Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Kompasianer

Peminat Sosio-Humaniora, Sastra, Filsafat, dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Untukmu Kegelapan Sekaligus Cahaya Bagiku

17 Juni 2021   08:41 Diperbarui: 17 Juni 2021   08:56 94 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Untukmu Kegelapan Sekaligus Cahaya Bagiku
ilustrasi: Pixabay.com

Setangkai bunga mawar merah memang tak cukup untuk aku lukiskan bersama hujan yang turun malam ini. Sekeder hanya kata, mungkin aku harus lari lagi pada kata-kata yang menumbuhkan bahkan membesarkan sari-sari jiwaku.

Untukmu, aku memang merindukan suatu jejak pengabdian, pada bintang malam yang harus aku raih di dalam bayanganmu. Sungguh aku seperti terusik pada kegelapan yang merindukan cahaya di dalam kehidupanku.

Secarik syair ini, tidak ada kata indah selain dari membawa diri pada harapan-harapan masa depan kita, lalu pertanyaanku, apakah hatimu masih ada secerca harapan untuk mengarungi samudra bersamaku?

Mimpi yang mungkin sudah semu, lukisan bagai awan yang tak akan lagi sama, masa lalu terkubur, masa depan seperti khayalan saja yang terus menghantuiku, bagaikan ombak di tepian sungai, tebing di pematang sawah yang tidak tinggi merongrong bagai siraman rohani yang dalam hidup akan menghampiri manusia.

Oh, belahan jiwa dalam angan, pikiran yang selalu saja mencari dimana bayang jiwamu itu. Cukuplah wahai engkau yang saat ini gelisah, rindumu mungkin hanya kekosongan seperti tentang apa yang kau rindukan dari manusia yang engkau kagumi itu. Semua kekaguman sama halnya pepesan kosong tanpa isi yang selalu menjadi racun bagi pikiranmu.

"Karena tentang manusia-manusia itu, tak lain hanyalah unsur dari udara, api, tanah dan ruang saja, dimana setiap pemujuan yang terlahir, akan ada kekecewaan yang mungkin akan dialami karena pada hakekatnya semua adalah kekosongan seperti doktrin dari budhisme itu atau suara-suara para filsuf jawa dimana hidup itu sebenrnya suwung (kosong)".

Namun kekecewaan juga dapat mengilhami jalan bagaimana engkau "manusia" akan berpijak selanjutnya dibalik kegelapan itu menjadi suatu kecerahan hidup yang hakiki sebagaimana manusia yang tercerhakan tabiat-tabiat kehidupannya.

Tetapi keindahan, manusia adalah sebait narasi-narasi pada fiksi pikirannya sendiri. Neraka begitu dekat dengan manusia dikala mengantungkan harapan besar pada manusia, yang selalu menuruti fiksi pikirannya sendiri.

Bagaimanapun manusia berpikir, mereka menganggap bahwa dirinya ada seperti apa yang diucapkan oleh filsuf rasionalis Prancis yakni Rene Decartes yang masih menggema di khazanah intelektualitas abad ke-21.

Tak ada logam yang meleleh dalam api, sekeras apapun kau akan menginterpretasikan pikiranmu itu dalam keindahan, adalah pikiranmu akan harapanmu sendiri pada manusia itulah, termasuk juga pada dirimu sendiri yang terlalu tinggi membuahkan kekecewaan bagimu.

Kembali kedamaian diri seperti kapas sutra yang lembut dari negri China sana. Bui-bui itu mungkin adalah pelajaran kehidupan, dimana kukungan dalam alam pikirmu merupakan suatu bentuk, ia juga pada akhirnya akan sama memenjarakan dirinya sendiri di tengah pulau yang jauh dari hingar bingar kota. Dibalik hutan dengan seribu Macan dan seratus ribu Singa hutan mengancam jiwa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN