Mohon tunggu...
Acek Rudy
Acek Rudy Mohon Tunggu... Konsultan - Palu Gada

Entrepreneur, Certified Public Speaker, Blogger, Author, Numerologist. Mua-muanya Dah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pria dan Wanita Tidak Akur, Belajarlah dari Masyarakat Hua

3 September 2022   13:52 Diperbarui: 3 September 2022   13:56 474
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pria dan Wanita Tidak Akur, Belajarlah dari Masyarakat Hua (gambar: wanderlust.co.uk)

Menurut keyakinan mereka, sumber energi nu adalah alam, tapi secara lahiriah, setiap manusia juga memilikinya. Energi nu sangat mudah berpindah. Dari alam bebas ke manusia dan sebaliknya, serta dari satu orang ke orang lainnya.

Caranya bermacam-macam, mulai dari sekadar berbicara, kontak fisik, hingga melakukan hubungan seksual. Dengan berpindahnya nu, maka setiap energi manusia berpotensi untuk berfluktuasi. Bisa bertambah, bisa juga berkurang.

Menurut anggapan masyarakat Hua, wanita dianggap sebagai salah satu sumber nu di alam. Dengan demikian, secara kodrati, kadar nu pada wanita lebih banyak dibandingkan pria.

Dengan keyakinan ini terbentuklah pembatasan sosial yang diterapkan oleh masyarakat Hua. Tujuannya adalah untuk mengimbangi kadar energi nu pada setiap manusia. Harus pas, tidak boleh berlebihan tidak boleh juga terlalu kurang.

Wanita yang dianggap memiliki kadar nu yang terlalu banyak, harus mengtransfer energinya dengan melayani lelaki melalui pekerjaan rumah tangga.

Dengan cara ini maka kadar nu pada lelaki akan bertambah. Dan akan sangat berguna untuk beraktivitas di luar rumah.

Kendati demikian, transfer energi tidak bisa dilakukan secara serampangan. Karena setiap nu yang ditransfer berpotensi untuk menjadi energi yang baik (kosi') dan juga buruk (keva ro).

Energi kosi' dan keva ro sangat ditentukan oleh sikap dari pemberi energi. Sebagai contoh, wanita yang memasak dengan mood yang buruk, dianggap akan memindahkan nu yang negatif kepada keluarganya. Akibatnya, sang penerima keva ro akan mudah sakit atau kehilangan semangat.

Sebaliknya, kasih sayang seorang wanita adalah sumber energi yang positif. Ia laksana pupuk yang memicu perkembangan fisik, stamina, dan mental.

Keseimbangan energi nu juga bisa didapatkan di alam. Jika masyarakat Tionghoa mengenal konsep Yin-yang, demikian pula dengan masyarakat Hua. Istilah mereka adalah korogo dan hakeri'a.

Korogo berada pada makanan yang mudah dicerna, mudah ditanam, dan mudah didapatkan. Seperti sayur mayur atau hewan ternak. Sementara hakeri'a berasal dari makanan yang susah didapatkan, seperti hewan liar atau tanaman yang tumbuh di dalam hutan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun