Mohon tunggu...
Kompasiana
Kompasiana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Akun Resmi

Akun resmi untuk informasi, pengumuman, dan segala hal terkait Kompasiana. Email: kompasiana@kompasiana.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Era Kolonial: Pengalaman Mahal untuk Indonesia yang Lebih Kuat

16 Agustus 2022   04:29 Diperbarui: 18 Agustus 2022   01:33 4433 37 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ada sejumlah peninggalan kolonialisme yang apabila kita kembangkan dengan bijak, dapat menjadi kontribusi besar bagi kemajuan negeri. (dok.Kompasiana)

Kompasianer, tentunya kamu pernah mendengar cerita dari kakek dan nenek tentang kehidupan mereka di masa penjajahan dulu. Apakah menurutmu ada yang bisa dipelajari dari era tersebut?

Pada Topik Pilihan kali ini, Kompasiana berkolaborasi dengan Kompasianer Christopher Reinhart. Ia adalah seorang peneliti sejarah alumnus Universitas Indonesia. Satu dari sedikit sejarawan Indonesia yang berfokus pada era kolonial Indonesia dan Asia Tenggara.

Pria kelahiran 6 Agustus 1998 ini telah melakukan banyak penelitian dan menulis di berbagai platform dan media, termasuk Kompasiana. Ia juga menerbitkan buku Mempertahankan Imperium: Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer dan Akhir Hindia Belanda (Marjin Kiri, 2021).

Perannya sebagai asisten peneliti Profesor Peter Carey di Universitas Oxford membawanya pada beragam sudut pandang yang menarik tentang kolonialisme di Indonesia. Tak sesederhana berbicara tentang penjajahan, kolonialisme sesungguhnya dapat menjadi sebuah cermin untuk sebuah bangsa melangkah ke depan setelah merdeka.

Di Indonesia, misalnya, ada sejumlah peninggalan kolonialisme yang apabila kita kembangkan dengan bijak, dapat menjadi kontribusi besar bagi kemajuan negeri. Misalnya jalur kereta api, produk hukum, prasarana, bangunan, pendidikan, ilmu arsitektur, kekayaan kuliner, bahasa, dan lain-lain.

Sebaliknya, ada pula jejak kolonialisme yang perlu kita waspadai supaya dampak negatifnya tak lagi terulang di masa ini. Misalnya segregasi ras dan agama yang menyebabkan diskriminasi serta kebencian terhadap kesukuan/agama tertentu. Atau budaya korupsi yang perlu disadari telah melembaga sehingga perlu ditangani.

Ada pula contoh lain yang dilematis. Misalnya di bidang pertanian. Tanam paksa di era kolonial pada satu sisi menyebabkan bencana kelaparan. Tapi pada sisi lain, moyang Indonesia jadi mengenal teknik pertanian dan sistem perdagangan yang lebih kompleks dengan dibangunnya pabrik, jalur distribusi, dan pelabuhan.

Nah, pada momentum 17 Agustus ini Christopher Reinhart mau menantang kamu merefleksikan jejak kolonial yang ada/terasa di daerahmu! Lalu ceritakan bagaimana warga setempat menyikapinya sebagai kisah masa lalu yang dapat menjadi pelajaran sekaligus pijakan di masa sekarang.

Misalnya di Bogor ada Kebun Raya yang berkontribusi besar bagi dunia riset. Lalu di Medan ada "Kampung Madras", hunian keturunan India yang dulu digolongkan sebagai warga "Timur Asing". Bagaimana cara warga setempat mengolah perbedaan menjadi kekuatan? Bagaimana pula kiat warga Flores memanfaatkan pola pendidikan misionaris era kolonial pada studi seminari?

Kompasianer, yuk ikutan tantangan dan ajakan Christopher Reinhart ini di Kompasiana dengan menyematkan label HUT 77 RI pada tiap konten yang kamu buat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan