Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Esais, Peminat Sosio-Humaniora, bermukim di Cilacap.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Dinamika Hidup Berorganisasi

5 Juli 2020   11:42 Diperbarui: 6 Juli 2020   17:31 218 20 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dinamika Hidup Berorganisasi
Ilutrasi kerjasama tim | Photo by Hannah Busing on Unsplash (unsplash.com/@hannahbusing)

Dalam hal apapun semua dapat disangkal, tetapi terhadap banyak sangkalan-sangkalan itu sepertinya pendapat yang mendekati sebuah kebenaran akan lebih baik untuk diikuti, serta dicermati bagaimana caranya mendapatkan suatu pendapat yang paling bijaksana .

Karena dalam bingkai kehidupan bermasyarakat sendiri yang tergabung dalam sebuah organisasi, semua berlatar belakang antar kemauannya sendiri-sendiri. Namun bentuk dari visi sebuah organisasi, wacananya merupakan bentuk yang disatukan guna mencapai tujuan bersama, yang sebelumnya telah disepakati secara bersama-sama pula.

Untuk itu tidak ada dinamika sosial yang tidak harus dinikmati perjalanannya. Semua adalah bentuk dari sebuah kenikmatan itu, belajar, mengamati, serta menanamkan sebuah mental yang baik dalam menghadapi orang lain didalam sebuah komunitas masyarakat yang mengumpulkan diri dalam wadah organisasi. Dimana perbedaan ide, sikap, serta cara menuju tujuan memiliki keinginannya sendiri-sendiri setiap anggota.

Maka dalam memaknai sebuah "organisasi" merupakan masalah mental, dimana kepatuhan pada aturan, serta saling menghargai pendapat satu dengan lainnya adalah jalan kedewasaan manusia menjadi komunitas masyarakat yang tergabung dalam organisasi.

Memang menjadi catatan penting ketika bergabungnya satu manusia menjadi bagian dalam organisasi tetap, ada tujuan pribadi yang harus terpenuhi. 

Karena bagi saya sendiri yang belum lama masuk dalam sebuah organisasi kemasyarakatan, semua serba perlu berhati-hati, bawasannya tidak semua gagasan atau cara kita dapat dengan mudah mempersuasi orang lain yang ada dalam lingkaran organisasi tersebut.

Perlu diketahui setiap sumber daya manusia memiliki ukurannya sendiri, dimana level kepahaman mereka dalam mencerna suatu cara, gagasan, dan bentuk-bentuk dari tujuan itu tidaklah sama. Belum dengan arogansi ego-ego anggota organisasi, mungkinkah sebuah organisasi bertarung dengan egonya masing-masing anggota dalam hal mengagas sesuatu tidak akan menemui sebuah rintangan?

Jelas disini tidak ada yang lebih penting dari sebuah kesadaran dalam berorganisasi, ditambah organisasi tersebut adalah organisasi yang memproduksi ide-ide sebuah tujuan yang rumit dan penuh dengan tantangan kedepan mencapai sebuah tujuan. 

Ide-ide pasti tertampung, tetapi didalam tampungan ide-ide tersebut, arogansi ego harusah ditekan jika tidak ingin berada didalam ketegangan sesama anggota organisasi yang mempunyai ide tersendiri sama-sama baik untuk organisasi.

Sebab tidak ada yang mudah berhubungan dengan banyak manusia, karena pada hakekatnya penonton dalam arti manusia lain yang tidak masuk didalam lingkaran perkumpulan sebagai wadah anggota organisasi itu pun adalah "pengamat".

Sesekali turut ikut menyumbang suatu ide, kritik, bahkan tidak lain dan bukan sebuah cacian yang dalam ukurannya suatu yang dilakukan terbaik menurut organisasi belum tentu baik menurut penonton yang mengikuti langkah organisasi tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN