Mohon tunggu...
Kompasiana
Kompasiana Mohon Tunggu... Akun Resmi

Akun resmi untuk informasi, pengumuman, dan segala hal terkait Kompasiana. Email: kompasiana@kompasiana.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Masih Adakah Tempat untuk Pakar Medis di Indonesia?

4 Agustus 2020   21:58 Diperbarui: 4 Agustus 2020   22:48 699 18 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Masih Adakah Tempat untuk Pakar Medis di Indonesia?
Ilustrasi tenaga medis menangani pasien covid-19 (Diolah dari foto KOMPAS.com/NURWAHIDAH)

Polemik yang menyusul penayangan konten Youtube Anji bersama Hadi Pranoto yang mengaku menemukan antibodi Covid-19 berlangsung panjang. Selasa (4/8) keduanya dikabarkan resmi dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penyebaran berita bohong/hoaks. Laporan ini dilayangkan oleh Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid.

Sebelumnya, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) telah menanggapi konten Youtube Anji-Hadi yang berisiko menimbulkan kebingungan masyarakat. Pasalnya terdapat sejumlah klaim yang dinilai berlebihan dan pernyataan yang rancu secara medis.

Selain itu, para akademisi juga mempersoalkan pembubuhan sebutan "Profesor" dan "pakar mikrobiologi" pada nama Hadi Pranoto. Warganet pun mencari rekam jejak Hadi Pranoto dan disimpulkan bahwa Hadi tidak memiliki karya akademis yang dipublikasikan. Kabiro Komunikasi IPB Yatri Indah melalui Kompas.com juga membantah Hadi Pranoto sebagai Doktor IPB.

Lalu bagaimana Hadi Pranoto mengambil porsi berbicara di publik dan melakukan klaim medis bila latar belakang akademisnya masih dipertanyakan? Bagaimana jika keterangan Anji yang adalah seorang seniman dan Hadi Pranoto telanjur diyakini sebagian kalangan?

Sebuah buku "The Death of Expertise" (Indonesia: Matinya Kepakaran) oleh Tom Nichols menjelaskan fenomena ini. Bahwa publik kini lebih mengindahkan apa yang disampaikan oleh influencer alih-alih para ahli yang lebih memiliki kompetensi di bidang tertentu. Peran pakar pun, kian tersingkir.

Hal ini diperparah dengan keleluasaan berkomentar yang dimiliki oleh setiap warga. Semua orang bisa beropini dan menjadi ahli apapun di luar kepakarannya. Komentar yang berulang --meski dari non-ahli, lantas bisa menjadi kebenaran baru yang diyakini publik. Padahal bisa jadi hoaks.

Kompasianer, bagaimana kamu melihat fenomena ini? Kamu punya pengalaman? Atau sebaliknya, kamu adalah orang yang percaya bahwa setiap orang perlu mendapat kesempatan berbicara pada bidang yang bukan ranah kompetensinya? Mungkin karena ilmu bisa interdisipliner?

Sampaikan ulasan, opini, reportase, tips dalam bentuk konten di Kompasiana. Tambahkan label Matinya Kepakaran Medis (menggunakan spasi) pada setiap konten yang kamu buat.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x