Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Penulis - Penulis
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Kamu bintang besar! Apa yang akan menjadi keberuntungan Anda jika Anda tidak memiliki sesuatu yang membuat Anda bersinar? -Friedrich Nietzsche-

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Covid-19 dan Kejengahan Berpikir

2 April 2020   23:12 Diperbarui: 3 April 2020   15:09 401
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi. (sumber: kompas/DIDIE SW)

Maka ancaman apapun, tidak akan pernah mempan dalam pikiran jika manusia memang belum tercukupi kebutuhannya untuk makan.

Kebutuhan makan merupakan distrosi dari pikiran, karena seberapa hebat pemikiran, ia tidak akan pernah jalan ketika perut manusia belum merasa kenyang.

Ketakutan apapun yang timbul dalam semesta wacana pemikiranya memalui media keterpengaruhan, sebenarnya ia hanya mempengaruhi perut-perut manusia yang sudah kenyang dan hidup tanpa kekhawatiran.

Maka kabar yang setiap hari berhembus dimedia sana merupakan alat untuk menyasar orang-orang yang sudah kenyang perutnya tersebut untuk mempengaruhi pikirannya, lalu ia akan memperngaruhi manusia-manusia lain disekitarnya.

Sebagai argument sendiri, apakah dengan berbagai isu ketakutan masyarakat dunia akan virus Covid-19 ini mempengaruhi manusia-manusia yang lapar butuh makan?

Tentu tidak demikian, seseorang yang lapar dan tidak punya apa-apa lagi untuk memenuhi kebutuhan makannya seperti uang, atau bahan makanan misalnya. Tetap manusia akan berontak mencarinya meskipun dengan rasa ketakutan untuk melawan pikirannya sendiri. Begitu pula dengan Negara dimana mereka takut melakukan karantina wilayahnya. 

Mereka adalah Negara-negara lapar yang takut dan khawatir tidak dapat makan atau berjalan hidup dihari depan, yang dalam semesta wacananya sendiri tetap yang dipikirkan adalah ekonomi. Sebab jika negara bangkrut secara ekonomi, meraka orang-orang yang ada di dalam Negara sendiri yang justru sebenarnya takut mati kelaparan.

"Indonesia" juga Negara lapar

Covid-19 dan ungkapan karantina wilayah merupakan satu dari berbagai kata ketakuan pikiran masyarakat Indonesia yang tidak dapat dipisahkan.

Dalam wacananya sendiri, media di indonesia sangat gencar memberitakan kasus covid-19 dengan narasi ketakutan. Tetapi dari sekian banyak pengonsumsi kuat media adalah mereka kelas menengah yang mapan secara ekonomi, memungkinkan perut mereka dapat tetap kenyang walaupun selama setahun ini issu virus corona atau covid-19 tetap berlaku?

Tetapi berbeda dengan kelas bawah yang secara ekonomi sendiri untuk kebutuhan makan sangat rentan. Mana peduli mereka terhadap media, atau tentang omongan tetangga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun