Mohon tunggu...
Acek Rudy
Acek Rudy Mohon Tunggu... Konsultan - Palu Gada

Entrepreneur, Certified Public Speaker, Blogger, Author, Numerologist. Mua-muanya Dah.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Kisah Pilu Kebakaran Mal Yogya Klender Mei 98: "Tolong Ma, Buka Pintunya"

14 Mei 2021   18:59 Diperbarui: 14 Mei 2021   19:05 32453
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kisah Pilu Kebakaran Mal Yogya Klender Mei 98, yukepo.com

Hari ini, dua puluh tiga tahun yang lalu. Momen reformasi terjadi. Mengakhiri era orde baru, masa pemerintahan Soeharto selama 32 tahun.

Mei 98, ibu kota dilanda kerusuhan. Dipicu dari penembakan empat mahasiswa Trisakti di depan kampusnya pada tanggal 12 Mei 1998. Hari-hari berikutnya menjadi salah satu sejarah terkelam bangsa ini.

Penjarahan terjadi di mana-mana. Toko milik orang Cina jadi sasaranya. Termasuk Mal Yogya di Kawasan Klender, Jakarta Timur. Kebakaran besar melanda, pada saat ratusan orang masih berada di dalamnya.

Baca juga: Mengenang Ita Martadinata, Korban dan Saksi Perkosaan Mei 98

Ibu Ruminah dan Baju Mengaji Gunawan

"[...] Ma, celana dan baju putihnya jangan dicuci ya, baru sekali dipake, masih wangi, [...]"

Tanggal 13 Mei 1998, sehari sebelum kejadian kebakaran Mal Yogya Klender, Gunawan Subyanto, anak ketiga Ruminah merengek diminta dibelikan pakaian dan peci untuk mengaji.

"Warnanya putih ya, ma, buat ngaji sama ustad Uung," ujar Gunawan kepada Ruminah

celana putih milik Gunawan Subyanto (bbc)
celana putih milik Gunawan Subyanto (bbc)
Sang ibu lantas bergegas ke Pasar Klender untuk memenuhi permintaan putranya. Saat itu, suasana di ibu kota sudah terlihat lenggang. Kerusuhan sudah mulai terjadi di mana-mana.

"Ma, celana dan baju putihnya jangan dicuci ya, baru sekali dipake, masih wangi," ujar Gunawan setelah pulang mengaji. Ia tampak riang sambil ketawa loncat-loncat.

Tanggal 14 Mei 1998. Ruminah mendengar ada kerusuhan di sekitar Yogya Plaza dari Gunawan. Padahal salonnya berada di sana. Ruminah pun bergegas ke sana. Ia khwatir salonnya dijarah orang.

Gunawan memaksa ikut, katanya mau bantu beres-beres. Ia tidak peduli larangan Ruminah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun