Mohon tunggu...
Acek Rudy
Acek Rudy Mohon Tunggu... Konsultan - Palu Gada

Entrepreneur, Certified Public Speaker, Blogger, Author, Numerologist. Mua-muanya Dah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Uang Logam di Tengah Virus Corona, "Tidak Takut Corona Pangkal Kaya"

16 Maret 2020   13:38 Diperbarui: 16 Maret 2020   15:29 407
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Terakhir kegiatan yang marak menguntungkan penjual permen ini, kemudian dilarang, karena melanggar hak konsumen dan ada sanksi pidananya. (Sumber)

Sebagai jimat pembawa hokki -- pernah menemukan kolam di tempat wisata yang penuh dengan koin dari mancanegara. Nah, penulis pun sering melakukannya. Membuang koin di kolam keberuntungan. Bukan hanya itu, dirumah pun ada kolam kecil yang penuh dengan uang koin yang berserakan. Konon kabarnya, bisa membawa hokki... Hmmm...

Seringkali karena sibuk atau malas, kita menolak menerima kembalian koin. Nah, kata nenek, rezeki apapun tidak boleh ditolak, lagipula uang koin adalah milik kita, bukan rezeki yang turun dari langit. Kalau dikumpulkan, bisa juga loh dipakai membeli mobil Alphard, seperti ulah nyeleneh yang dilakukan oleh Youtuber Saaih Halilintar (sumber).

Masih banyak lagi hal berguna yang bisa didapatkan dari uang koin, seperti, yang dilakukan pada pertandingan sepak bola, juga sebagai pengganjal meja, alat kerokan, sampai dengan penghias meja yang berserakan.

Fakta mengenai uang koin

Secara volume, peredaran uang koin di seluruh Indonesia pada tahun 2010 mencapai 3.2 Trilyun, namun jumlah fisik (kepingan) mencapai 60% dari total uang yang beredar di masyarakat.

Sejak 10 tahun terakhir uang koin yang beredar bertambah dengan signifikan, yang berarti kebutuhannya terus bertumbuh. Hal ini disebabkan karena tingkat pengembalian uang koin hanya sebesar 16%. Selebihnya tersimpan didalam rumah, karena pada umumnya masyarakat tidak menganggapnya sebagai alat transaksi.

"Jika dibagi dengan keseluruhan penduduk, artinya setiap penduduk menyimpan 77 keping uang koin, "kata Deputi Gubernur BI Ronald Waas dikutip dari Antara. Wallahualam...

Lantas mengapa uang koin tetap harus ada? Salah satu alasan terbesar adalah untuk menjaga laju inflasi, bayangkan saja, bagaimana kalau harga yang tertera hanya sebatas nilai pada uang kertas saja.

Selain itu, uang koin juga terbukti membuat banyak pihak kebingunan. Menurut sumber, setiap tahun perusahan ritel harus bersusah payah mengumpulkan ratusan milyar demi uang kembalian ke pelanggan. Belum lagi pada setiap musim mudik, PT Jasa Marga harus menyiapkan uang receh pecahan Rp.500 sebanyak kurang lebih 1 Milyar Rupiah.

Mata uang koin juga lebih awet daripada sejawatnya yang terbuat dari kertas. Ketahanan koin usianya lebih lama, diantara 7-8 tahun, sedangkan kertas hanya sekitar 1 tahun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun