Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Inikah yang Dinamakan Hidup Waras tapi Gila?

18 Januari 2020   08:47 Diperbarui: 18 Januari 2020   23:47 121 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Inikah yang Dinamakan Hidup Waras tapi Gila?
Sumber gambar: Tirto.id

Seperti tidak tergambar jelas dalam angan manusia. Mobil-mobil berlarian seperti tidak akan mencapai tujuan. Tetapi dengan makna dalam berbagai tujuan itu, apakah memang ia layak dituju oleh manusia?

Sore yang dirasa begitu nikmat, mungkin dengan kata ideal yang benar kita idealkan itu, menyandarkan diri pada bentuk ideal haruslah benar-benar menjadi sandaran dalam bersikap, untuk menanggapi berbagai yang "ideal" tersebut---- berdamai didalam imajinasi sebagai manusia itu sendiri.

Biarlah ini menjadi tanda, dalam kemalangan, memang yang terkadang menjadi siksa sebelum manusia masuk neraka paling jahanam disana. Ia harus menerima bahwa; ia selalu disiksa oleh pikirannya sendiri dalam menjadi manusia.

Mungkinkah apa yang dinamakan neraka itu ada didalam realitasnya sendiri bahwa; neraka adalah cara berpikirnya yang menyiksa hidupnya? Dimana pikiran itu tidak pernah berhenti dan membuat kegaduhan jiwa yang tidak mereka ingini?

Malam yang terkadang sangat melelahkan, mengapa dengan ide-ide itu terus saja hilang ketika badan manusia mulai lelah? Namun dalam kelelahan itu, mungkinkah hanya akan menghambat bagai mana daya pikir itu berpikir? Menjadi terlalu berpikir, apakah manusia dapat disebut waras pada akhirnya, yang sebenarnya mereka tersiksa oleh jalan pikirannya sendiri?

Tidak ada hari yang tidak dalam pikiran manusia. Semua hari dalam waktunya adalah pikiran-pikiran itu. Mungkin karena manusia mempunyai pikiran, dan ia harus terus berpikir apa yang perlu dipikir dalam hidupnya? 

Harus-kah manusia itu selalu berpikir dan berpikir diwaktu kehidupannya? Dan bagimana meletakan pikiran itu selain tertidur? Rasanya tidur adalah meditasi yang dilakukan manusia paling efektif untuk mencari ketenangan dalam hidupnya sendiri.

**

Dian memang sedikit ingin bertanya pada dirinya sendiri, mengapa selalu saja ada hari dimana; jalan pikirannya sama sekali tidak membuat ia nyaman menjalani harinya? Laptop, buku, dan air putih, ditambah salak yang ada didepannya, apakah itu dapat menenggelamkan pikirannya untuk lebih bersantai malam ini dengan saraf-saraf otaknya yang tegang?

Pelarian sebagai bentuk pelipur diri memang terkesan atau dikesankan menjadi penting bagi manusia. Berbagai pelarian itu mungkinkah benar bahwa: "Dian lari untuk selalu memperbaiki diri atau justru malah semakin memprosokan diri pada jurang lubang penderitaan"?

Dan tentang pelarian itu, apakah ada pelarian yang benar-benar membangun hidup manusia? Ketika patah, ia bukan harus tumbuh, tetapi harus terus tersirami oleh air supaya ranting-ranting dalam bangunan pohon yang kekeringan ini dapat berdaun kembali. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x