Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Kompasianer

Peminat Sosio-Humaniora dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Selamatkan Ekonomi: Hajatan "Kreatif" Ala Covid

12 Agustus 2020   06:33 Diperbarui: 15 Agustus 2020   07:29 99 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Selamatkan Ekonomi: Hajatan "Kreatif" Ala Covid
ilustrasi: dokpri

"Tidak peduli pandemi covid-19 atau apa pun itu namanya terkait dengan protocol kesehatan, jaga jarak, cuci tangan dan cek suhu. Perkara hajatan adalah perkara umumnya manusia yang dimanusiakan melalui hajat hidup seperti sunat dan pernikahan yang harus tetap diramaikan".

Dimasa yang dibuat sulit ini, tidak dipungkiri banyak sekali orang-orang di desa saya yang galau akibat pandemi covid-19. Tentu kegalauan itu adalah tidak kunjung rampungnya aturan untuk dibebaskan aktivitas seperti biasa mengundang keramaian seperti tradisi menggelar hajatan.

Sudah jalan empat bulan apapun bentuk kermaian seperti hajatan dan lain sebagainya di desa saya, Desa Karangrena, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap tertunda tidak mengadakannya sementara waktu adanya pandemic covid-19.

Perlu diketahui kegalauan orang desa khususnya di desa saya adalah persiapan tanggal hajatan yang dalam hitungan orang jawa sendiri sudah paten, tidak dapat ditunda lagi jika sewaktu belum pada masa pandemi covid-19 sudah direncanakan sebelumnya.

Kalau pun menunggu covid-19 benar-benar sudah usai akan sampai kapan? Pikiran orang-orang awam di desa mungkin tetap dirundung kegalauan. Anak yang sudah saatnya menikah, sudah saatnya sunatan, tetapi tidak kunjung ada keputusan, hajatan secara sederhana pun tetap harus dilakukan.  

Disamping aturan pemerintah masyarakat dapat mengelar resepsi baik pernikahan ataupun sunatan tetapi kecil-kecilan,istilahnya sederhanaan mendapat kelonggran dari pemerintah. Jika ada hiburan yang akan mengiringi hajatan tersebut terpakasa tertunda lebih dahulu masyarakat desa saya semua patuh. Tidak ada hiburan dalam melaksanakan hajatan.

Tetapi namanya di desa dengan tradisi guyub serta rubung-rubung yang sudah membudaya, apakah akan etis, ada tetangga, ataupun saudara mengelar suatu resepsi pernikahan atau sunatan tidak tidak turut meramaikan?

Belum dengan tetangga dekat maupun jauh yang masih sekala desa. Apakah mereka tidak terikat siapa-siapa yang menggelar hajatan tersebut dulu juga pernah kondangan, yang dalam tradisi sendiri kondangan adalah hutang sosial itu tanpa disadari dalam kebudayaan masyarakat kita?

Dengan yang akan mengelar hajatan sendiri, yang sebelumnya memang sudah mengahbisakan uang untuk kondangan, mungkinkah tidak ada hasrat mengembalikan apa yang telah dikeluarkan itu untuk kondangan tersebut? Yang tentunya walaupun hajatan secara sederhana, tetap saja masyarakat ingin undang-undang tetangga, kreabat, serta rekan-rekan untuk mengembalikan kondangannya waktu itu?     

Tidak bolehnya masyarakat hajatan secara besar di desa saya, bahkan ada masyarakat di desa saya yang tetap ngotot hajatan dengan tarub dan meskipun tarub RT yang kategorinya kecil, itu pun oleh pihak kepolisian tetap diminta untuk dibongkar tidak diperbolehkan.

Alasanya yaitu masih ada dimasa pandemic covid-19, tidak boleh menggelar hajatan besar tetapi boleh menggelar resepsi pernikahan dan sunatan diperbolehkan digelar sederhana tanpa keramaian. Namun apakah benar aturan untuk membuat keramaian dari hajatan itu di indahkan masyarakat?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x