Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Esais, Peminat Sosio-Humaniora, bermukim di Cilacap.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Andai Bukan Generasi Penantang

18 Maret 2020   14:37 Diperbarui: 13 April 2020   08:38 34 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Andai Bukan Generasi Penantang
sumber gambar: channel youtube.com Bang Ghulam

Terpana pada lamunan malam itu, seperti teringiang jauh, semua memang serba berandai-andai. Manusia yang sudah harus melepas, hanya bisa mengandaikan, andai saja harapan itu ada: "seorang manusia penantang" yang ingin melepas masa lajangnya.

Memang perkara menunggu, sampai kapanpun selama seseorang mau menunggu, waktu tidaklah dapat ditentukan, kapan ia akan mengakhiri dalam masa penantianya itu. Disadari atau tidak, bila terus menunggu, manusia hanya akan bergelut pada penantian tanpa ujung, yang hanya akan menjadi sia-sia pada akhirnya.

Namun yang ingin digambarkan, serasa ia memang ingin didekatkan. Jika perempuan digombali lelaki tidak suka, namun diajak serius cenderung bingung, apa kata dari hati lelaki tersebut? Mungkinkah pilihan itu memang sulit untuk dipilih?Sehingga manusia tidak secara cepat dalam menentukan pilihannya sendiri?

Dengan ungkapan lengah sendiri. Dasar dari keberanian adalah niat, yang sebenarnya lahir dari dalam dirinya sendiri, bukan orang lain. Semua lelaki asalkan mereka telah membuat suatu tekad, laksana Gunung pun didaki, Lutan itu disebrangi.

Ini bukan sekedar hanya omong yang pada hakekatnya, semua orang bisa bicara, se-menariknya, se-mampunya, bahakan sedimikian mempesonanya omongan tersebut. Karena semua yang didasari dari hati dengan niat yang sungguh-sungguh, nyatanya memang tidak akan pernah terbagi.

Nada dari kata-kata "Gunung akan didaki, Laut akan disebrangi", bukan karya dari penyair perangakai kata paling masyur namanya di dunia. Sebab begitulah adanya lelaki, nalar yang terkadang sudah tidak dapat dinalar lagi. Dipikir secara terus-menerus, mungkin ujung dari berpikir muaranya tetap, ada pada berpikir kembali tanpa tindakan yang menyudahi, apa-apa yang membuat kegelisahannya tersebut.

Senyatanya manusia sudah kodratnya seperti itu. Mungkin, keyakinan dari moral tersebut adalah pengandai, bagiamanakah ketika kita ditantang menjadi manusia saja? Hidup sebagaimana hasrat yang ingin dijalankannya? Perkara kebaikan dan keburukan, tidak peduli manusia dekat dengan Tuhan atau Setan, karena kesadaran manusia adalah keduanya antara kebaikan dan keburukannya sendiri.

Antara lelaki dan perempuan, dasarnya mereka manusia yang sama. Tidak lebih manusia, bukanlah seorang yang harus mencari pembeda-beda, antara lelaki dan perempuan sebagai simbolis itu. Apapun ungkapan membedakan, hanyalah penyerah yang apa-apanya digantungkan pada persepsi kultural usang dan dominan, bahwa ada yang lemah dan kuat dalam menjadi manusia.

Lelaki seharusnya tidaklah melulu hanya rasionalitas. Begitu pula dengan perempuan, tidak juga dengan dominan perasaannya. Menjadi manusia adalah dualitas tersebut. Kelemahan dalam upaya menjadi keduanya sekaligus, ciri dari manusia yang sebenarnya, ia tidak layak dalam menjalankan dasar manusianya jika hanya satu yang dominan.

Karena situasi tetap dalam permainan gender yang sudah tidak relevan dengan konteks zaman. Namun sungguh kontradiktif luapan-luapan harapan pada hidup ini. Mungkinkah karena pada dasarnya semua orang memilih dengan harapannya sendiri? Bahwa apa-apa yang menjadi pilihan, harus sesuai dengan keadaan imajinasi harapannya?

Sungguh, peradaban kedepan merupakan zaman dari suatu kebingungan besar. Terkadang standart moralitas yang tinggi masih diberlakukan, namun dengan moralitas tersebut, ialah yang merepresi hasrat menjadi manusianya sendiri. Kenyataan pada keinginan reproduksi, semua ditarik ulur oleh kemapanan ekonomi, kemapanan pekerjaan, dan mungkin pada "mapan" dalam pilihan terhadap orang lain yang menjadi standart sebagai sebutan "Cinta" kategorisnya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN