Mohon tunggu...
Acek Rudy
Acek Rudy Mohon Tunggu... Konsultan - Palu Gada

Enterpreneur, Certified Public Speaker, Blogger, Author, Numerologist. Mua-muanya Dah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengapa Tahun 2012 Tidak Jadi Kiamat?

29 Oktober 2021   05:01 Diperbarui: 29 Oktober 2021   05:05 391 47 20
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Mengapa Tahun 2012 Tidak Jadi Kiamat? (sumber: merdeka.com)

Masih ingat film 2012? Kisah tentang kiamat itu pernah mengguncang dunia. Maklum, ramalan kiamat selalu bikin heboh. Tidak ada yang bisa meramal, namun tetap saja efeknya nyata, ada yang percaya. Khususnya dari kaum teori konspirator.

Disebutkan jika suku Maya punya peradaban yang berusia 5000 tahun. Anehnya, hitungan kalendarnya terhenti pada 2012. Tepatnya 21 Desember 2012.

Ramalan tersebut lantas bikin heboh. Bukan saja diminati oleh para arkeolog, sejarawan, budayawan, bahkan menyerempet juga ke rohaniawan.

Lantas, seperti yang sudah diduga sebelumnya (meskipun dengan hati yang sempat deg-degan), ramalan itu meleset.

Lantas kenapa bisa?

Ternyata memang persepsinya keliru, demikian ungkapan para ahli yang diambil dari sumber (1). Tahun 2012 bukan akhir dari dunia, tapi merujuk kepada akhir sebuah era penanggalan.

Teori ini terkait dengan perhitungan siklus 400 tahunan yang disebut b'ak'tun. Secara kebetulan, b'ak'tun ke-13 dalam kalendar Maya jatuh pada tanggal tersebut.

Menurut Sven Gronemeyer, seorang ahli peradaban suku Maya, siklus b'ak'tun 2012 merujuk kembali kepada kembalinya Itzamana alias Dewa pencipta, penyembuh, pelindung, sekaligus penguasa kehidupan Suku Maya.

Itzamana digambarkan sebagai guru yang mengajarkan peradaban bagi manusia. Berbagai lingkup area yang termasuk adalah kedokteran, sains, pertanian, sastra, bahkan kalendar beserta ramalan-ramalannya.

Senada dengan Gronemeyer, seorang ahli dari Universitas Meksiko, Erik Velasques juga mengatakan bahwa hanya dua dari 15.000 teks kuno suku Maya yang membahas tentang 2012. Itu pun bukan tentang kiamat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan