Fuad Hassan di majalah Horison. Menurutnya, orang-orang lebih cenderung melihat ke dalam dirinya masing-masing. Apapun yang bisa ia temukan, dituliskan. Perasaan-perasaan seperti itulah yang lalu menjadi karya sastra yang dimuat di Majalah Horison: kaya akan perasaan personal seseorang.

Adakah itu kabar baik atau buruk untuk kesusastraan Indonesia? Oleh karenanya Seno Gumira Adjidarma pernah menyebutkan kalau sastra Indonesia masih seputar keindahan estetika saja. 

Dan terkait keunguan sastra Indonesia, rasa-rasanya kembali terasa di kanal Fiksiana. Perasaan-perasaan yang cenderung personal seperti memenuhi hampir setiap harinya, setiap bulannya; setiap waktu. Menjadi menarik ketika kita coba mengait-kaitkannya dengan kehidupan personal penulis. Namun yang menjadi pertanyaan besar: ketika sosial media seperti halnya hutan belantara yang dipenuhi keributan (pilihan) politik identitas, sayangnya itu tidak terbawa dalam hal cerita-cerita yang disajikan di Fiksiana. Apakah (jalan) sastra dijadikan oleh Fiksianer yang kadung jenuh tentang bahasan sosial-politik Indonesia?

Setidaknya ada beberapa cerita-cerita fiksi yang berhasil kami himpun pada bulan Agustus ini terkait "keunguan" sastra di Fiksiana. Kesan umum itulah yang begitu kentara sehingga ingin kami angkat pada kurasi ini. Ada 4 (empat) cerpen dan 2 (puisi) sebagai berikut:

  • Cerpen

Andi Wi (Mengunjungi Ibu), Wirdan Bazilie (Kafe yang Menyajikan Kenangan), Ikhwanul Halim (Pejuang Terakhir), dan Ika Septi (Confetti).

  • Puisi

M. Nasir Pariusamahu (C) dan S. Aji (Mendoakan Pemakaman Gerimis).

*** 

Seperti yang sudah disampaikan di atas, cerita-cerita ini adalah 6 (enam) dari beberapa banyak kesamaan bahasan serupa --yang keunguan tentu saja. Pilihan ini pada akhirnya bukan jatuh kepada siapa yang menuliskannya, akan tetapi lebih kepada bagaimana sebuah karya itu tampil --baik secara bentuk atau isinya-- di hadapan pembacanya. 

Tema-tema dari keenam karya berikut memang ada yang secara langsung atau tidak menghadirkan sisi "keunguan" tersebut. Semisal cerpen Andi Wi (Mengunjungi Ibu). Pada cerita ini, sudah tentu, mengisahkan bagaimana kerinduan seorang anak kepada Ibunya. Perasaan yang timbul-tenggelam karena kesepian. Ada rasa kehilangan yang kerap dirasakan acapkali saling bertukar kabar di telepon. 

Masalah akan perasaan mencapai puncaknya manakala tahu ketika mendapati kabar Ibunya sakit. Perjalanan menjumpai Ibu itulah yang terasa amat personal dan bahkan bisa dialami oleh banyak perantau.

Apalagi yang terasa personal selain kenangan itu sendiri? Tema itulah yang coba diangkat oleh Wirdan Bazilie (Kafe yang Menyajikan Kenangan). Namun, dari beberapa fragmen yang disajikan, ada hal yang menarik ketika merasakan kenangan oranglain. Kenangan seorang gadis kecil yang bermain-main di pantai. Atau, akan terasa juga jika kita lihat puisi S. Aji (Mendoakan Pemakaman Gerimis): kenangan yang ditempatkan di sebuah pemakaman. Kematian yang dirundung kesunyian. Dan cara terbaik, bagi S. Aji, adalah tetap mendoakan.

Kita tak pernah memiliki bahagia yang kau harapkan dari diam di bawah gerimis.
Kita hanya diberi rasa ragu di kamu. Keyakinan di aku. Dan masa depan.
Sisanya, keberanian untuk memilih: membiarkanku tetap dicelotehi diam atau meminum gerimis dari matamu!

Dua cerpen lainnya juga mengisahkan keintiman persaan yang personal: tentang kecintaan anak-anak kepada Ibu Lientje yang mantan seorang pejuang itu (Pejuang Terakhir) dan tentang kisah cinta segitiga antara Amara dengan Jo dan Rendra. Meski kedua cerpen ini tidak dilatarbelakangi hal yang sama, namun perjuangan dalam mempertahankan sikap menjadi menarik untuk simak.

***

Secara tersurat puisi M. Nasir Pariusamahu (C) menceritakan tentang keadaan sosial tanah kelahirannya; tentang bagaimana segala telah dirampas oleh keserakahan. Dan, yang menjadi sangat pesonal adalah saat di mana kecintaan itu direlakan. Perhatiakan bait berikut: 

Sebelum beta mati
Beta pesan buat tuan-tuan di tanah pusaka
Tanah yang kalian gali, akan menjadi kuburan mayatmu.

Ini seakan mengarahkan pemabaca untuk tetap ingat, kepada dirinya masing-masing, bahwa Tanah yang kalian gali, akan menjadi kuburan mayatmu.

***

Mencoba mencari benang merah antara keriuhan (pilihan) politik identitas yang tengah gagah-gagahnya di sosial media dengan sikap personal yang cenderung individual itu akan terasa semakin menarik. Apalagi tahun depan akan diadakannya Pilkada Serentak! Dan yang jadi pertanyaan adalah apa warna "keunguan" itu semakin terang atau memudar?

(HAY)