Mohon tunggu...
Abdul Salam Atjo
Abdul Salam Atjo Mohon Tunggu... Penyuluh Perikanan

Karyaku untuk Pelaku Utama Perikanan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Pakan Alami Phronima SP Lebih Hebat dari Artemia Salina ?

7 Juni 2015   13:16 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:18 359 0 0 Mohon Tunggu...

Tiga  orang mahasiswa semester akhir dari Fakultas ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar kerjasama dengan penyuluh perikanan membuktikan kalau pakan alami untuk udang windu benar-benar unggul dibanding dengan artemia dan pakan udang pabrikan.

Keunggulan phronima tersebut diketahui setelah kurang lebih 1 bulan dilakukan penelitian di petakan tambak desa Wiringtasi dan di hatchery desa Tasiwalie kecamatan Suppa.  Prof.Hattah Fattah, dosen Ilmu Perikanan UMI sekaligus pembimbing mahasiswa yang melakukan penelitian mengatakan ada dua metode dalam menguji keunggulan pakan alami phronima yaitu metode langsung di tambak dengan menggunakan hapa dan metode di bak kecil yang di pembenihan udang (hatchery) milik penyuluh perikanan swadaya.

Pengujian di tambak untuk mengetahui seberapa banyak kemampuan benih udang (benur) mengkonsumsi phronima setiap hari. Sedangkan  benur yang diberi pakan phronima di bak kecil hatchery untuk mengetahui pengaruh kecepatan pertumbuhannya dibanding yang menggunakan pakan artemia.

Dalam pengujian di hatchery, ada tiga wadah yang digunakan dengan volume bak yang sama. Setiap wadah ditebar benur  ukuran Post Larva (PL) 9-11 dengan kepadatan 5 ekor perliter air.  Dalam wadah pertama diberi pakan artemia. Wadah kedua diberi pakan phronima dan wadah ketiga diberi pakan kombinasi artemia dan phronima.  Setelah dipelihara selama 38 hari ternyata benur yang menggunakan pakan phronima pertumbuhannya lebih cepat yaitu mencapai ukuran panjang badan rata-rata 3,25 cm. Sedangkan benur yang menggunakan pakan artemia dan kombinasi artemia phronima panjang badannya masing-masing 1,32 cm dan 2,6 cm.

Dalam kesimpulan sementara yang disampaikan oleh Prof.Hattah Fattah kemarin mengatakan, phronima memang  terbukti lebih unggul dibanding dengan pakan impor  artemia yang harganya mencapai  ratusan ribu rupiah per 100 gramnya. “Tugas kami selanjutnya adalah  meneliti apa sebetulnya yang terkandung dalam phronima sehingga bisa percepat tumbuhnya udang yang mengkonsumsinya,” ungkap Hattah Fattah.  Setelah selsesai semuanya diteliti maka pemda tinggal mempatenkan karena jangan sampai pakan alami endemik ini diakui oleh daerah lain.

Menurut Hattah Fattah, pakan alami phronima ini berpotensi menjadi pakan pengganti  artemia di hatchery. Jika ini berhasil kata Hattah, benur udang windu yang diproduksi oleh hatchery di Pinrang akan semakin berkualitas yang dapat berpengaruh pada peningkatan produksi udang windu di Pinrang. Sedangkan tugas penyuluh adalah melakukan sosialisasi ke pembudidaya udang di desa lain yang ada di wilayah pesisir kabupaten Pinrang tentang keunggulan pakan alami phronima dan cara kulturnya di petakan tambak.

VIDEO PILIHAN