Mohon tunggu...
Acek Rudy
Acek Rudy Mohon Tunggu... Konsultan - Palu Gada

Entrepreneur, Certified Public Speaker, Blogger, Author, Numerologist. Mua-muanya Dah.

Selanjutnya

Tutup

Home Pilihan

Hidup Minimalis, Hemat ala China Totok vs China Modern

10 Juli 2022   06:14 Diperbarui: 10 Juli 2022   09:44 1413
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Hidup Minimalis, Hemat ala Cina Totok vs Cina Modern (gambar: pinterest, freepik, diolah pribadi)

Hal selanjutnya yang saya ingat adalah omelan nenek selama tujuh hari tujuh malam. Ia bilang kalau itu adalah pemborosan. Karena di rumah masih ada beras sekarung.

Lalu apakah nenek adalah penganut faham minimalis? Tidak, karena ia adalah tipe pemulung. Pada saat beliau meninggal, mama berhasil megumpulkan lima dus besar yang tidak lagi berguna. Barang-barang peninggalan zaman Jepang yang sudah pantas menghuni museum.

Menariknya, barang tersebut tersusun rapih di lemarinya. Kondisinya masih layak digunakan pula. Saya harus mengangkat topi, bagaimana telaten dirinya dalam mengatur apa yang sebenarnya ia butuhkan.

Hal ini mungkin terjadi karena nenek hidup susah sewaktu muda. Di masa penjajahan, tidak banyak barang tersedia. Sehingga apa pun yang berada di dalam rumah, itu berharga adanya.

Kalau masih bermanfaat jangan dibuang. Kalau masih ada yang bisa digunakan untuk apa membeli yang baru. Kalau ada yang rusak, kenapa tidak diperbaiki saja.

Namun mama punya pendekatan berbeda. Ia mengakui jika dirinya adalah sosok wanita modern. Menolak hidup susah telah mengubahnya menjadi seorang yang tangguh. Ia pandai mencari uang, membantu papa jualan.

Baginya, tidak apa-apa perilaku konsumerisme, sepanjang apa yang dibeli mampu dibayar. Jangan pernah memaksakan keinginan jika tidak sesuai kantong.

Baginya membeli sesuatu yang fancy, akan menambah semangatnya untuk terus mencari uang untuk membiayai kebutuhannya. Tapi, mama juga mengakui jika ia bukan tipe pemboros. Karena ia tidak akan pernah membeli barang yang dia tidak butuhkan.

Dua pendekatan yang berbeda? Tentu saja. Tapi bagi saya ada persamaannya. Terbukti dengan kamar mereka sama-sama memiliki tumpukan barang.

Hanya saja jika nenek punya sepasang sepatu dari zaman bahulea, mama punya lima pasang model terbaru. Nenek merasa cukup dengan sepasang, sementara bagi mama lima adalah jumlah yang pas.

Dari sini kita bisa melihat bahwa gaya hidup hemat punya persepsi yang berbeda. Nenek berhemat dengan sebisanya tidak membeli barang baru. Sementara mama berhemat dengan membeli barang yang ia butuhkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Home Selengkapnya
Lihat Home Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun