Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

Peminat Sosio-Humaniora, Sastra, Filsafat, dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pertengkaran, Egoisme, dan Kedewasaan Hidup

20 Juli 2021   11:56 Diperbarui: 20 Juli 2021   12:03 108 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pertengkaran, Egoisme, dan Kedewasaan Hidup
ilustrasi: pixabay.com

Di dalam setiap hal yang kita lalui dalam hidup, aku, kamu, dan mungkin mereka membutuhkan suatu dasar pertemanan yang bernilai untuk mengisi ruang-ruang hidup yang kosong.

Namun pembedaharaan pada kata "hidup" itu, sepertinya kita dan mereka hanya dapat menuntut bagaimana jika diri kita dimengerti tanpa kita melepas cara mengerti diri itu sendiri.

Sungguh seperti magic yang ajaib, kita terkadang lupa kita sendirilah yang salah menuntut dan terus menuntut demi sebuah kepuasan egoisme kita.

Kenyatataannya egoisme yang berujung pada pertengkaran dan juga sikap antitesisnya yaitu kedewasaan dari hidup. Mungkin hanya akan menjadi sedikit tanya dalam sebuah penantian kapan waktu dewasa itu datang, dimana kita tidak diselimuti lagi rasa egoisme yang berujung pada pertengkaran satu sama lain.

Memang sedikit agak canggung atau apapun perubahan dalam jalan hidup memang akan terus tampil pada apa yang semestinya dikehandaki. Tentu baik kedewasaan dan egoisme adalah sikap manusia yang tentu ada didalam tubuh, pikiran, dan perasaan yang sama.

Ibarat kesatuan dalam mesin, dimana setiap elmennya memiliki fungsi masing-masing. Sama halnya anatomi tubuh manusia yang mungkin saja menjadi dasar dari moodnya sendiri, yang fungsi dalam anatominya itu terkontaminasi pada racun-racun virus pikiran manusia sebagai chips dari otak yang menggerakan setiap bagian anatomi tubuh.

Tetapi entah bagaimana jalan itu dipijak bagi manusia yang selama hidupnya hanya menunggu kematian. Pada dasarnya setiap manusia adalah menunggu mati oleh sebab itu manusia dilahirkan.

Untuk itu cahaya pengetahuan dari dalam pembaharuan hidup itu semestinya diterima sebagaimana sebuah pelajaran dari hidup, dimana banyak orang bijak menyebut bawasannya hidup ini adalah bagaiamana kita melepas dahaga, hanya mampir untuk minum sejenak.

Apakah benar kita terlalu menggenggam apa yang disebut dengan kematian itu dan lupa bahwa kita ini dilahirkan untuk mati? Dari sedikit orang yang dimana dirinya tidak takut kematian dan mayoritas orang takut untuk mati.

Entah bayangan apa yang menakuti mereka pada bab kematian itu bila dilahirkan itu tetap masih berlangsung sebagai penyambung peradaban dunia. Seharunya jika manusia takut mati, mereka juga harus takut pada kelahiran dimana manusia-manusia baru itu tidak pernah dilahirkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN