Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Kompasianer

Peminat Sosio-Humaniora dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Aristoteles dan Generasi Kini yang Semakin Tidak Bahagia

24 Oktober 2020   16:48 Diperbarui: 24 Oktober 2020   16:55 194 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Aristoteles dan Generasi Kini yang Semakin Tidak Bahagia
Sumber: nautilusroom.com

Tidak dipungkiri bawasanya kebanyakan apa yang menjadi pikiran manusia kini adalah bagaimana mencukupi hal-hal yang kurang dari dirinya sendiri.

Saya tidak dapat menampik, jika kita adalah seorang pengangguran, kita hendaknya dan sudah sewajarnya berpikir harus mulai bekerja, meskipun secara kebutuahn makan dan minum kita sudah terpenuhi.

Karena pekerjaan sebagai status, tidak mudah dilepaskan begitu saja ketika kebanyakan dan umumnya orang saat ini bekerja. Bahkan karena modifikasi interpretasi, pekerjaan menjadi ukuran dalam menjalin sebuah ikatan pernikahan.

"Banyak ungkapan jika belum mapan tidak mau menikah dulu. Dan saat ini menikah adalah keputusan yang paling sulit dibuat oleh manusia jika memang tidak mentok dengan keadaan".

Memang saya sendiri berpendapat mengapa menikah adalah keputusan yang sulit. Tentu karena banyangan dari ketakutannya sendiri. Tentu tidak takut dengan siapa-siapa tetapi "takut" dengan dirinya sendiri yang tidak percaya diri dalam menjalani sebuah pernikahan.

Oleh karena itu sebagai seorang lajang, mungkin sebagai trasformasi hidup karena banyak dilakukan oleh orang lain yang sudah menikah. Hidup tidak dalam keadaan pernikahan adalah suatu beban pikiran juga.

Karena secara alamiah berhasrat tetapi pikiran tidaklah sampai pada suatu tindakan. Untuk itu "menikah" untuk generasi saat ini dipandang sangat dilematis. Bahkan untuk menikah seharusnya seseorang meniadakan pikirannya, yang penting jalan berani menikah.

Tetapi saat ini manusia selalu menggunakan pikirannya untuk itu sesuatunya dapat menghambat termasuk pernikahan, yang kemungkinan adalah potensi kebahagiaan manusia dengan membangun dan membina keluarga lewat nikah.

Sebab dijelaskan oleh Aristoteles filsuf Yunani, tentang kebahagiaan manusia sebagai tujuan hidup, bawasannya kebahagiaan adalah kebaikan. Bukankah menikah adalah sebuah kebaikan yang nyata?

Di mana tujuan hidup paling puncak adalah kebahagiaan dan ketika dalam keluarga saling mencukupi hidup satu sama lain dengan kebersamaan? Bukankah menikah dapat pula menjadi suatu jalan kebahagiaan bagi manusia?

Kenyataannya kini, generasi saat ini adalah generasi pemikir yang hidup sesuai dengan pertimbangan nalar yang dikehendaki atas dasar apa yang sedang dirasakan orang lain melalui expresi media social dalam segala bidang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x