Kompasiana
Kompasiana Administrasi

Akun resmi untuk informasi, pengumuman, dan segala hal terkait Kompasiana. Email: kompasiana@kompasiana.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

6 Solusi Kompasianer untuk Mencegah Kekerasan pada Anak

27 Oktober 2014   05:48 Diperbarui: 17 Juni 2015   19:37 7953 0 0
6 Solusi Kompasianer untuk Mencegah Kekerasan pada Anak
1413902499425291300




[caption id="attachment_368226" align="aligncenter" width="546" caption="Stop Kekerasan pada Anak Sumber: Shutterstock"][/caption]

Kekerasan dalam  ranah pendidikan semakin memprihatinkan. Masih belum ada cara yang benar-benar efektif dalam menangani dan mencegah kasus-kasus tersebut. Kita dapat dengan mudah menemukan berbagai berita mengenai kekerasan yang terjadi di dalam pendidikan Indonesia.

Berbagai kalangan, terutama para orang tua, semakin was-was akan ancaman dan kurangnya jaminan keamanan terhadap anak-anak mereka. Alhasil, bukan ilmu yang didapat, tapi trauma yang mendalam bagi siswa yang menjadi korban, orang tua korban, termasuk siapa pun yang membaca dan mendengar berita-berita yang beredar mengenai korban-korban kekerasan tersebut.

Ironisnya, para pelaku kekerasan tersebut adalah orang-orang yang harusnya bisa ikut menjaga dan melindungi para korban; seperti guru, penjaga sekolah, sampai teman seangkatan, atau teman sekelas.

Berbagai berita menghebohkan, mulai dari beredarnya video mesum siswa-siswi SMP, kasus JIS, sampai pemukulan seorang siswi oleh teman-temannya baru-baru ini, menjadi tamparan keras bagi para pendidik, orang tua, pihak sekolah, dan pemerintah. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Belum selesai kasus penganiayaan seorang siswi, publik kembali dihebohkan penganiayaan Renggo Khadafi oleh pelaku yang tidak lain adalah kakak kelasnya, yang berujung maut. Penganiayaan dilakukan hanya karena Renggo tidak sengaja bertabrakan dengan pelaku hingga pisang goreng pelaku jatuh. Kronologi kejadiaannya dibahas oleh Sahroha Lumbanraja dalam tulisannya. Sungguh sangat memprihatinkan, mengingat kejadian tersebut terjadi di kelas yang hanya berbatas tembok dengan kantor kepala sekolah SDN 09 Pagi Makasar, Jakarta Timur.

Apa yang dialami oleh Renggo Khadafi menjadi perhatian tersendiri bagi para kompasianer dan mereka mencoba untuk memberi solusi yang mungkin bisa jadi masukan bagi pihak pendidik, sekolah, orang tua, dan pemerintah.

Pemasangan CCTV

Menurut Ariyani Na, pihak sekolah perlu memasang CCTV di seluruh sekolah untuk memantau kegiatan para siswa. Ini bisa jadi sebuah solusi yang cukup mahal dan membutuhkan dana lebih, selain untuk pemasangan, pihak sekolah juga membutuhkan orang yang bisa memantau CCTV tersebut. Satpam dan guru dapat melakukan pemantauan secara bergantian. Dengan demikian, pihak sekolah dapat memantau beberapa lokasi pada saat yang bersamaan.

Pendidikan Budi Pekerti

Sedangkan menurut Gunadi PG, pendidikan budi pekerti adalah salah satu solusi untuk mencegah krisis moral yang melanda di kalangan generasi penerus. Seperti yang kita ketahui, pendidikan budi pekerti masih belum merata dan masih belum benar-benar menjadi mata pelajaran wajib di semua sekolah walau telah dicanangkan sejak tahun 1994.

Ada pun, secara psikologis, didikan dan perilaku keluarga, peran lembaga penyedia pendidikan, sampai tontonan televisi dapat mempengaruhi sikap, pola pikir, dan tindakan siswa.

Didikan dan Perilaku Keluarga

Seperti yang disampaikan oleh Mbak Avy dalam tulisannya, dari posisi pihak keluarga, pola asuh yang berlebihan seperti terlalu memanjakan dan hanya memenuhi kebutuhan anak secara materi, dapat memicu sifat suka menganiaya/melakukan kekerasan. Kita perlu memperhatikan anak kita, namun bukan berarti memanjakannya secara berlebihan.

Atau kebiasaan orang tua yang suka bertengkar di depan anak-anaknya dapat memicu anak berperilaku atau bersikap kasar. Karena anak yang menyaksikan pertengkaran tersebut akan beranggapan bahwa kekerasan adalah hal yang wajar. Seperti contoh video berikut ini, bagaimana perilaku orang tua sangat mempengaruhi perilaku seorang anak.



Memaksimalkan Peran Sekolah

Dari kacamata pendidik, menurut Eddy Roesdiono, sekolah harus memiliki fungsi kontrol sosial, di mana sekolah memiliki assessment (penilaian) terhadap perilaku anak.

Sekolah juga harus menggagas aktivitas-aktivitas internal sekolah yang bersifat positif, memfasilitasi aktivitas orang tua siswa dan siswa minimal setahun sekali seperti yang diterapkan oleh sekolah-sekolah di Jepang. Sekolah juga bisa membentuk petugas “breaktime watch” dari kalangan pengurus sekolah yang bertugas untuk berkeliling dan memantau kegiatan siswa.

Pembekalan Ilmu Beladiri

Pembekalan ilmu bela diri pun dapat menjadi salah satu solusi menurut Mbak Avy, selain mengajarkan kepada anak mengenai displin dan membentuk mental juga jasmani yang kuat, bela diri juga dapat digunakan untuk membela diri sendiri dari ancaman-ancaman yang ada. Namun, tetap harus diberikan pengarahan bahwa ilmu bela diri dipelajari bukan untuk melakukan kekerasan.

Mengawasi Tontonan Anak

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah apa yang ditonton oleh anak.  Menurut beberapa kompasianer, tayangan televisi yang mengumbar kekerasan dan tidak mendidik hanya demi mengejar rating serta pemasukan iklan, turut serta dalam pembentukan mental dan sikap anak.

Karena anak seringkali mencontoh apa yang mereka dengar dan lihat, sehingga televisi sebagai salah satu media hiburan selayaknya lebih memperhatikan dan memilah tayangan serta jam tayang. Walau telah diberi rating dalam setiap tayangan, namun pada jam-jam sibuk, tidak semua orang tua dapat menemani anaknya dalam menonton acara/tayangan televisi.

Orang tua pun harus mau peduli, mencari tahu dan turut mengawasi tayangan yang ditonton oleh anak-anaknya.

Sudah saatnya, kita saling bergandengan tangan dan bersama-sama menjalankan fungsi kita sebagaimana mestinya untuk mencegah kekerasan dalam ranah pendidikan, bukan hanya saling menyalahkan dan diam dalam keprihatinan. Kesuksesan sebuah rencana bisa terwujud, jika semua pihak sadar terhadap perannya dan mau peduli, serta bertindak. Moral harus mulai ditanam dari diri kita sendiri dan diajarkan kepada anak-anak kita. Pendidikan budi pekerti hanyalah sebuah mediasi, namun penerapannya perlu sebuah kesadaran dan kemauan. (RYU)