Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Wanita Era Digital, Mungkinkah Tidak Pernah Kesepian?

15 Januari 2020   09:31 Diperbarui: 15 Januari 2020   20:33 134 1 1 Mohon Tunggu...
Wanita Era Digital, Mungkinkah Tidak Pernah Kesepian?
sumber gambar: idntimes.com

Ruang yang tidak kunjung terilhami, sore bagikan awan yang kelabu menghias rapi seperti tatanan batu bata pada bangunan rumah itu. Tetapi senyatanya hidup, akan sampai kapan terus begini? Terus menggantungkan diri pada sesuatu yang diluar diri? Bukan pada apa yang ada didalam diri kita sendiri?

Perenenungan dan setiap perenungannya, selalu saja mendapatkan tanya, akan bagaimana nasib satu manusia ini akan dibawa? Perubahan akan nasib memang diri sendiri yang mengusahakannya, bukan dan tidak pernah orang lain.

Usia yang sudah tidak lagi muda, tidak lain hidup manusia selalu mendambakan teman----teman yang selalu ada, dimana kita menjadi sepasang manusia antara pria dan wanita, yang diharapkan selalu mengobati rasa kesepian masing-masing diwaktu kehidupannya.

Namun apakah rasa kesepian itu benar-benar karena kita ingin mempunyai teman? Mungkinkah hanya karena kita: tidak mampu berdamai dengan rasa sepi, yang suatu saat menghampiri diri kita sendiri?

Tetapi dengan kelajangan yang cenderung soliter disana, apakah ia benar-benar membutuhkan cinta untuk merubah hidupnya? Dan tentang cinta itu, apakah selalu saja disajikan untuk mengurangi rasa kesepian diri manusia masing-masing? Mungkinkan cinta ada untuk seperti itu "kegunaannya" bagi manusia saling mengobati rasa sepi untuk diri?

"Kehidupan, sampai kapan-pun ia dijalani, manusia membutuhkan teman pada akhirnya, yang tidak saja saling mengerti, tetapi saling melengkapi diri, saling dukung-mendukung dalam pengembangan diri masing-masing".

Berbagai ide tentang kata "lengkap", apakah hidup manusia lengkap jika ia punya kekasih? Kekasih sebagai tempat dimana; ia sendiri menggantungakan hidupnya bersama sikap menyandarkan segenap rasa pada kehidupan masing-masing satu dengan lainnya?

Mungkinkah "benar" kekasih dapat membuat kesepian hidup satu manusia berkurang? Atau jangan-jangan memang manusianya sendiri yang hidupnya selalu kurang, dimana ia gagap menanggapi kesepian, lalu membuat suatu yang menarik didalam dirinya untuk supaya: "tidak bosan dengan kesepian itu yang disinyalir dari artikel disana, bahwa: rasa kesepian dapat juga membunuh manusia?

Tentu bukan manusia jika ia tidak punya cara, begitupun cara unik diri dalam menanggapi rasa sepi yang ada didalam dirinya sendiri. Mempunyai kekasih yang masih dipertanyakan dirinya, apa benar hidup harus berkasih antara pria dan wanita untuk berteman selamanya? Lebih khusunya lagi mengurangi rasa kesepian yang ada secara bersama-sama?

Memang seperti sebuah kebenaran, usia yang semakin matang dalam jumlah angka sendiri sangat menyulitkan. Mereka dan kita sangat sulit mencari teman, sebab teman didalam usia 30-an sepertinya tidak akan lagi ada di zaman dimana; "kita manusia hanya bersenang-senang, nongkrong-nongkrong, untuk menikmati kehidupan setiap hari".

Umumnya diusia akan menginjak 30-an dan masih lajang, ia memang akan terasing oleh kehidupan sosial pada akhirnya.  Bersosial dengan orang yang sudah tua di pos ronda seperti riskan, "kita saat ini belum menjadi orang tua".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN